Selasa, 22 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Iri, Dengki, dan Riya Jadi Penyakit Hati yang Menggerogoti Keimanan

Oleh ilham 4 Menit Min
Iri, Dengki, dan Riya Jadi Penyakit Hati yang Menggerogoti Keimanan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Budi Jaya Putra, mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan hati dari penyakit batin seperti iri, dengki, riya, sombong, gibah, dan namimah dalam ceramahnya di Masjid KH Sudja Yogyakarta, Senin (20/04).

Menurutnya, penyakit-penyakit hati inilah yang kerap merusak keimanan seseorang tanpa disadari.

Dalam pengajiannya, Budi menjelaskan perbedaan mendasar antara iri dan dengki. Iri, kata dia, adalah keinginan untuk memiliki sesuatu yang sama seperti yang dimiliki orang lain. Seseorang melihat orang lain memiliki mobil, rumah, atau keberhasilan tertentu, lalu ia juga ingin merasakannya.

Namun, ketika perasaan itu naik tingkat menjadi dengki, maka bukan hanya ingin memiliki, tetapi juga tidak rela jika orang lain tetap menikmati nikmat tersebut.

“Kalau aku tidak dapat, maka dia juga tidak boleh mendapatkannya. Nah, itu sudah masuk pada tahap dengki,” ujarnya.

Ia mengingatkan bahwa Al-Qur’an secara tegas memerintahkan umat Islam untuk berlindung dari orang yang dengki, sebagaimana firman Allah dalam Surah Al-Falaq: “Dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki.”

Selain itu, ia mengutip Surah An-Nisa ayat 54: “Apakah mereka dengki kepada manusia lantaran karunia yang Allah berikan kepada mereka?”

Menurut penjelasan Imam Ibnu Katsir, lanjutnya, hasad adalah bentuk protes batin terhadap pembagian nikmat Allah. Orang yang dengki sesungguhnya sedang mempertanyakan keadilan Allah dalam memberikan karunia.

“Hasad itu protes kepada Allah atas pembagian nikmat. Dia tidak rela melihat orang lain bahagia,” jelasnya.

Budi juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW: “Jauhilah sifat hasad, karena hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

Ia menegaskan bahwa dengki bukan sekadar dosa ringan, tetapi dapat menghanguskan seluruh amal kebaikan seseorang sebagaimana api melahap habis kayu bakar.

Untuk memberi teladan sebaliknya, Budi mengangkat kisah kaum Anshar yang menerima kaum Muhajirin dengan penuh keikhlasan. Ia mencontohkan kisah Abdurrahman bin Auf yang datang ke Madinah tanpa membawa harta sedikit pun, lalu disambut oleh kaum Anshar dengan tawaran rumah, harta, bahkan keluarga.

Ketika Abdurrahman bin Auf kemudian sukses menjadi saudagar kaya raya, kaum Anshar tidak merasa iri, apalagi dengki.

“Mereka justru bersyukur melihat pendatang bisa sukses di tempat mereka. Itu akhlak yang luar biasa,” katanya.

Sebaliknya, ia menyoroti fenomena masyarakat modern yang mudah sekali terjebak dalam iri dan dengki, terutama melalui media sosial. Unggahan orang lain tentang makanan, perjalanan, ibadah, hingga pencapaian hidup sering kali justru melahirkan prasangka buruk.

“Orang makan dibilang pamer, foto depan mobil dibilang kredit, foto di depan Ka’bah dibilang ria. Padahal kita sendiri tidak makan, tidak beli mobil, dan belum haji. Itu iri atau bukan?” ujarnya disambut tawa jamaah.

Menurutnya, media sosial sering menjadi ladang subur bagi penyakit hati jika tidak disikapi dengan benar. Ia mengingatkan agar tidak terlalu sibuk mengomentari kehidupan orang lain.

“Sosial media itu rumah mereka. Biarkan mereka mengisinya dengan apa pun. Kalau memang ada yang perlu dinasihati, sampaikan secara pribadi, bukan di kolom komentar,” tegasnya.

Ia kemudian menjelaskan tentang riya, yang oleh Rasulullah SAW disebut sebagai syirik kecil. Nabi bersabda: “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Ketika para sahabat bertanya apa itu syirik kecil, Rasulullah menjawab: “Yaitu riya.”

Budi menjelaskan bahwa riya bukan sekadar menampakkan amal, tetapi ketika amal itu dilakukan demi perhatian manusia, bukan demi Allah. Ia mengutip pendapat Imam Al-Ghazali yang menyebut riya sebagai syahwat tersembunyi.

“Orang merasa sedang beribadah, padahal sebenarnya sedang mencari perhatian makhluk,” ujarnya.

Ia juga mengutip Sayyidina Ali bin Abi Thalib yang menyebut tiga ciri orang riya: malas ketika sendirian, rajin ketika di depan banyak orang, bertambah amal ketika dipuji, dan berkurang ketika dicela.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa menampakkan amal seperti sedekah atau ibadah tidak selalu berarti riya. Ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 271: “Jika kamu menampakkan sedekahmu, maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu.”

Menurutnya, yang menjadi tolok ukur bukanlah tampak atau tidaknya amal, melainkan keikhlasan niat.

“Kalau niatnya untuk menginspirasi orang lain berbuat baik, itu bisa menjadi dakwah,” katanya.

Ia bahkan menilai tokoh masyarakat, ustaz, maupun influencer justru perlu menampakkan amal baiknya agar menjadi contoh bagi banyak orang.

“Yang dinilai Allah itu niatnya, bukan update statusnya,” ujarnya.

Selain itu, Budi mengingatkan bahaya kesombongan. Ia mengutip hadis riwayat Muslim: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.”

Kesombongan, lanjutnya, adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia. Sikap seperti merasa lebih tinggi karena gelar, jabatan, atau status sosial termasuk bentuk kesombongan yang sering tidak disadari.

Terakhir, ia membahas gibah dan namimah. Mengutip Imam Nawawi, ia menjelaskan bahwa gibah adalah menyebut sesuatu tentang orang lain yang tidak disukai orang tersebut, baik dengan ucapan, isyarat, ekspresi wajah, maupun simbol.

Sementara namimah adalah menyampaikan keburukan seseorang dengan tujuan merusak hubungan dan menimbulkan permusuhan.

“Kadang bukan ucapan, tapi lirikan mata, ekspresi wajah, itu juga bisa menjadi gibah,” ujarnya.

Budi menutup ceramahnya dengan mengajak jamaah untuk terus memperbaiki diri melalui ilmu dan pengajian. Menurutnya, banyak orang terjatuh dalam dosa-dosa hati bukan karena sengaja, tetapi karena tidak sadar.

“Ngaji itu salah satunya untuk mengingatkan kita. Bisa jadi hari ini kita baru sadar bahwa ternyata itu gibah juga, ternyata itu dengki juga. Maka dari situ kita beristigfar,” katanya.

Tinggalkan Balasan