Senin, 5 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Busyro Muqoddas: Sejak Awal, Peran Politik Muhammadiyah Sudah “Cetho Welo-Welo”

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Busyro Muqoddas: Sejak Awal, Peran Politik Muhammadiyah Sudah “Cetho Welo-Welo”

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Peran Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, khususnya dalam ranah politik kebangsaan, telah tampak jelas sejak organisasi ini didirikan. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, saat mengisi Pengajian Karyawan PP Muhammadiyah pada Kamis (9/4).

Busyro menuturkan bahwa sejumlah tokoh Muhammadiyah seperti KH Ahmad Dahlan, Jendral Sudirman, Ki Bagus Hadikusumo, Ahmad Muzakkir, hingga Kasman Singodimedjo merupakan figur penting yang berkontribusi besar dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan bangsa.

Menurutnya, kiprah para tokoh tersebut menjadi bukti nyata bahwa Muhammadiyah tidak hanya bergerak di bidang dakwah dan sosial, tetapi juga memiliki peran strategis dalam perjalanan politik Indonesia.

“Kebesaran Muhammadiyah itu sangat banyak. Secara internal, Muhammadiyah mampu mengantarkan dirinya sendiri, bahkan pada puncaknya turut mengantarkan bangsa ini menuju Proklamasi Kemerdekaan 1945,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa sejak awal berdiri, kontribusi Muhammadiyah dalam pembangunan bangsa maupun dinamika politik nasional sudah sangat jelas. Dalam istilah Jawa, hal itu disebut sebagai cetho welo-welo, yakni terang dan gamblang.

Sebagai contoh konkret, Busyro menyinggung peran tokoh Muhammadiyah dalam perumusan dasar negara. Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, saat itu meminta pandangan kepada Ki Bagus Hadikusumo. Dalam proses tersebut, Ki Bagus tidak sendiri, melainkan bersama Ahmad Muzakkir dan Kasman Singodimedjo.

“Saya sering menyebut mereka sebagai tiga pendekar politik utama dari Muhammadiyah. Dari situ terlihat bahwa peran politik Muhammadiyah sejak dulu memang sudah cetho welo-welo,” jelasnya.

Lebih lanjut, Busyro mengungkapkan bahwa hingga saat ini Muhammadiyah masih diisi oleh individu-individu yang menjunjung tinggi nilai akhlak. Menurutnya, akhlak menjadi fondasi penting, tidak hanya bagi organisasi, tetapi juga dalam kehidupan pribadi, keluarga, hingga sosial, politik, dan ekonomi.

Ia menekankan bahwa akhlak perorangan memiliki dampak luas. Individu yang berakhlak baik akan membentuk keluarga yang harmonis, yang pada akhirnya berkontribusi pada terciptanya kehidupan masyarakat dan bangsa yang sehat.

“Akhlak perorangan yang baik akan membentuk rumah tangga yang baik, dan dari situ akan lahir kehidupan sosial, politik, dan ekonomi yang baik pula,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Busyro juga mengingatkan pentingnya menjauhi sifat kikir dan serakah. Menurutnya, kedua sifat tersebut menjadi sumber berbagai persoalan kehidupan yang berdampak luas.

“Maka jangan bersifat kikir dan serakah. Sifat itulah yang menjerumuskan. Sebaliknya, rasa syukur harus terus ditumbuhkan karena akan membawa pada kesejahteraan, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan berbangsa dan bernegara,” pesannya.

Melalui refleksi sejarah dan penegasan nilai-nilai akhlak tersebut, Muhammadiyah diharapkan terus konsisten mengambil peran strategis dalam membangun bangsa. Tidak hanya melalui kontribusi pemikiran dan gerakan sosial, tetapi juga melalui keteladanan moral warganya, sehingga tetap menjadi kekuatan moral dan intelektual yang relevan dalam menjawab tantangan zaman. (bhisma)

Tinggalkan Balasan