MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Jogjakarta Communication Conference (JCC) 2026 tidak hanya menjadi forum akademik, tetapi juga ajang penguatan kolaborasi internasional yang berorientasi pada dampak nyata bagi masyarakat.
Konferensi yang berlangsung pada Rabu–Jumat (15–17/4) ini mempertemukan sekitar 250 peserta dari berbagai negara dan latar belakang, mulai dari akademisi, peneliti, mahasiswa, hingga pembuat kebijakan dan organisasi non-pemerintah. Mereka terlibat dalam diskusi lintas perspektif terkait isu komunikasi global.
JCC diinisiasi oleh Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD), serta telah memasuki tahun ketujuh penyelenggaraan. Sejumlah institusi turut menjadi co-host, di antaranya Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan, Universitas Negeri Surabaya, University of Muhammadiyah Malaysia, Universiti Sains Islam Malaysia, APIK PTMA, serta ASPIKOM.
Direktur Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Muhammadiyah sekaligus Ketua Panitia, Filosa Gita Sukmono, menegaskan bahwa JCC 2026 dirancang tidak hanya sebagai ruang diskusi, tetapi juga sebagai sarana membangun jejaring akademik yang berkelanjutan.
“Kolaborasi lintas negara menjadi kunci dalam menjawab tantangan komunikasi global yang semakin kompleks,” ujarnya dalam keterangan kepada redaksi, Ahad (19/4).
Turut hadir Fajar Junaedi yang memaparkan peran komunikasi di era modern. Dosen Ilmu Komunikasi UMY itu menyampaikan bahwa aktivisme digital mampu mendorong partisipasi aktif warga dalam membangun dan mengelola negara secara lebih baik dan berkelanjutan.
“Di era modern ini, gerakan aktivisme digital mampu mendorong warga untuk berpartisipasi aktif dalam mengelola negara agar menjadi lebih baik,” jelasnya.
Agenda ini juga mendapat apresiasi dari akademisi internasional, di antaranya Arndt Graf, Bahiyah Omar, Bai Long, dan Safiyyah Ahmad Sabri.
Selain itu, Mohd Noh Dalimin turut memberikan testimoni. Ia menilai konferensi ini menunjukkan pentingnya sinergi antarperguruan tinggi dalam menciptakan dampak yang lebih luas bagi masyarakat global, sekaligus membuka peluang kerja sama yang konkret.
Di akhir rangkaian kegiatan, peserta mengikuti benchmarking dengan Universiti Sains Malaysia terkait pengelolaan kegiatan akademik dan pengembangan sumber daya, baik mahasiswa, tenaga kependidikan, maupun dosen. Pendekatan ini menegaskan bahwa JCC 2026 tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi juga mendorong implementasi ilmu komunikasi dalam menjawab kebutuhan nyata di lapangan.
Selain sesi konferensi, JCC 2026 juga menghadirkan agenda pengabdian masyarakat internasional di Rumah Sanggar Bimbingan Permai KULIM dan Sanggar Belajar AMI Penang. Kegiatan ini turut didukung oleh Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Malaysia. Agenda tersebut menjadi bentuk implementasi langsung hasil diskusi akademik ke dalam praktik pemberdayaan masyarakat. (bhisma)






