MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Khutbah Jumat yang disampaikan oleh Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta, Hendra Darmawan, di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan pada Jumat (27/03), menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan pasca-Idulfitri, khususnya di pekan pertama bulan Syawal.
Dalam khutbahnya, Hendra mengingatkan bahwa Ramadan seharusnya tidak berlalu tanpa bekas. Ia mengajak jamaah untuk menjadikan bulan suci tersebut sebagai “madrasah” yang membentuk karakter spiritual yang berkelanjutan.
Salah satu wujudnya adalah dengan terus bermunajat kepada Allah sepanjang waktu, bahkan sepanjang tahun, sebagaimana teladan para sahabat dan tabi’in yang senantiasa memohon agar dipertemukan kembali dengan Ramadan berikutnya.
Ia mengutip sebuah ungkapan hikmah yang menegaskan bahwa hakikat Idulfitri bukan terletak pada pakaian baru, melainkan pada peningkatan ketaatan kepada Allah.
“Bukanlah hari raya itu bagi mereka yang mengenakan pakaian baru, tetapi bagi mereka yang ketaatannya bertambah,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya komitmen terhadap ajaran Allah dan sunah Rasulullah dengan prinsip sami’na wa atha’na—mendengar dan menaati.
Lebih lanjut, Hendra mengangkat konsep ghirah atau semangat kecemburuan positif dalam beragama, sebagaimana diungkapkan oleh Buya Hamka. Menurutnya, rasa “iri” yang dibenarkan adalah ketika seseorang terdorong melihat orang lain lebih taat, lebih berkontribusi dalam perjuangan Islam, dan lebih teguh dalam memegang nilai-nilai agama. Semangat ini, kata dia, harus terus dipupuk sebagai manifestasi keimanan.
Dalam perspektif Al-Qur’an, ia mengingatkan bahwa manusia tidak boleh bersikap tuli dan buta terhadap ayat-ayat Allah. Ayat-ayat tersebut tidak hanya untuk didengar, tetapi juga direnungkan dengan nalar kritis. Ia mengutip firman Allah, “Sanurihim ayatina fil afaq wa fi anfusihim”—bahwa tanda-tanda kebesaran Allah akan diperlihatkan di alam semesta dan dalam diri manusia.
“Oleh karena itu, muhasabah diri menjadi bagian penting dalam memperkuat keimanan, yang tidak cukup hanya diyakini dalam hati dan diucapkan dengan lisan, tetapi harus dibuktikan melalui amal nyata,” ucap Hendra.
Hendra juga menegaskan bahwa iman merupakan nikmat terbesar yang harus dijaga dan diperjuangkan. Ia mengingatkan bahwa kecerdasan atau gelar akademik tidak menjamin seseorang memperoleh hidayah tanpa izin Allah.
Dalam bagian lain khutbahnya, ia menyoroti kondisi dunia kontemporer yang dinilainya mengalami kemunduran moral. Ia mengkritik keras perilaku manusia modern yang dikuasai nafsu kekuasaan dan duniawi hingga mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, bahkan tetap melakukan kekerasan di bulan Ramadan. Ia menyebut fenomena tersebut sebagai bentuk kebodohan dan kemunduran peradaban.
Mengutip penafsiran M. Quraish Shihab, Hendra menjelaskan perbedaan antara an-nubah dan at-taubah. An-nubah diartikan sebagai perpindahan menuju keadaan yang lebih baik tanpa kembali ke kondisi sebelumnya, sedangkan taubat adalah kembali kepada Allah dengan penyesalan yang sungguh-sungguh.
Ia mengajak jamaah untuk menggabungkan keduanya: segera kembali kepada Allah dan berkomitmen untuk tidak mengulangi kesalahan.
Pada khutbah kedua, Hendra mengutip syair hikmah dari Ahmad Shawqi yang mengibaratkan kehidupan sebagai perjalanan panjang di lautan dalam, sehingga manusia harus terus memperbarui “kapal” dan menyiapkan bekal terbaik, yaitu ketakwaan.
Ia juga mengingatkan kisah Perang Hunain sebagai pelajaran penting. Dalam peristiwa tersebut, umat Islam sempat terlena dengan jumlah yang besar, namun justru mengalami kekalahan di awal karena kehilangan ketergantungan kepada Allah. Dari sini, ia menegaskan bahwa kemenangan sejati hanya datang dengan izin Allah, bukan semata-mata karena kuantitas.
Menutup khutbahnya, Hendra mengajak umat Islam untuk tidak hanya berbangga dengan jumlah besar, tetapi juga mempersiapkan kualitas. Ia menekankan pentingnya melahirkan generasi yang tidak hanya mendalami ilmu agama (tafaqquh fiddin), tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi strategis, agar umat Islam mampu berdiri tegak dan berkontribusi dalam peradaban global.
Khutbah tersebut diakhiri dengan doa agar umat Islam senantiasa diberikan kekuatan iman, istiqamah dalam beramal, serta mampu terus memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.






