Imron Rivaldi memandang AI (Akal Imitasi) seperti racun tikus yang dibungkus kertas hadiah. Terlihat sangat memikat, tapi mematikan dari dalam. Jadi, ketika undangan resmi dari IPM Gunung Kidul tiba yang mengajaknya jadi pembicara diskusi bertema “AI dan Masa Depan Pelajar”, dia merasa ini panggilan jihad intelektual.
Imron akan menjadikan peristiwa bersejarah ini sebagai kesempatan emas untuk membuka mata para pelajar bahwa mesin pintar ini adalah pengikis daya kritis, pembunuh kreativitas, dan pada intinya bikin otak mandul.
Awalnya Imron membayangkan sebuah forum khidmat, di mana dia akan bercerita sendirian dengan penuh semangat perjuangan tentang dua tahun pengabdiannya pada skripsi. Cerita soal skripsi tanpa AI bisa saja sangat relate dengan peserta. Dia akan cerita bagaimana saat-saat berperang dengan jurnal PDF open acces yang lambat, bertapa di antara rak-rak perpustakaan yang berdebu, dan kemenangan agung yang didapat tanpa sentuhan AI sekalipun.
Pengalamannya menulis skripsi tanpa menggunakan bantuan AI sedikit pun bagi Imron adalah sebuah pembelajaran sejati. Seolah tiap-tiap individu harus belajar dari dirinya.
Namun, langkahnya sedikit terhuyung begitu sampai di halaman gedung pertemuan. Sebuah banner besar menyambutnya. Desainnya ciamik, gradasi warnanya sempurna. Tidak. Ini terlalu sempurna. Di sudut kiri bawah, ada tulisan kecil yang menusuk matanya: “Generated by AI”. Imron menghela napas dalam-dalam.
“Lawan dari dalam,” gumamnya sinis.
Kekesalannya memuncak saat panitia tersenyum sumringah dan berkata, “Kak, maaf sebelumnya, formatnya kita ubah sedikit jadi debat, biar lebih seru. Lawan debat Kak Imron sudah siap di dalam.”
Imron mengangguk kaku, masih berusaha tampil profesional. Debat? Kok nggak disampaikan sejak awal? Ah bodo amat, aku udah kuasai materi soal ini, gumamnya dalam hati.
Pintu ruangan dibuka. Dan di sana, di sebelah mimbar lawan, Imron terhenyak kaget. Dia melihat Dinda Hafsah Mewangi, juniornya dulu di IMM. Perempuan berhijab dengan kacamata tipis itu adalah bagian dari masa lalu yang belum benar-benar selesai. Matanya masih sering muncul di ingatan Imron. Dan, sialnya, juga di hatinya.
Ini jebakan, pikir Imron. Debat bukan cuma soal ide, tapi juga soal perasaan yang belum selesai.
Tanpa pikir panjang, Imron kemudian menghampiri Dinda. Saat keduanya bersalaman, riuh rendah suara “cie-cie” dari peserta yang tahu sejarah mereka membuat suasana makin canggung.
Acara resmi dimulai. Diawali dengan baca Al-Qur’an, kemudian Indonesia Raya bergema. Ketegangan mencapai puncaknya saat menyanyikan Mars IPM. Imron melirik Dinda dengan mata penuh rasa bersalah karena pernah mengecewakannya, sementara Dinda menatap lurus ke depan sambil mengepalkan tangannya dengan binar permusuhan yang dingin.
Debat pun dimulai.
Imron memulai presentasi.
“Teman-teman, izinkan saya bercerita. Dua tahun lalu, saya adalah seorang mahasiswa yang dengan sengaja tidak menyentuh AI. Saya memilih jalur yang lebih berat. Saya habiskan berjam-jam di perpustakaan, jari-jari saya ikut hitam oleh debu dari buku tua, kepala pening oleh layar laptop mencari jurnal. Tapi dari situlah saya belajar: belajar kesabaran, ketelitian, dan yang terpenting, belajar berpikir. Proses meraba dalam kegelapan informasi itulah yang mengasah nalar. AI? No. AI membutakan mata kita terhadap perjalanan dan boleh jadi membuat otak generasi kita mandul. Pekerjaan yang membutuhkan kreativitas dan analisis mendalam akan hilang. Itu harus jadi kekhawatiran kita.”
Suasana penonton suka dengan gaya storytelling Imron. Penonton, yang mayoritas pelajar SMA dan mahasiswa, tampak terdiam. Beberapa mengangguk, merasa tersindir karena tadi pagi baru saja minta bantuan ChatGPT untuk tugas Biologi.
Giliran Dinda. Aura permusuhannya terasa begitu kuat.
“Saya menghargai pengalaman Kak Imron. Tapi, sejarah sudah membuktikan: setiap teknologi baru selalu ditakuti. Dulu, khawatir kalkulator bikin anak bodoh matematika. Khawatir internet bikin malas baca buku. Tapi faktanya? Kita beradaptasi. AI bukan tentang menghindari proses, tapi mengoptimalkannya. Saya menggunakan AI untuk merangkum puluhan jurnal dalam hitungan menit, sehingga saya punya lebih banyak waktu untuk benar-benar menganalisis, mengkritisi, dan mengembangkan argumen. AI membebaskan saya dari kerja administratif yang gitu-gitu aja, sehingga saya bisa fokus pada kerja intelektual yang sesungguhnya. Menolak AI bukan tanda kesalehan intelektual, tapi bisa jadi ketakutan akan perubahan.”
Penonton bertepuk tangan lebih keras. Beberapa cowok di belakang bersorak “Betul!”. Ada yang bisik, “Emang bener sih, masa harus susah-susah kalau bisa gampang.”
Dinda mengambil inisiatif. Merasa semua penonton berada di pihaknya.
“Kak Imron bilang AI menghilangkan pekerjaan. Tapi dulu, penemuan mesin jahit justru membuka industri fashion. Menciptakan lebih banyak desainer, pola, dan model. AI akan ciptakan pekerjaan baru yang kita belum bisa bayangkan.”
Imron membantah dengan suara sedikit meninggi. “Ilusi! Pekerjaan ‘baru’ itu hanya untuk segelintir yang punya akses dan modal untuk belajar coding. Lalu jutaan karyawan administrasi, penulis konten, bahkan tenaga pengajar di Tata Usaha (TU) yang tugasnya bisa pakai mesin, mereka mau dikemanakan? Jadi relawan?”
Suasana berubah. Beberapa peserta yang orang tuanya PNS atau bekerja di bidang administratif mulai terlihat serius. Mereka mengangguk pelan, setuju dengan kekhawatiran Imron. Sorak-sorai mereda.
Dinda tak kehilangan akal. “Dengan logika yang sama, Kak, kita harusnya tolak traktor karena merampas pekerjaan petani dan mereka yang punya kerbau. Toh faktanya, traktor malah membuka lapangan kerja di bidang mekanisasi pertanian. Revolusi Industri menggeser, tapi juga menciptakan. Ketakutan wajar, tapi jangan sampai kita lumpuh dan menutup mata pada peluang.”
Argumen sejarahnya sederhana tapi kuat. Penonton yang tadi khawatir, kini kembali berpikir. Beberapa siswa yang bercita-cita jadi data analyst atau AI ethicist bersemangat. “Iya juga ya,” bisik seorang peserta.
Imron menarik napas dalam, matanya menyipit seperti sedang membidik titik lemah.
“Traktor itu menggantikan otot, Dinda. Sementara AI menggantikan otak. Itu dua hal yang sangat berbeda.”
“Okay, bedanya?”
“Kalau otot kita digantikan mesin, kita masih punya pikiran untuk mengendalikan mesin itu. Tapi kalau pikiran kita sudah didelegasikan ke AI, lantas apa yang tersisa dari kemanusiaan kita? Apakah kita ingin menjadi spesies yang hanya jago bertanya pada mesin, tapi tidak sanggup lagi merumuskan jawaban sendiri?”
Suasana aula mendadak senyap. Kalimat “AI menggantikan otak” itu menghantam kesadaran para pelajar. Ada yang menelan ludah. Ada yang berhenti main HP. Imajinasi mereka langsung lari jauh. Mereka mulai membayangkan sebuah masa depan di mana mereka hanyalah penonton di dunia yang dijalankan oleh algoritma. Beberapa siswa yang tadi penuh percaya diri bilang pengin jadi data analyst sekarang mendadak bengong, bertanya dalam hati—jangan-jangan cita-cita itu punya tanggal kedaluwarsa juga.
Peserta di barisan depan: “Bener juga ya, kalau kita dikit-dikit nanya ChatGPT, lama-lama kita nggak punya pendirian.”
Dinda mencoba menyusun kata-kata yang tepat, akhirnya keluar juga bantahan dari dirinya.
“Kak Imron terlalu sibuk mengkhawatirkan ‘kemandulan otak’, sampai lupa kalau AI justru bisa menjadi katalisator bagi mereka yang punya ide tapi tidak punya privilese waktu.”
“Privilese waktu? Apa itu?”
“Gini, Kak, tidak semua orang punya kemewahan untuk ‘bertapa’ dua tahun di perpustakaan seperti Kakak. Ada pelajar yang harus sambil bekerja, ada yang akses bukunya terbatas. Bagi mereka, AI adalah jembatan menuju kesetaraan informasi. Jadi, apakah Kak Imron sedang memperjuangkan daya kritis, atau sebenarnya hanya sedang mempertahankan eksklusivitas intelektual Kakak?”
Imron tertegun. Kata “eksklusivitas” itu terasa seperti tamparan publik. Aula yang tadinya hanya menjadi medan tempur ideologi, kini mulai tercium aroma emosi yang jauh lebih pekat.
Imron mencoba tetap tenang meski suaranya sedikit bergetar, “Dinda, kamu salah mengartikan proses sebagai privilese. Kesetaraan informasi tidak ada gunanya jika kita kehilangan kemampuan untuk memvalidasi informasi itu sendiri. AI memang tidak pernah lelah, tapi dia juga tidak pernah peduli. Dia hanya memberikan apa yang ingin kamu dengar, bukan apa yang perlu kamu pahami. Kemanusiaan itu tumbuh dari gesekan dengan kesulitan, bukan dari kemudahan yang disuapi.”
Penonton terdiam lagi. Beberapa pelajar yang tadi mengangguk setuju dengan Dinda sekarang mulai gelisah. Seorang anak SMA di baris kedua bergumam pelan ke temannya, “Iya sih… kalau gampang banget, nanti nggak ada rasa bangganya.”
Dinda mendekat satu langkah, suaranya merendah namun tajam.
“Kak Imron, Kakak bicara soal rasa bangga dari perjuangan. Saya mengerti. Tapi izinkan saya bilang satu hal yang mungkin Kakak lupa bahwa… tidak semua perjuangan itu mulia. Ada perjuangan yang sia-sia karena keterbatasan, bukan karena pilihan. Dan AI menghilangkan sia-sia itu. Bagi saya—dan mungkin bagi banyak di sini—AI bukan pengganti perjuangan, tapi penyelamat dari perjuangan yang tidak perlu. Lagipula…” Dinda berhenti sejenak, matanya langsung menatap Imron tanpa berkedip, “setidaknya AI nggak pernah menyakiti hati orang kalau lagi mengecewakan.”
Ruangan langsung hening total. Kata-kata itu seperti tamparan dingin di udara yang sudah panas. Beberapa cewek di baris tengah menutup mulut, mata melebar. Cowok-cowok di belakang saling pandang, ada yang bisik “Waduh… personal banget.”
Imron membeku di tempatnya, wajahnya memucat sesaat. Ia membuka mulut, tapi tak ada suara keluar.
Moderator buru-buru menyela, “Kita… kita lanjutkan sesi tanya jawab ya, biar lebih netral.”
Tapi kerusakan sudah terjadi. Penonton terpecah: sebagian masih setia pada argumen Imron tentang integritas berpikir, sebagian lagi condong ke Dinda yang membela aksesibilitas dan kesetaraan. Yang lain hanya bengong, mencoba mencerna bagaimana diskusi tentang masa depan AI bisa berubah jadi penggalian luka lama di depan ratusan orang.
Imron akhirnya bicara lagi, suaranya pelan, hampir pecah.
“Mungkin… saya memang pernah mengecewakan seseorang. Dan mungkin itu membuat saya takut kalau teknologi juga bisa mengecewakan kita suatu hari nanti—tapi dengan cara yang lebih besar, lebih permanen. Tapi Dinda… setidaknya saya manusia. Saya bisa minta maaf. Sementara AI? Nggak pernah tahu apa itu maaf.”
Dinda tak balas langsung. Ia hanya menatap Imron, mata di balik kacamata tipis itu berkaca-kaca sebentar—lalu ia menunduk, mengatur napas.
Tepuk tangan pelan mulai terdengar, bukan sorak sorai, tapi tepuk tangan yang penuh empati, seperti penonton baru sadar mereka sedang menyaksikan bukan hanya debat, tapi juga rekonsiliasi yang tak sengaja.
Debat belum selesai, tapi untuk pertama kalinya sore itu, keduanya terlihat sama-sama lelah—dan mungkin, sama-sama mulai memahami.






