Selasa, 22 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Apa yang Dilakukan Jamaah Haji Ketika Wukuf di Arafah?

Oleh ilham 2 Menit Min
Apa yang Dilakukan Jamaah Haji Ketika Wukuf di Arafah?

Wukuf di Arafah merupakan rukun terpenting dalam ibadah haji. Rasulullah Saw menegaskan bahwa inti haji adalah wukuf di Arafah. Karena itu, jamaah haji harus memanfaatkan waktu tersebut dengan sebaik-baiknya untuk beribadah, berdoa, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Setelah memasuki waktu wukuf pada tanggal 9 Zulhijah, jamaah dianjurkan mendengarkan khutbah Arafah yang disampaikan oleh imam atau pemimpin rombongan. Khutbah ini berisi nasihat, tuntunan ibadah, serta penguatan ruhani agar jamaah menjalani wukuf dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Setelah khutbah, jamaah melaksanakan salat Zuhur dan Asar dengan cara jamak takdim, yaitu dikerjakan pada waktu Zuhur, masing-masing dua rakaat bagi yang dapat diqasar. Pelaksanaan salat dilakukan dengan satu azan dan dua iqamah. Ketentuan ini menjadi sunnah yang dicontohkan Rasulullah Saw ketika berhaji.

Sesudah salat, waktu wukuf diisi dengan memperbanyak zikir, membaca Al-Qur’an, bertalbiyah, beristigfar, berselawat, serta memperbanyak doa. Hari Arafah adalah hari yang sangat utama sehingga amal saleh pada hari itu sangat dicintai oleh Allah.

Dari Ibnu Abbas ra., Rasulullah saw. bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ يَعْنِي أَيَّامَ الْعَشْرِ، قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِلَّا رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ

“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh pada hari-hari itu lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama Zulhijah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab, “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali dengan sesuatu pun.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan lainnya)

Hari Arafah termasuk dalam sepuluh hari pertama Zulhijah yang memiliki keutamaan besar. Oleh sebab itu, doa-doa pada hari tersebut sangat dianjurkan.

Rasulullah saw. juga menjelaskan keutamaan doa pada hari Arafah:

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَخَيْرُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّونَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah, dan sebaik-baik ucapan yang aku dan para nabi sebelumku ucapkan adalah: Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir.” (HR. at-Tirmidzi)

Zikir tersebut sangat dianjurkan untuk dibaca berulang-ulang selama wukuf, disertai doa-doa yang berisi permohonan ampun, keselamatan, keberkahan hidup, dan husnul khatimah.

Hari Arafah juga merupakan hari pembebasan dari neraka. Allah membanggakan hamba-hamba-Nya yang sedang wukuf kepada para malaikat. Hal ini menunjukkan besarnya kemuliaan hari tersebut.

Dari Aisyah ra., Rasulullah saw. bersabda:

عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ، وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ

“Tidak ada satu hari pun yang Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka selain hari Arafah. Sesungguhnya Allah mendekat lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat seraya berfirman: Apa yang mereka kehendaki?” (HR. Muslim)

Karena itu, saat wukuf hendaknya dipenuhi dengan taubat yang sungguh-sungguh. Jamaah hendaknya menyesali dosa-dosa yang telah lalu, memperbanyak istigfar, dan memohon ampunan kepada Allah dengan hati yang khusyuk dan ikhlas.

Referensi:

Pimpinan Pusat Muhammadiyah, “Tuntunan Manasik Haji”, dalam Berita Resmi Muhammadiyah: Tanfidz Keputusan Musyawarah Nasional Tarjih XXVIII, 2015.

Tinggalkan Balasan