Rabu, 7 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Urusan Pangan Tak Sebatas Isi Perut, Tapi Ada Kebudayaan, Politik, dan Faktor Teologis

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
Urusan Pangan Tak Sebatas Isi Perut, Tapi Ada Kebudayaan, Politik, dan Faktor Teologis

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Urusan pangan ternyata tak sebatas pada aktivitas mengunyah untuk mengenyangkan perut dan menambah energi, tapi lebih kompleks. Sebab pangan saat ini juga jadi strategi kebudayaan.

Faktanya generasi muda Indonesia saat ini lebih banyak mengenal pangan dari Barat sampai Korea. Sementara, panganan lokal tiap-tiap daerah terlupakan. Realitas itu menjadi salah satu dari sekian tantangan urusan pangan kita.

Hall itu disampaikan Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, M. Nurul Yamin pada Senin (16/3) dalam Kajian Itikaf yang diselenggarakan AMM Piyungan, Kabupaten Bantul.

“Sekarang strategi kebudayaan antar negara, di samping melalui perang seperti yang terjadi di Timur Tengah kini, itu adalah dengan budaya pangan,” ungkap M. Nurul Yamin.

Bahkan tak hanya produk atau jenis pangan saja yang berbeda, lebih jauh dari itu gaya atau cara, termasuk pola konsumsi generasi muda Indonesia juga mengalami perubahan yang begitu mendasar.

Masalah lain yang menggelayuti masalah pangan di Indonesia adalah politik pangan, bahkan untuk ini Yamin mengatakan sudah terjadi sejak zaman penjajahan. Politik pangan sampai sekarang juga masih terus berlangsung.

“Masalah pangan ini sangat kompleks, sehingga wajar pangan ini menjadi perhatian serius di dalam Al Qur’an,” katanya.

Pangan berada pada posisi vital kehidupan kemanusiaan ini yang mendorong Muhammadiyah bergerak serius di sektor pangan. Gerakan pemberdayaan oleh Muhammadiyah untuk sektor pangan ini tentu juga didorong faktor teologis.

Dorongan teologis misalnya disebutkan dalam Surat Yusuf ayat 47 dan 48, yang secara spesifik berbicara tentang ketahanan maupun kedaulatan pangan. Termasuk juga dalam Al Baqarah ayat 168 perintah untuk mengonsumsi makanan yang halal dan baik.

Merujuk putusan Muktamar 48, Yamin menjelaskan, Muhammadiyah saat ini memiliki fokus gerakan ke jemaah akar rumput – salah satunya adalah kelompok petani, terlebih petani miskin dan marjinal.

Oleh karena itu, Muhammadiyah melalui MPM PP Muhammadiyah memiliki gagasan besar untuk mengusahakan gerakan Kedaulatan Pangan. Gagasan besar ini kemudian dimulai dengan langkah-langkah kecil.

Tinggalkan Balasan