Selepas kuliah dan menjadi sarjana, Imron Rivaldi malah jadi wibu. Anime kesukaannya banyak sekali. One Piece, Naruto, Attack on Titan, Demon Slayer, dan Jujutsu Kaisen. Sudah hafal betul. Bahkan anime paling asing sekalipun seperti Ousama Ranking ia tonton dengan penuh perhatian.
Ada beberapa anime yang marketingnya bagus tapi pas ditonton rada kurang kemudian Imron tinggalkan, misalnya, Boruto. Ini mungkin sudah ijmak di kalangan para wibu.
Saking seriusnya nonton anime, Imron mulai kerasukan kosakata-kosakata anime. Suatu ketika ia tiba-tiba lapar. Dengan gaya sok imut, Imron bilang ke mamanya, “Ma, hara hetta~” (artinya “perutku lapar” dalam bahasa Jepang yang childish).
Mamanya cuma melotot sambil nyodorin nasi goreng, “Lapar ya bilang lapar aja, ngapain ribet pake bahasa Bekasi?” (Kenapa jadi Bekasi Imron juga kebingungan, ini emang tipikal keluarga aneh).
Kalau merasa ada sesuatu yang konyol atau kesalahan kecil, Imron langsung refleks bilang “Baka!” sambil menepuk kepalanya sendiri. Teman sepergaulannya pernah nyanyi fals, eh Imron spontan teriak, “Urusai! (Diam!)”. Kalau lagi excited atau berhasil melakukan sesuatu, Imron langsung pose dramatik angkat tangan sambil teriak “Yatta!” atau “Sugoi!”
Nggak berhenti di situ. Imron sekarang punya kebiasaan manggil orang-orang terdekat dengan embel-embel anime. Pernah keceplosan manggil “Senpai!” ke guru ngajinya. Guru ngajinya lagi jelasin surah Al-Fatihah, Imron antusias banget jawab pertanyaan, lalu spontan: “Hai, Senpai! Betul nggak jawabanku?”
Ustadnya cuman melongok karena yang terdengar olehnya adalah ‘semfak’.
Ke keponakan perempuannya yang masih TK, Imron sering manggil “Imouto-chan~” setiap ketemu. Suatu hari keponakannya lagi main boneka, Imron dateng bawa permen, langsung jongkok sambil bilang, “Imouto-chan, nii-nii bawa onigiri rasa stroberi nih! Mau?”
Keponakannya cuma melotot polos, “Nii-nii apaan sih, Om? Kok aneh. Kayak bahasa Trinidad dan Tobago.”
Yang paling epic, pernah ke bapaknya sendiri. Suatu pagi Imron lagi sarapan, bapaknya keluar kamar. Imron tetiba nyeletuk: “Otou-san! Pagi ini nasi gorengnya sugoi desu ne~” sambil angkat jempol.
Bapaknya respon, “Otou-san? Lu panggil siapa, Mron? Ini anak lulusan sarjana kok makin mundur ke zaman kartun.”
Yang paling parah akibat kebanyakan nonton anime ialah Imron selalu merasa dirinya adalah karakter utama. Segala kejadian seolah karena ulah dia. Pernah suatu ketika negara kita mengalami krisis finansial, mulai dari rupiah anjlok, harga beras naik, bensin naik, semuanya naik kecuali gaji.
Imron duduk sendirian di kamar, scroll berita sambil megang mangkok mie instan yang harganya naik lagi minggu ini. Tiba-tiba matanya membelalak. Dia mulai bergumam sendiri. Krisis negara ini rasanya seperti hukuman langsung atas pilihan-pilihan remeh yang pernah dia buat. Dia merasa setiap keputusan kecil dalam hidupnya langsung berdampak ke ekonomi nasional.
Imron semakin mikir keras. Rupiah anjlok gara-gara dia kemarin males banget cuci piring setelah makan malam. Akibatnya piring dan gelas kotor tumpuk di wastafel, energi negatifnya nyebar ke pasar valuta asing, terus investor asing pada kabur dari negeri ini.
Harga beras naik gara-gara Imron pernah diet karbo. Dia nunda makan nasi dua hari berturut-turut. Karena dia skip makan nasi, permintaan beras nasional jadi turun sementara, kemudian para petani panik “wah kok sepi ya”, langsung naikin harga biar untungnya balik, terus efek domino ke seluruh pasar beras gara-gara Imron FOMO pengen diet dadakan.
Harga bensin naik karena dulu Imron pernah kehabisan bensin di jalan. Motor mati total, dia harus dorong sampai rumah. Alam semesta membaca kejadian itu sebagai sinyal krisis energi nasional. Dampaknya adalah harga minyak dunia per barel ikut naik.
Semuanya terasa nyambung banget di kepala Imron. Dia mondar-mandir di kamar, tangan ngeraba kepala.
“Coba kalau dulu aku langsung cuci piring, rupiah mungkin masih kuat. Coba kalau aku nggak diet karbo dadakan, harga beras barangkali akan terus stabil. Coba kalau aku nggak lupa isi bensin, harga bensin nggak naik segini, minyak dunia juga nggak ikut naik. Ini semua gara-gara aku!”
Imron berhenti di tengah kamar, matanya membelalak dramatis seperti karakter shounen yang baru sadar dark past-nya. Dia langsung pose tangan ke dada, suara pelan tapi penuh penyesalan: “Yamerooo! Ore no sei daaa!!” (“Hentikan! Ini semua salahku!!”).
Ia membayangkan kamera berputar pelan mengelilinginya. Musik orkestra imajiner mengalun. Ore wa… kono kuni o kowashita… (“Aku… menghancurkan negara ini…”).
Setelah sadar “ini puncak arc gelapnya”, Imron mulai berubah jadi lebih paranoid. Setiap kali keluar rumah, dia selalu mengawasi sekitar. Mata melirik ke kiri-kanan, ke belakang, ke atap rumah tetangga. Khawatir ada intel pemerintah yang lagi ngintai, atau agen rahasia yang siap tangkap dia karena “dia sekarang musuh negara nomor satu”.
Suatu sore ibunya teriak dari dapur, “Mron! Cepet ke warung beli bawang merah 1 ons, mamah lagi masak!”
Imron langsung membeku di tempat. Matanya menyipit. Bawang merah? Ini terlalu mencurigakan, dalam hatinya. Dia pelan-pelan mendekati pintu, tapi nggak langsung keluar. Baginya, ini bukan permintaan biasa. Ini kamuflase. Akal-akalan pemerintah buat narik dia keluar dari sarang. Bawang merah cuma kode. Kalau aku keluar sekarang, tim Densus 88 pasti langsung nyerbu dari gang belakang. Ini jebakan klasik episode 18 arc krisis nasional, pikirnya. Dia langsung duduk berpose mikir keras ala-ala Shikamaru.
Ibunya yang sudah kesal karena bawangnya lama nggak dateng, akhirnya datang ke kamar Imron. Pintu dibuka keras. “Loh, ngapain lu duduk kayak gitu? Cepet ke warung, bawangnya udah ditunggu!”
Imron kaget, tapi langsung curiga lebih dalam. Kenapa mamah maksa banget ya, jadi makin curiga, hmm. Kalau aku pergi, risiko ditangkap tinggi. Ini pilihan moral level tinggi.
“Cepet pergi ke warung, banyakan mikir!” kata Ibunya.
Akhirnya Imron punya strategi cadangan. Dia berdiri, ambil hoodie hitam dari lemari, pakai masker kain sampai nutupin hidung, lalu tarik tudung hoodie sampai nyaris nutupin mata. “Oke, Mah. Aku pergi. Tapi… ini misi rahasia. Jangan bilang siapa-siapa.”
Ibunya cuma geleng-geleng kepala sambil balik ke dapur mengira anaknya sudah gila, “Misi apaan sih. Beli bawang doang kok ribet amat.”
Imron keluar lewat pintu belakang, muter lewat gang sempit, nunduk-nunduk, sesekali berhenti di balik tembok kalau ada motor lewat. Sampai di warung, dia nggak langsung maju. Ngintip dari balik tiang listrik dulu. Penjual lagi ngitung stok bawang. Masih aman… belum ada sniper di atap.
Imron maju cepat, lempar uang pas ke meja, ambil bawang merah 1 ons, lalu lari kecil pulang sambil nengok ke belakang berkali-kali. Sampai rumah, napas ngos-ngosan, langsung kasih bawang ke mama: “Nih, Mah… misi selesai. Aku selamat.”
Mamanya ambil bawang sambil nyengir. Dalam hatinya mungkin berbisik seraya bertanya-tanya, ini anak kenapa.
Imron tidak mau hidupnya terus diliputi rasa takut. Sebagai pemeran utama, dalam pikirannya langit menggelap, petir menyambar berkali-kali di kejauhan, angin kencang bertiup membuat rambutnya berkibar, dan seluruh dunia seolah menunggu keputusan besar darinya.
“Aku harus melakukan sesuatu. Aku harus menyelematkan negeri ini dari krisis. Berawal dari kesalahanku, harus aku juga yang menyelesaikannya!!!”
Malamnya, sambil rebahan, Imron scroll TikTok tanpa tujuan. Video demi video lewat kayak kucing berantem, orang mukbang mie level pedas, motivator random, sampai akhirnya muncul satu konten sederhana.
Seorang kreator berkata, “Reminder: kamu bukan pusat dunia. Dunia nggak berputar di sekeliling kamu. Kebanyakan orang bahkan nggak kepikiran kamu lagi ngapain.”
Imron berhenti scroll. Diam. Otaknya seperti kena tamparan halus. Ternyata krisis negara bukan karena dia malas cuci piring. Harga beras bukan akibat diet karbonya. Dan pemerintah jelas tidak menyusun operasi rahasia hanya karena dia beli bawang merah.
Imron menghela napas panjang, lalu tertawa kecil. Untuk pertama kalinya, Imron sadar bahwa mungkin hidupnya selama ini terlalu disetir anime. HP dimatikan. Ia menatap langit-langit kamar sambil bergumam, “Kayaknya… aku cuma perlu tidur cukup dan bantu mamah di dapur.”
Arc besar yang ia tunggu-tunggu ternyata bukan penyelamatan dunia—cuma belajar jadi manusia normal lagi.






