Jumat, 2 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Al-Fatihah sebagai Peta Kehidupan dan Inti Ajaran Islam

Oleh ilham • • 3 Menit Min
Al-Fatihah sebagai Peta Kehidupan dan Inti Ajaran Islam

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA — Program Khazanah Al-Qur’an yang tayang di TVOne pada Ahad (12/04) menghadirkan kajian mendalam tentang kandungan Al-Qur’an. Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta, Ustaz Nur Fajri Romadhon, mengupas makna Surah Al-Fatihah sebagai pembuka sekaligus inti ajaran Al-Qur’an.

Dalam pembukaannya, Ustaz Nur Fajri menegaskan bahwa Al-Qur’an sejatinya memuat jawaban atas berbagai persoalan kehidupan manusia. Namun, tidak semua jawaban disampaikan secara rinci. Menurutnya, hal ini merupakan bentuk hikmah Ilahi agar manusia tetap berpikir dan berusaha menggali makna.

“Selain itu, jika seluruh persoalan dijelaskan secara detail, maka Al-Qur’an akan menjadi sangat panjang dan sulit dipelajari,” tutur Ustaz Nur Fajri.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Al-Qur’an secara garis besar memuat tiga pokok utama, yaitu akidah, syariah, dan kisah. Ketiga unsur tersebut, kata dia, juga tercermin dalam struktur Surah Al-Fatihah. Bagian awal surah mencerminkan akidah melalui pujian kepada Allah, bagian tengah mengandung pesan syariah melalui komitmen beribadah, sementara bagian akhir memuat kisah sebagai refleksi dari golongan manusia yang diberi nikmat maupun yang menyimpang.

Ustaz Nur Fajri menekankan bahwa Surah Al-Fatihah berfungsi sebagai “peta” dalam memahami Al-Qur’an. Ia mengibaratkan Al-Fatihah seperti sebuah folder utama yang membuka keseluruhan isi Al-Qur’an. Dengan memahami Al-Fatihah, seseorang akan memiliki arah yang jelas dalam menelusuri ayat-ayat lainnya.

Dalam konteks kehidupan modern, ia menyoroti fenomena overload information yang kerap membuat manusia kehilangan arah. Menurutnya, Al-Fatihah memberikan navigasi yang jelas tentang tujuan hidup, yaitu beribadah kepada Allah sebagaimana termaktub dalam ayat “iyyaka na’budu wa iyyaka نستعين”.

Ia menegaskan bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada ritual, tetapi juga mencakup seluruh aktivitas kehidupan seperti bekerja, belajar, dan berinteraksi sosial, selama diniatkan karena Allah.

Ia juga mengingatkan pentingnya keseimbangan antara ibadah ritual dan aktivitas sosial. Mengutip kisah Umar bin Khattab, ia menjelaskan bahwa Islam tidak mendorong umatnya hanya berdiam di masjid tanpa berkontribusi dalam kehidupan sosial. Aktivitas duniawi, jika diniatkan dengan benar, justru menjadi bagian dari ibadah.

Dalam pembahasan ayat demi ayat, Ustaz Nur Fajri menjelaskan bahwa kalimat Bismillahirrahmanirrahim mengandung makna bahwa setiap aktivitas hendaknya diawali dengan kesadaran akan kehadiran Allah. Sementara itu, Alhamdulillahirabbil ‘alamin mengajarkan pentingnya rasa syukur sejak awal aktivitas, bukan hanya di akhir.

Ia juga menyoroti pengulangan sifat Allah sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang sebagai pesan agar nilai kasih sayang menjadi karakter utama dalam kehidupan. Namun demikian, manusia tetap diingatkan akan adanya hari pembalasan (yaumiddin), di mana setiap amal akan dipertanggungjawabkan.

Pada bagian inti, ayat “iyyaka na’budu wa iyyaka نستعين” disebut sebagai pusat dari keseluruhan ajaran Al-Qur’an. Ayat ini menegaskan hubungan antara kewajiban manusia untuk beribadah dan hak untuk mendapatkan pertolongan dari Allah.

Sementara itu, doa “ihdinas siratal mustaqim” dipahami sebagai permohonan utama seorang Muslim, yakni agar senantiasa diberi petunjuk dan keteguhan di jalan yang lurus. Ustaz Nur Fajri menegaskan bahwa doa ini mencakup seluruh kebutuhan hidup manusia, baik yang bersifat global maupun rinci.

Dalam sesi tanya jawab, ia menjelaskan bahwa kewajiban membaca Al-Fatihah dalam salat didasarkan pada hadis Nabi yang menyatakan bahwa salat tidak sah tanpa membaca surah tersebut. Secara hikmah, pengulangan Al-Fatihah dalam salat bertujuan agar seorang Muslim terus memohon konsistensi dalam menjalani kehidupan di jalan yang benar.

Ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak hanya membaca Al-Fatihah secara lisan, tetapi juga memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, ketidaksesuaian antara bacaan dan perilaku menunjukkan kurangnya penghayatan terhadap makna surah tersebut.

Menutup kajian, Ustaz Nur Fajri menegaskan bahwa Al-Fatihah adalah ringkasan dari seluruh ajaran Al-Qur’an. Dengan memahami dan mengamalkannya, seorang Muslim diharapkan mampu menjalani kehidupan yang selaras dengan tujuan penciptaannya, yakni beribadah kepada Allah dalam arti yang luas.

Program ini pun diakhiri dengan doa agar umat Islam senantiasa diberi petunjuk di jalan yang lurus serta mampu mengamalkan nilai-nilai Al-Fatihah dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan