Selasa, 6 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Syawal Bukan Garis Akhir, Tingkatkan Ibadah Pasca-Ramadan

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
Syawal Bukan Garis Akhir, Tingkatkan Ibadah Pasca-Ramadan

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BANDUNG—Gerakan Subuh Mengaji yang digelar Sabtu (28/03) menghadirkan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat, Ayi Yunus Rusyana, yang menyoroti fenomena menurunnya semangat ibadah umat Islam setelah Ramadan.

Dalam tausiah reflektifnya, Ayi menegaskan bahwa Syawal seharusnya tidak dipahami sebagai garis akhir, melainkan titik awal untuk menjaga bahkan meningkatkan kualitas keimanan.

Ia mengakui, menjaga konsistensi ibadah pasca-Ramadan bukanlah perkara mudah. Banyak orang, kata dia, menganggap Ramadan sebagai “garis finis” setelah sebulan penuh beribadah. Akibatnya, memasuki Syawal, semangat beribadah perlahan menurun. Masjid yang sebelumnya penuh kembali lengang, tilawah Al-Qur’an berkurang, dan semangat sedekah merosot drastis.

“Fenomenanya begitu. Ramadan terasa sempit karena jamaah membludak, tetapi Syawal membuat masjid kembali ‘luas’,” ujarnya.

Ia juga menyinggung data penghimpunan zakat, infak, dan sedekah yang mencapai puncaknya di bulan Ramadan, namun kembali turun di bulan berikutnya.

Menurut Ayi, kondisi ini menunjukkan bahwa sebagian umat masih memandang ibadah sebagai aktivitas musiman. Padahal, Al-Qur’an telah memberikan peringatan keras melalui Surah An-Nahl ayat 92 agar manusia tidak seperti orang yang merusak kembali benang yang telah dipintal kuat. Analogi ini, kata dia, relevan dengan perilaku yang meruntuhkan capaian spiritual setelah Ramadan.

Lebih jauh, Ayi menekankan pentingnya memahami tujuan puasa sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 183, yakni la’allakum tattaqun. Ia menggarisbawahi bahwa kata tattaqun berbentuk kata kerja, yang menunjukkan proses berkelanjutan, bukan hasil instan.

“Takwa itu bukan status yang selesai diraih setelah Ramadan, tetapi proses yang terus dijalani,” jelasnya.

Dalam konteks ini, Syawal justru mengandung makna peningkatan. Mengutip penjelasan ulama klasik Ibnu Manzur dalam Lisanul Arab, Ayi menyebut kata “Syawal” bermakna naik atau meningkat. Oleh karena itu, semangat ibadah setelah Ramadan semestinya tidak menurun, melainkan minimal bertahan atau bahkan meningkat.

Ia kemudian merinci tiga makna utama Syawal: peningkatan amal, memulai kembali kebaikan, dan istiqamah. Menurutnya, konsistensi dalam ibadah jauh lebih dicintai Allah daripada amalan besar yang hanya bersifat sesaat. “Amalan kecil tetapi rutin lebih utama daripada besar tetapi terputus,” ujarnya mengutip hadis Nabi.

Sebagai langkah konkret, Ayi mendorong umat Islam untuk menjalankan puasa enam hari di bulan Syawal. Berdasarkan hadis riwayat Abu Ayyub al-Anshari, puasa tersebut—jika digabung dengan Ramadan—bernilai seperti puasa setahun penuh. Ia menegaskan bahwa puasa ini tidak harus dilakukan berturut-turut, tetapi dapat dilaksanakan kapan saja selama bulan Syawal.

Selain itu, ia menekankan pentingnya menjaga seluruh aspek ibadah, mulai dari salat wajib dan sunah, sedekah, hingga akhlak. Ia juga mengingatkan agar silaturahmi di bulan Syawal tidak berhenti pada formalitas, melainkan menjadi sarana memperkuat ukhuwah, membantu sesama, dan menyelesaikan konflik.

Ayi turut mengutip pandangan Ibnu Qayyim tentang empat hal yang dapat merusak konsistensi, yakni banyak bicara sia-sia, tidak menjaga pandangan, berlebihan dalam makan, dan pergaulan yang buruk. Keempat hal ini dinilai menjadi faktor yang kerap melemahkan semangat ibadah setelah Ramadan.

Sebagai penutup, ia mengajak jamaah untuk melakukan tajdidun niat atau pembaruan niat dalam menjalani ibadah pasca-Ramadan. Ia menekankan bahwa keberhasilan Ramadan tidak diukur dari apa yang dilakukan selama sebulan penuh, tetapi dari keberlanjutan amal di bulan-bulan berikutnya.

“Jangan sampai kita menjadi muslim yang taat hanya di musim Ramadan. Jadikan Ramadan sebagai titik tolak perubahan, bukan garis finis,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan