MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Nur Kholis, menegaskan bahwa pemahaman terhadap ayat-ayat muhkam dan mutasyabihat dalam Al-Qur’an merupakan fondasi penting agar umat Islam tidak terjerumus dalam kesalahan beragama.
Hal itu disampaikannya dalam Pengajian Tarjih, Rabu (15/4), saat mengulas Surah Ali Imran ayat 7 hingga 9 berdasarkan Tafsir At-Tanwir.
Menurutnya, pembahasan ayat ini tidak dapat dilepaskan dari konteks historis turunnya Surah Ali Imran, khususnya peristiwa kedatangan delegasi Kristen Najran ke Madinah pada tahun ke-9 Hijriah. Rombongan yang berjumlah sekitar 60 orang itu datang menemui Nabi Muhammad saw. di Masjid Nabawi untuk berdiskusi mengenai keyakinan mereka, terutama tentang status Nabi Isa a.s.
“Mereka bersikeras bahwa Isa adalah anak Tuhan atau bagian dari konsep trinitas: Tuhan Bapak, Anak, dan Roh Kudus,” jelas Nur Kholis.
Ia menerangkan, argumentasi delegasi Najran bertumpu pada pemahaman yang keliru terhadap beberapa ayat Al-Qur’an yang menyebut Isa sebagai kalimatullah dan ruhullah. Mereka hanya berpegang pada ayat-ayat yang bersifat mutasyabihat seraya mengabaikan ayat-ayat muhkamat yang secara tegas menolak doktrin trinitas dan menegaskan keesaan Allah.
Sebagai contoh, ia mengutip firman Allah dalam Surah Az-Zukhruf ayat 59:
إِنْ هُوَ إِلَّا عَبْدٌ أَنْعَمْنَا عَلَيْهِ وَجَعَلْنَاهُ مَثَلًا لِبَنِي إِسْرَائِيلَ
“Dia (Isa) tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami beri nikmat kepadanya dan Kami jadikan dia sebagai contoh bagi Bani Israil.”
Menurutnya, ayat ini merupakan ayat muhkam yang jelas maknanya: Nabi Isa adalah hamba Allah, bukan Tuhan maupun anak Tuhan.
Nur Kholis menjelaskan bahwa Surah Ali Imran ayat 7 dibuka dengan penegasan:
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ
“Dialah Allah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu.”
Ayat ini, katanya, menegaskan otentisitas Al-Qur’an sebagai wahyu Allah sebelum menjelaskan klasifikasi ayat-ayat di dalamnya:
مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ
“Di antara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an, dan yang lain mutasyabihat.”
Ia menerangkan bahwa secara umum seluruh Al-Qur’an disebut muhkam karena tersusun sempurna, sebagaimana dalam Surah Hud ayat 1:
كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ
dan seluruh Al-Qur’an juga disebut mutasyabih karena keserasian susunan dan kandungannya, sebagaimana dalam Surah Az-Zumar ayat 23:
كِتَابًا مُتَشَابِهًا
Namun dalam Surah Ali Imran ayat 7, istilah muhkam dan mutasyabih digunakan dalam makna khusus.
“Ayat muhkam adalah ayat yang jelas, pasti, dan menjadi pokok atau induk pemahaman. Sedangkan ayat mutasyabihat adalah ayat yang maknanya tidak langsung jelas dan harus dipahami dengan merujuk kepada ayat-ayat muhkam,” ujarnya.
Ia mencontohkan ayat:
الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
“Yang Maha Pengasih bersemayam di atas Arsy” (QS. Thaha: 5)
yang tidak dapat dipahami secara literal tanpa dikembalikan kepada ayat muhkam seperti:
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya” (QS. Asy-Syura: 11).
Dua Golongan Manusia dalam Menyikapi Al-Qur’an
Nur Kholis menegaskan bahwa ayat ini juga menggambarkan dua kelompok manusia dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Kelompok pertama adalah mereka yang hatinya menyimpang:
فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ
“Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan…”
Mereka, kata dia, sengaja mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk mencari fitnah dan memaksakan takwil sesuai hawa nafsu.
فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ
“Mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan mencari-cari takwilnya.”
“Inilah metodologi yang salah. Mereka mengabaikan ayat pokok dan justru memburu ayat samar demi membenarkan keyakinan yang sudah mereka tentukan sebelumnya,” jelasnya.
Ia menyebut sikap delegasi Najran sebagai contoh nyata bagaimana ayat mutasyabihat disalahgunakan untuk mempertahankan doktrin yang menyimpang.
Berbeda dengan kelompok pertama, kelompok kedua adalah orang-orang yang mendalam ilmunya:
وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ
Mereka menjadikan ayat muhkam sebagai pedoman utama dalam memahami ayat mutasyabih, serta mengimani seluruh Al-Qur’an sebagai wahyu Allah.
يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا
“Mereka berkata: Kami beriman kepadanya; semuanya dari sisi Tuhan kami.”
Nur Kholis menjelaskan bahwa mayoritas mufasir memahami frasa:
وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ
“Tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah”
dengan berhenti pada lafaz Allah, yang berarti hakikat sejati ayat-ayat mutasyabihat hanya diketahui oleh Allah semata.
“Sikap yang benar bukan memaksakan takwil, tetapi beriman kepadanya dan mengembalikannya kepada ayat yang muhkam,” ujarnya.
Kelompok ini disebut rasikhuna fil ‘ilm karena memiliki keteguhan hati, kedalaman ilmu, dan kerendahan diri di hadapan wahyu.
Ilmu yang Benar Melahirkan Kerendahan Hati
Pada ayat 8 dan 9, lanjutnya, Allah menggambarkan doa orang-orang berilmu:
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami…”
Doa ini menunjukkan bahwa ilmu yang mendalam tidak melahirkan kesombongan, tetapi justru rasa takut akan kemungkinan tersesat setelah mendapat petunjuk.
“Orang berilmu tidak merasa aman dari penyimpangan. Mereka justru terus berdoa agar diteguhkan di atas hidayah,” katanya.
Demikian pula pada ayat berikutnya:
رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah yang mengumpulkan manusia pada hari yang tidak ada keraguan padanya.”
Ayat ini menunjukkan kesadaran mendalam akan hari akhir, bahwa seluruh amal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Sebagai penutup, Nur Kholis mengutip penjelasan Imam az-Zamakhsyari dan Imam ar-Razi yang juga dikutip Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar bahwa keberadaan ayat mutasyabihat bukan untuk menutup pintu berpikir, melainkan untuk menambah pahala bagi orang yang bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu.
“Ayat muhkam memberikan keteguhan dan keteduhan iman, sedangkan ayat mutasyabihat mendorong semangat belajar, ketelitian, dan kesungguhan dalam berilmu,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa keberadaan keduanya sekaligus menyadarkan manusia akan keterbatasan akal di hadapan Allah.
“Jadi akal yang benar adalah akal yang tunduk kepada wahyu dan melahirkan amal saleh. Itulah ciri ulul albab yang sesungguhnya,” pungkasnya.






