MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Wakil Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ridwan Furqoni, mengajak umat Islam untuk menjadikan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian integral dari ajaran agama.
Demikian ia sampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Jumat (10/04).
Dalam khutbahnya, Ridwan mengawali dengan mengingatkan momentum peringatan Hari Bumi yang jatuh setiap 22 April dan diperingati oleh lebih dari 175 negara. Ia menegaskan bahwa semangat menjaga, merawat, dan melestarikan bumi sejatinya sejalan dengan nilai-nilai Islam.
“Menjaga bumi bukan sekadar isu global, tetapi bagian dari ajaran agama yang kita anut,” ujarnya di hadapan jamaah.
Ridwan menjelaskan bahwa manusia memiliki dua status utama dalam kehidupan, yaitu sebagai hamba Allah (abdullah) dan sebagai wakil Allah di bumi (khalifatullah fil ard).
Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an: “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat: 56). Serta ayat lain: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di muka bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30).
Menurutnya, sebagai khalifah di bumi, manusia memiliki tanggung jawab untuk mengelola, memakmurkan, serta menjaga kelestarian lingkungan agar tercipta kehidupan yang sejahtera dan diridhai Allah.
“Menjaga bumi adalah bagian tidak terpisahkan dari tugas kekhalifahan kita,” tegasnya.
Larangan Merusak Lingkungan
Ridwan juga menegaskan bahwa merusak lingkungan merupakan pelanggaran terhadap ajaran agama. Ia mengutip ayat Al-Qur’an: “Janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56).
Selain itu, ia mengingatkan sejumlah hadis Nabi yang memberikan penghargaan kepada orang-orang yang mampu menghidupkan dan memakmurkan bumi. Salah satunya: “Barang siapa menghidupkan tanah mati, maka tanah itu menjadi miliknya.” (HR. Tirmidzi).
Ridwan menjelaskan bahwa meskipun konteks hadis tersebut bersifat historis, semangatnya tetap relevan, yaitu memberikan apresiasi kepada upaya pelestarian dan pemanfaatan bumi secara produktif.
Lebih lanjut, Ridwan mengutip firman Allah dalam QS. Ar-Rum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia…”
Ia menegaskan bahwa kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini semakin nyata dan kompleks dibandingkan masa lalu, sehingga menuntut kesadaran kolektif untuk menjaga keberlanjutan bumi.
“Kita membutuhkan bumi ini tetap lestari, bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk generasi mendatang,” katanya.
Dalam khutbahnya, Ridwan mengidentifikasi dua tantangan utama dalam menjaga lingkungan. Pertama, sifat dasar manusia yang cenderung rakus dan tidak pernah puas, sehingga mendorong eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam.
Ia menggambarkan bahwa kebutuhan biologis manusia sebenarnya terbatas, tetapi keinginan ekonominya tidak pernah berhenti. Hal ini menjadi ancaman serius bagi kelestarian lingkungan.
Kedua, arus pembangunan dan aktivitas ekonomi yang tak terhindarkan turut menimbulkan dampak lingkungan, seperti polusi dan produksi sampah dalam jumlah besar. Ia mencontohkan meningkatnya volume sampah, bahkan di lingkungan masjid selama Ramadan.
“Ini realitas yang tidak bisa dihindari, tetapi harus dikelola dengan bijak,” ujarnya.
Solusi: Kesadaran, Inovasi, dan Konsistensi
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Ridwan menekankan pentingnya keseimbangan antara dorongan negatif (fujur) dan nilai ketakwaan. Ia mengajak umat untuk terus saling mengingatkan melalui berbagai forum keagamaan seperti khutbah, pengajian, dan kajian ilmiah.
Selain itu, ia menekankan pentingnya inovasi dan kreativitas dalam mengatasi persoalan lingkungan sebagai bagian dari muamalah duniawiyah. Manusia, menurutnya, telah diberi akal untuk mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi.
Di tingkat individu, Ridwan mengajak jamaah untuk memulai dari hal-hal kecil namun konsisten, seperti mengurangi produksi sampah dan berkontribusi dalam pengelolaannya.
Ia menutup khutbah dengan mengutip hadis: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten meskipun sedikit.”
“Marilah kita hadir menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah,” pungkasnya.






