Selasa, 22 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Milad ke-62 IMM, Irwan Akib: Kader Harus Teguhkan Jati Diri Cendekiawan Berpribadi

Oleh aanardianto 2 Menit Min
Milad ke-62 IMM, Irwan Akib: Kader Harus Teguhkan Jati Diri Cendekiawan Berpribadi

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MAKASSAR – Tepat pada 14 Maret 1964 Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) berdiri, mengemban amanah sebagai organisasi otonom yang bergerak di lingkungan mahasiswa.

Pada momen Milad 62 IMM, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Irwan Akib berharap IMM meneguhkan jati diri cendekiawan berpribadi sebagai pelaku sejarang membangun peradaban.

“Sebagai organisasi kader yang bergerak di lingkungan kemahasiswaan, maka watak kecendekiawanan harus terus melekat pada diri IMM, hadir sebagai sosok Cendekiawan Berpribadi sehingga menuntut ilmu adalah ruh perjuangannya,” kata Irwan Akib dalam keterangan tertulis pada Sabtu (14/3).

Setelah lebih dari setengah abad berdiri, eksistensi IMM diharapkan Irwan Akib sebagai pelanjut estafeta perjuangan Muhammadiyah di masa depan. Oleh sebab itu, IMM juga sebagai gerakan keumatan dan kebangsaan.

IMM hadir memadukan pikir dan zikir dalam setiap gerakannya, membaca dan menelaah, mengkaji  ilmu pengetahuan bagian dari zikir panjang seorang kader IMM.

IMM pun hadir dalam diskusi-diskusi akademik untuk menajamkan pikiran, dan memperluas wawasan bagian dari pikir yang tak pernah berkesudahan dan tentu riset sebagai bagian dari proses akademik pencarian ilmu pengetahuan, dan begitu pun teknologi merupakan sajadah panjang tempat bertafakur mencari cahaya kebenaran.

“Di era yang serba tak menentu ini, IMM yang telah mengikrarkan diri sebagai Cendekiawan Berpribadi, harus selalu hadir sebagai obor penerang dalam kegelapan, hadir dengan ketajaman pikir yang lahir dari hasil kajian dengan metodologi ilmiah dan keluhuran nafas wahyu ilahi,” ungkapnya.

Irwan memandang, kader IMM adalah mereka yang hadir dengan intelektualitas yang dapat  menjadi filter yang jernih di tengah banjir informasi. Ilmu pengetahuan adalah senjata utama untuk membedah ketidakadilan dan merancang masa depan yang mencerahkan semesta.

Di sisi yang lain, di tengah arus polarisasi, di tengah hadirnya fanatisme kelompok dan golongan, kader IMM perlu hadir dengan wajah Islam Wasathiyah. Wajah tengahan ini menjadi kesinambungan identitas sebagai bagian dari Muhammadiyah.

“Kader IMM sebagai Cendekiawan Berpribadi yang hidup di negara kesatuan republik Indonesia (NKRI) ini, tidak boleh melepaskan diri dari tanggung jawab kebangsaan, dan tentu tidak boleh menjadi bagian dari masalah bangsa,” katanya.

Kehadiran kader IMM di berbagai lini, tentu tidak sekadar hadir tetapi hadir dengan misi dakwah persyarikatan di tengah era yang tidak berkepastian. Oleh karena itu para kader IMM perlu menyiapkan diri dengan berbagai keahlian dan keterampilan tentu bekal ilmu dan ketajaman nurani.

Paling tidak kader harus melek teknologi: menguasai kecerdasan buatan (AI) dan data untuk kepentingan dakwah dan kemanusiaan. Mandiri secara ekonomi: Membangun kemandirian melalui kewirausahaan agar gerakan tidak mudah didikte oleh kepentingan politik praktis. Memiliki sifat Inklusif: Mampu berkolaborasi dengan berbagai elemen bangsa tanpa kehilangan jati diri ideologinya.

“Milad ke-62 adalah momentum untuk kembali mengokohkan jati diri sebagai Cendekiawan Berpribadi, terus menggelorakan semangat Ilmu adalah alat perjuangan, dan amal adalah tujuan perjuangan,” ungkapnya.

IMM harus hadir menjadi pembuat sejarah bukan sekedar menjadi objek sejarah. Jadikan setiap sudut dan ruang sebagai ajang melahirkan gagasan besar untuk membangun peradaban, hadir menjadi arsitek yang merancang kejayaan Islam dan Indonesia dengan pena  dan keringat pengabdian.

Tinggalkan Balasan