Ramadan baru saja meninggalkan kita dengan gema takbir yang masih terngiang. Namun, seiring dengan hilangnya hiruk-pikuk berburu takjil dan saf salat Tarawih yang mulai lengang, muncul sebuah tantangan besar, yaitu istiqamah.
Syawal sejatinya adalah “medan pembuktian” apakah madrasah Ramadan yang kita jalani selama sebulan penuh membuahkan hasil atau justru menguap begitu saja.
Secara etimologi, Syawal berarti “peningkatan” (irtafa’a). Maka, sungguh ironis jika grafik ibadah kita justru terjun bebas pasca-Idulfitri. Mengawal ibadah di bulan Syawal adalah tentang merawat benih kebaikan agar tidak layu sebelum berkembang.
Jika di bulan Ramadan kita mampu mengkhatamkan Al-Qur’an, mengapa di bulan Syawal menyentuhnya saja terasa berat? Al-Qur’an tidak diturunkan hanya untuk menjadi “pajangan musiman”. Memelihara bacaan Al-Qur’an, meski hanya beberapa ayat sehari, adalah kunci menjaga cahaya hati. Ingatlah prinsip bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang konsisten.
Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang rutin dilakukan meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Selain itu, salat malam (Qiyamul Lail) yang kita lakukan secara berjamaah dalam bentuk Tarawih adalah latihan fisik dan mental. Di bulan Syawal, kita diajak untuk tetap melaksanakan ibadah ini di sepertiga malam melalui salat Tahajud. Tanpa hiruk-piruk tarawih, Tahajud menjadi ruang privasi yang paling jujur antara hamba dan Tuhannya.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Isra ayat 79:
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَافِلَةً لَّكَ عَسٰٓى اَنْ يَّبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُوْدًا
“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”
Di samping itu, salah satu “pengawal” terbaik bagi ibadah puasa Ramadan adalah puasa enam hari di bulan Syawal. Ini bukan sekadar mengejar pahala setahun penuh, melainkan bentuk syukur dan transisi agar jiwa kita tidak kaget saat kembali ke pola makan normal.
Rasulullah SAW memberikan motivasi besar melalui sabdanya:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
“Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim)
Ada ungkapan bijak dari para salaf: “Jadilah hamba Allah (Rabbani), jangan menjadi hamba Ramadan (Ramadani).” Jika kita hanya beribadah karena Ramadan, maka ibadah itu akan hilang seiring berlalunya bulan. Namun, jika kita beribadah karena Allah, maka Allah itu Kekal dan tak pernah hilang.
Mari kita kawal sisa sebelas bulan ke depan dengan semangat Syawal. Tetaplah membaca Al-Qur’an, hiasi malam dengan sujud, dan basahi lisan dengan zikir. Sebab, tanda diterimanya amal saleh seseorang adalah ketika ia diberikan taufik untuk melakukan amal saleh berikutnya.
Selamat mengawal istiqamah!






