Rabu, 23 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Jika Memungkinkan, Berangkat Menuju Lapangan Salat Id Sebaiknya Berjalan Kaki

Oleh ilham 1 Menit Min
Jika Memungkinkan, Berangkat Menuju Lapangan Salat Id Sebaiknya Berjalan Kaki

Umat Islam dianjurkan untuk menempuh perjalanan menuju lapangan salat Id dengan berjalan kaki. Praktik ini merujuk pada keterangan Ali bin Abi Thalib yang menegaskan kedudukan hukum aktivitas tersebut dalam tradisi kenabian:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ مِنَ السُّنَّةِ أَنْ تَخْرُجَ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَأَنْ تَأْكُلَ شَيْئًا قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ

“Diriwayatkan dari Ali Ibnu Abi Thalib ia berkata: Merupakan sunnah bahwa engkau keluar untuk shalat Id dengan berjalan kaki dan makan sesuatu sebelum keluar.” (HR. at-Tirmidzi, ia menyatakan hadis ini hasan).

Anjuran berjalan kaki ini, selain sebagai bentuk olahraga fisik ringan di pagi hari, juga memberikan kesempatan bagi jamaah untuk saling bertegur sapa dan menghidupkan syiar takbir di sepanjang jalan. Hal ini selaras dengan semangat Idulfitri sebagai hari sosial dan kebersamaan.

Selain cara berangkat, poin yang tidak kalah penting adalah pemilihan rute perjalanan. Rasulullah SAW mencontohkan penggunaan jalur yang berbeda saat berangkat dan saat kembali dari lapangan. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَرَجَ إِلَى الْعِيدِ رَجَعَ فِي غَيْرِ الطَّرِيقِ الَّذِي أَخَذَ فِيهِ

“Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi SAW apabila keluar pergi shalat Id, beliau kembali dengan melalui jalan lain dari yang dilaluinya ketika pergi.” (HR. Ibnu Majah).

Perubahan rute ini memiliki beberapa signifikansi praktis dan maknawi. Pertama, untuk memperluas jangkauan silaturahmi agar jamaah dapat bertemu dan menebar salam dengan orang yang berbeda di jalur yang berbeda pula. Kedua, secara simbolis hal ini menunjukkan luasnya keberkahan hari raya yang menyentuh berbagai sudut wilayah.

Tinggalkan Balasan