MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta, Hendra Darmawan, mengajak umat Islam untuk belajar dari sejarah panjang Persia atau Iran sebagai pusat peradaban ilmu pengetahuan yang melahirkan banyak pemikir besar dunia Islam.
Hal itu ia sampaikan dalam ceramah bertajuk “Belajar dari Iran sebagai Empire of Mind” di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Ahad (26/04).
Hendra menjelaskan, istilah Empire of Mind atau “raksasa pemikiran” terinspirasi dari buku karya Michael Axworthy yang menggambarkan Iran sebagai negeri dengan pengaruh intelektual yang sangat luas sepanjang sejarah.
Menurutnya, Iran tidak bisa dilepaskan dari warisan besar Persia. Jika umat Islam selama ini akrab dengan sejarah Arab, maka Persia juga memiliki kontribusi besar dalam khzanah keilmuan Islam, mulai dari tafsir, hadis, filsafat, hingga sastra.
Ia menyebut sejumlah tokoh besar keturunan Persia seperti Fakhruddin ar-Razi, Ibnu Malik penulis Alfiyah Ibnu Malik, Suhrawardi, Mulla Sadra, hingga Jalaluddin Rumi yang dikenal luas lewat karya monumentalnya Al-Masnawi. Bahkan, kata dia, Rumi yang selama ini sering diasosiasikan dengan Turki, sejatinya merupakan keturunan Persia.
“Pengaruh Persia sampai ke India Mughal, sampai Turki, sampai Asia. Karena pengaruh yang sangat luas itu, para peneliti Barat menyebutnya sebagai the empire of mind,” ujarnya.
Ia juga menyinggung karya klasik Fariduddin Attar berjudul The Conference of Birds yang sarat dengan kisah-kisah sufistik. Menurutnya, apresiasi dunia Barat terhadap Persia menunjukkan bahwa umat Islam juga perlu mengenali kembali para ilmuwan dan pemikir besar Islam agar tidak merasa inferior.
“Saya selalu bilang di kelas, kenapa kita perlu mengenal ilmuwan-ilmuwan muslim besar yang diakui Barat? Agar kita sebagai muslim tidak minder, tidak inferior, tidak rendah diri. Kita harus bangga karena Islam pernah jaya dan memiliki great tradition,” katanya.
Selain aspek intelektual, Hendra juga menyoroti situasi geopolitik Iran yang hingga kini terus menjadi perhatian dunia. Ia menyinggung ketegangan politik dan konflik yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah, serta bagaimana negara itu tetap bertahan di tengah embargo panjang sejak sebelum Revolusi Islam 1979.
“Iran sejak sebelum 1979 sudah diembargo, dibatasi, bahkan aset-asetnya dibekukan oleh Amerika. Tapi justru dari situ mereka menyiapkan generasi, membangun ilmuwan, dan memperkuat bangsanya melalui ilmu,” jelasnya.
Menurutnya, salah satu kekuatan Iran terletak pada keseriusan mereka dalam menyiapkan sumber daya manusia. Banyak pemimpin Iran, katanya, berasal dari kalangan akademisi dengan latar belakang doktor dan profesor.
“Mereka membangun kekuatan melalui ilmu. Pemimpin-pemimpinnya adalah orang-orang pilihan dengan kompetensi yang tinggi,” ujarnya.
Hendra kemudian menjelaskan latar belakang Revolusi Islam Iran yang dipimpin Imam Khomeini. Ia menyebut revolusi itu lahir sebagai perlawanan terhadap rezim Syah Pahlevi yang dianggap sebagai boneka Amerika, melakukan kezaliman terhadap umat Islam, dan menghina Islam.
Menariknya, kata dia, Imam Khomeini tidak melawan dengan kekuatan senjata, melainkan dengan kekuatan dakwah dan kata-kata.
“Beliau tidak punya senjata nuklir. Kekuatannya adalah lisannya, ceramahnya, kata-katanya. Ceramah itu dicetak, disalin, lalu disebarkan ke masyarakat. Itulah yang menggerakkan rakyat melawan tirani,” jelasnya.
Ia mengaitkan hal itu dengan hadis Nabi Muhammad SAW: “Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.”
Menurutnya, menyampaikan kebenaran kepada pemimpin yang zalim merupakan bentuk jihad besar yang membutuhkan keberanian, strategi, kekuatan jamaah, dan persatuan.
Dalam kesempatan itu, ia juga menceritakan pengalaman intelektual Dr. Nasir Tamara, seorang jurnalis Indonesia dan alumnus Sorbonne University, yang menulis disertasi tentang Revolusi Islam Iran. Nasir bahkan pernah satu pesawat bersama Imam Khomeini saat kembali dari pengasingan di Prancis menuju Teheran.
Hendra menilai, kisah tersebut menunjukkan bagaimana perubahan besar dalam sejarah sering kali lahir dari kekuatan gagasan, bukan semata kekuatan senjata.
“Kalau orang menyampaikan dari hati, maka akan sampai ke hati. Seorang dai, pemimpin spiritual, ulama, harus punya kedekatan khusus dengan Allah agar seruannya hidup dan menghidupkan,” tuturnya.
Ia lalu mengutip firman Allah dalam Surah At-Taubah dan Al-Anfal yang menegaskan bahwa kemenangan bukan semata karena jumlah besar, tetapi karena pertolongan Allah dan kesiapan umat dalam mempersiapkan kekuatan.
Dalam Surah Al-Anfal ayat 60, Allah berfirman: “Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi.”
Menurut Hendra, ayat ini menegaskan pentingnya umat Islam membangun kekuatan, baik dalam bidang ilmu, teknologi, maupun pertahanan.
“Kalau dulu ada kuda perang, hari ini ada drone, misil, teknologi militer, dan kecanggihan lainnya. Kalau kita punya kekuatan, kita tidak dipandang sebelah mata,” katanya.
Di akhir ceramah, ia mengingatkan kisah Salman al-Farisi, sahabat Nabi asal Persia yang mengusulkan strategi parit dalam Perang Khandaq. Strategi itu menjadi sebab kemenangan umat Islam atas izin Allah.
“Kalau saat itu strategi Khandaq tidak ada, mungkin kita hari ini tidak bisa menikmati indahnya Islam. Salman al-Farisi, seorang Persia, memberi pelajaran bahwa ilmu, strategi, dan keberanian berpikir sangat menentukan nasib umat,” pungkasnya.






