Jumat, 2 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

PP ‘Aisyiyah Soroti Fatherless, Bunuh Diri, dan Lemahnya Peran Keluarga

Oleh ilham • • 4 Menit Min
PP ‘Aisyiyah Soroti Fatherless, Bunuh Diri, dan Lemahnya Peran Keluarga

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Sekretaris Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Diyah Puspitarini, menyoroti berbagai persoalan serius yang tengah dihadapi anak-anak di Indonesia saat ini. Hal itu ia sampaikan dalam ceramah di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Sabtu (7/3).

Dalam ceramahnya, Diyah mengungkapkan bahwa kondisi anak-anak Indonesia saat ini menghadapi tantangan yang tidak ringan, mulai dari krisis peran keluarga hingga meningkatnya berbagai bentuk kekerasan terhadap anak.

Ia menyampaikan pengalamannya sebagai komisioner di Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Menurutnya, amanah tersebut diberikan oleh Muhammadiyah, dan kini ia telah menjalani tahun ketiga sebagai komisioner.

“Setiap pekan saya bolak-balik Yogyakarta–Jakarta. Senin berangkat ke Jakarta, Rabu atau Kamis pulang ke Jogja, lalu Jumat saya tetap mengajar di UAD. Saya tidak ingin kehilangan satu pahala, yaitu amal jariyah melalui mengajar,” ujarnya.

Diyah menggambarkan bahwa salah satu fenomena paling memprihatinkan adalah meningkatnya kondisi fatherless atau anak yang kehilangan peran ayah dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, fenomena ini bahkan termasuk yang terbesar di Asia Tenggara.

Selain itu, ia juga menyoroti meningkatnya kasus bunuh diri pada anak. Dalam kapasitasnya di KPAI sebagai komisioner yang menangani anak korban kekerasan fisik dan psikis, ia sering terlibat langsung dalam berbagai kasus tragis tersebut.

“Kalau melihat media sosial saya, sering kali saya berada di makam. Banyak anak yang meninggal dunia karena berbagai kasus yang saya tangani,” katanya.

Ia memaparkan data yang dikumpulkan KPAI. Pada tahun 2023 tercatat 46 anak meninggal akibat bunuh diri. Pada 2024 tercatat 43 anak, sementara pada 2025 tercatat 27 anak. Meski jumlahnya menurun, kasus percobaan bunuh diri justru masih cukup tinggi.

Korban berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga sekolah menengah. Namun dalam beberapa tahun terakhir, kasus paling banyak terjadi pada anak usia SMP.

“Yang tidak tercatat sebenarnya lebih banyak lagi,” ujarnya.

Menurut Diyah, penyebab anak mengakhiri hidup tidak pernah tunggal. Berbagai faktor sering kali saling berkaitan.

Beberapa di antaranya adalah perundungan (bullying), pola pengasuhan yang negatif, kemiskinan, hingga persoalan relasi remaja seperti putus cinta.

Ia juga menyinggung pengaruh media digital. Dalam salah satu kasus yang ditanganinya, seorang anak bahkan melakukan bunuh diri sambil melakukan siaran langsung (live streaming).

Diyah juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap beberapa kasus ekstrem seperti filicide (orang tua membunuh anak), parricide (anak membunuh orang tua), dan familicide (pembunuhan satu keluarga).

Ia mencontohkan kasus anak di Medan yang membunuh ibunya. Kasus tersebut sempat menimbulkan keraguan publik karena pelakunya masih duduk di bangku kelas enam SD.

“Saya bahkan sempat dihujat karena mengatakan kemungkinan besar pelakunya memang anak itu sendiri. Tetapi setelah bertemu langsung, ternyata benar,” ujarnya.

Menariknya, menurut Diyah, anak tersebut bukan berasal dari keluarga bermasalah secara ekonomi. Ia dikenal pintar, bahkan hafal Al-Qur’an lima juz dan pernah menjuarai lomba debat bahasa Inggris.

“Ini menunjukkan bahwa persoalan anak tidak selalu berkaitan dengan kemiskinan atau pendidikan rendah,” katanya.

Kekhawatiran terhadap Budaya Digital

Diyah juga menyoroti pengaruh media digital terhadap perilaku anak. Ia mengapresiasi kebijakan pemerintah yang akan membatasi penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun.

Ia mengaku sejak 2023 telah menyampaikan surat kepada pemerintah untuk mengevaluasi sejumlah permainan digital yang dinilai berisiko bagi anak.

Menurutnya, pernah ada dua kasus anak bunuh diri yang diduga berkaitan dengan aktivitas bermain gim daring.

“Di satu kasus, anak melompat dari lantai delapan sekolah di Makassar. Di kasus lain, anak menabrakkan diri ke kereta api. Saat dicek, aplikasi terakhir yang dibuka di ponselnya adalah permainan tersebut,” ungkapnya.

Selain persoalan teknologi, Diyah juga menyoroti menurunnya empati di kalangan anak-anak. Ia mencontohkan fenomena ketika seorang anak jatuh karena dibully, teman-temannya justru menertawakan atau merekam kejadian tersebut, bukan menolong.

Ia juga merasa sedih ketika anak-anak ditanya tentang tokoh yang mereka teladani.

“Banyak yang menyebut tokoh kartun seperti Upin Ipin, tetapi jarang yang menyebut Nabi Muhammad atau bahkan orang tuanya sendiri,” katanya.

Menurut Diyah, konsep pendidikan karakter sebenarnya telah sangat jelas dalam Islam, yaitu melalui akhlak yang dicontohkan Nabi Muhammad.

Ia mengutip hadis yang menyatakan bahwa Nabi diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

Dalam ceramahnya, ia juga menyoroti pentingnya pendidikan keluarga melalui kisah-kisah dalam Al-Qur’an, terutama dalam Surah Luqman ayat 12–18.

Dalam kisah tersebut, Lukman memberikan nasihat kepada anaknya tentang syukur, tauhid, berbakti kepada orang tua, kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi, kewajiban salat, amar makruf nahi mungkar, serta larangan bersikap sombong.

Menurut Diyah, yang menarik dari kisah tersebut adalah metode dialog antara ayah dan anak.

“Anak sebenarnya tidak hanya membutuhkan uang dari ayahnya. Yang paling mereka butuhkan adalah dialog,” katanya.

Ia menilai banyak ayah hadir secara fisik, tetapi tidak hadir secara emosional dalam kehidupan anak.

Keteladanan Ibu

Selain peran ayah, Diyah juga mengingatkan pentingnya keteladanan ibu. Ia mencontohkan kisah Siti Hajar yang berlari antara Safa dan Marwah demi mencari air untuk Nabi Ismail, serta kisah Maryam yang tetap berusaha menggoyangkan pohon kurma meskipun dalam kondisi lemah setelah melahirkan Nabi Isa.

Menurutnya, kedua kisah tersebut menunjukkan ketekunan, usaha, dan tawakal seorang ibu.

Di akhir ceramahnya, Diyah menegaskan bahwa sebagian besar persoalan anak bermula dari konflik di dalam keluarga.

Ia menyebutkan hasil survei di KPAI menunjukkan bahwa banyak anak datang dengan membawa masalah dari rumah, terutama akibat konflik antara ayah dan ibu.

“Kalau orang dewasa punya masalah itu wajar. Tetapi tolong selesaikan secara dewasa, jangan di depan anak dan jangan melampiaskannya kepada anak,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan para mahasiswa yang hadir untuk tetap menjaga hubungan baik dengan orang tua.

“Minimal angkat telepon mereka, tanyakan kabarnya. Hal sederhana itu sangat berarti bagi orang tua,” kata Diyah.

Menurutnya, penyesalan terbesar seseorang sering kali datang ketika kesempatan untuk berbakti kepada orang tua sudah tidak ada lagi.

Tinggalkan Balasan