Rabu, 23 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Gerhana Bulan, Momentum Muhasabah dan Penyatuan Umat Islam Global

Oleh timredaksi 2 Menit Min
Gerhana Bulan, Momentum Muhasabah dan Penyatuan Umat Islam Global

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Menyampaikan khutbah sekaligus refleksi selepas Salat Gerhana Bulan di Masjid Islamic Center UAD, Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammad Sayuti menegaskan bahwa momentum gerhana bulan bukanlah sekadar peristiwa astronomi, melainkan momentum refleksi spiritual dan intelektual umat.

Mengawali khutbahnya, Sayuti juga turut menyampaikan pentingnya rasa syukur sebagai fondasi kehidupan beragama. Ia menilai bahwa rasa syukur bukan hanya diucapkan melalui lisan semata, melainkan diwujudkan dengan kerja-kerja dan amal nyata dalam membangun kehidupan yang maju.

“Siapa yang bersyukur akan ditambah nikmatnya, sedangkan yang kufur terhadap nikmat akan menghadapi sisa yang pedih,” ucap Sayuti dalam acara yang digelar Selasa malam, (3/3).

Sayuti menyampaikan bahwa malam istimewa ini (turunnya gerhana bulan) akan selalu terjadi di malam hari dan merupakan fenomena alam yang kini dapat dihitung secara ilmiah. Kepastian ilmiah tersebut, sebut sayuti, menjadi bukti nyata bahwa ilmu pengetahuan akan terus berkembang pesat dan mampu memprediksi peristiwa kosmik secara presisi.

Berdasarkan hal itulah, lebih jauh ia turut menyoroti perdebatan yang masih terjadi di tengah umat muslim, khususnya terkait penentuan awal bulan, terutama Ramadan dan Syawal. Perbedaan yang terus berulang setiap tahunnya, jelas Sayuti, menunjukkan bahwa umat masih belum bisa memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan sistem kalender yang terintegrasi.

“Maka dari itu, Muhammadiyah menggagas Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai solusi sekaligus ikhtiar yang bertujuan menghadirkan sistem penanggalan Islam yang bersifat tunggal dan berlaku secara global. Sehingga dengan ini, umat diharapkan tak lagi terpecah dalam menentukan hari-hari besar keagamaan,” jelas Sayuti.

Dengan hadirnya KHGT ini, Sayuti turut berharap bahwa umat Islam dapat melampaui sekat-sekat geografis dan mazhab dalam persoalan waktu ibadah.

“Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua sistem penanggalan ari sekian banyak penanggalan yang ada di seluruh dunia. Karenanya, fenomena gerhana ini seharusnya tak berhenti kepada kekaguman semata. Melainkan mendorong lahirnya kesadaran baru tentang gaimana umat mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap tanda dan kebesaran Allah SWT,” tuturnya.

Belajar dan Memperkaya Literasi Merupakan Kunci Keluar dari Keterbelakangan

Setelah menyoroti fenomena astronomi dan bagaimana dunia berkembang, Sayuti kemudian mengajak umat muslim untuk senantiasa belajar dan memperkaya literasi sains dan teknologi sebagai jalan keluar dari keterbelakangan. Hal tersebut, lanjutnya, juga perlu juga diselaraskan dengan nilai-nilai spiritual.

“Tradisi ijtihad dan pembaruan yang selama ini diwariskan harus terus dihidupkan agar Islam tetap relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Sayuti.

Menutup khutbahnya, Sayuti mengajak umat untuk menjadikan fenomena ini sebagai refleksi sekaligus momentum muhasabah. Menjadikannya motivasi, kesyukuran, pembelajaran, serta momentum untuk bersatu dalam sistem yang kokoh. Dengan begitu, ia meyakini bahwa kerja-kerja keumatan dalam membangun peradaban akan dapat terjalankan secara baik, relevan, dan maksimal. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan