Sabtu, 26 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Abdul Mu’ti: Ramadan Momentum Menyeimbangkan Dunia dan Akhirat

Oleh timredaksi • • 3 Menit Min
Abdul Mu’ti: Ramadan Momentum Menyeimbangkan Dunia dan Akhirat

MUHAMMADIYAH.OR.ID, BIREUEN – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, mengajak umat Islam untuk menyeimbangkan orientasi kehidupan antara dunia dan akhirat, terutama dalam momentum Ramadan.

Pesan tersebut disampaikan Mu’ti dalam ceramah subuh di Masjid Attaqwa Muhammadiyah Boarding School, Kabupaten Bireuen, Aceh. Ceramah tersebut dihadiri pimpinan daerah Muhammadiyah, pimpinan perguruan tinggi Muhammadiyah setempat, serta anggota ‘Aisyiyah dan jamaah masyarakat sekitar.

Dalam pengantar ceramahnya, Mu’ti menyampaikan rasa syukur dapat bersilaturahmi dengan warga Muhammadiyah dan kaum muslimin di Bireuen pada bulan suci Ramadan.

Ia kemudian mengajak jamaah merenungkan doa yang sering disebut sebagai *doa sapu jagad* dalam Surah Al-Baqarah ayat 201 yang berisi permohonan kebaikan di dunia dan di akhirat.

Menurut Mu’ti, ayat tersebut mengajarkan keseimbangan dalam memandang kehidupan. Sebab dalam ayat sebelumnya terdapat manusia yang hanya meminta kebaikan dunia semata.

“Namun ayat ini mengajarkan kita untuk memohon kebaikan di dunia sekaligus di akhirat. Inilah keseimbangan yang diajarkan oleh Islam,” ujarnya.

Mu’ti menjelaskan bahwa Al-Qur’an memberi pesan kuat tentang pentingnya keseimbangan tersebut. Ia menyebutkan bahwa kata *ad-dunya* dan *al-akhirah* dalam Al-Qur’an masing-masing disebut sebanyak 115 kali.

Menurutnya, kesamaan jumlah tersebut menjadi isyarat bahwa seorang muslim perlu menjaga keseimbangan orientasi hidup antara dunia dan akhirat.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa dalam hierarki nilai, akhirat tetap menjadi tujuan utama. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Qasas ayat 77 yang memerintahkan manusia mencari kebahagiaan akhirat tanpa melupakan bagian dari kehidupan dunia.

“Dunia dan akhirat sama-sama penting. Tetapi secara hierarki, akhirat lebih utama. Kita diperintahkan mendahulukan kepentingan akhirat, tetapi jangan melupakan dunia,” jelasnya.

Dalam ceramahnya, Mu’ti memaparkan beberapa makna kata dunia agar umat Islam dapat memahami hakikat kehidupan secara lebih mendalam.

Pertama, dunia sebagai kehidupan manusia ketika ruh masih berada dalam jasad. Masa hidup manusia, menurutnya, merupakan kesempatan untuk beramal dan beribadah.

Kedua, dunia dalam arti materiil. Kepemilikan harta memang memberi kebahagiaan, namun Al-Qur’an mengingatkan bahwa kenikmatan dunia bersifat sementara dan bisa menjadi ujian.

Ketiga, dunia bersifat fana. Kehidupan dunia pada akhirnya akan berakhir, baik melalui kematian manusia maupun kehancuran alam semesta.

Keempat, dunia sebagai planet bumi tempat manusia hidup dan berkarya. Dalam hal ini manusia diperintahkan untuk memakmurkan bumi dengan cara yang benar.

Kelima, dunia sebagai orientasi kehidupan. Menurut Mu’ti, sebagian orang terjebak pada orientasi jangka pendek dengan mengejar keuntungan sesaat, bahkan melalui cara yang tidak halal.

Setelah menjelaskan makna dunia, Mu’ti menegaskan bahwa akhirat merupakan kehidupan yang jauh, abadi, dan menjadi tujuan akhir manusia.

Al-Qur’an, kata dia, menyebut kehidupan akhirat sebagai kehidupan yang lebih baik dan lebih kekal. Oleh karena itu, dunia seharusnya dipandang sebagai ladang untuk menyiapkan bekal menuju kehidupan akhirat.

“Semua yang kita miliki, baik harta, jabatan, ilmu, waktu, maupun tenaga adalah modal untuk meraih kebahagiaan akhirat,” ujarnya.

Ia mencontohkan bahwa harta dapat menjadi sarana ibadah melalui sedekah, jabatan dapat digunakan untuk kemaslahatan masyarakat, sementara ilmu perlu diamalkan dan diajarkan agar menjadi amal jariyah.

Mu’ti juga menekankan pentingnya investasi jangka panjang melalui pendidikan. Menurutnya, membangun sumber daya manusia merupakan bagian dari ikhtiar menyiapkan generasi yang lebih baik di masa depan.

Ia mengingatkan agar umat Islam tidak meninggalkan generasi yang lemah, baik secara ilmu, ekonomi, maupun moral.

“Pendidikan adalah investasi dunia dan akhirat. Dengan ilmu kita bisa meraih keduanya,” tegasnya.

Mu’ti menutup ceramahnya dengan mengajak umat Islam menjadikan Ramadan sebagai momentum memperkuat keseimbangan orientasi hidup antara dunia dan akhirat, sekaligus menyiapkan generasi masa depan yang unggul melalui ilmu dan amal saleh.

Tinggalkan Balasan