Selasa, 6 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Abdul Mu’ti: I’tikaf Mengajarkan Umat Menepi Sejenak dari Kesibukan Dunia

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Abdul Mu’ti: I’tikaf Mengajarkan Umat Menepi Sejenak dari Kesibukan Dunia

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Memasuki 10 hari terakhir bulan Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak Ibadah, salah satunya adalah melalui pelaksanaan i’tikaf.

Hal itu dijelaskan Abdul Mu’ti Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang menjelaskan bahwa I’tikaf adalah ibadah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya untuk meraih ketenangan batin melalui pendekatan diri kepada Allah.

Merujuk kepada firman Allah dalam Qs. Al Baqarah Ayat 187 yang menyebutkan poin pentik pelaksanaan I’tikaf. Menurut Mu’ti, ayat tersebut mengandung dua makna penting.

“Pertama, orang yang sedang i’tikaf dianjurkan untuk melakukan uzlah atau menghindarkan diri dari berbagai kesibukan duniawi. Termasuk juga menahan diri dari ibadah suami istri selama menjalankan i’tikaf,” jelas Mu’ti dalam siaran Youtube, Jumat, (13/3).

Kondisi uzlah ini penting dilakukan agar seseorang dapat menjauh sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan duniawi, sehingga seseorang akan memperoleh ketenangan batin, kejernihan berpikir, dan fokus dalam beribadah kepada Allah SWT.

Kemudian dalam pemaknaan kedua, Mu’ti memaparkan bahwa secara fikih, beberapa ulama berpendapat bahwa I’tikaf itu dilakukan di masjid.

“Kalau kita kaitkan dengan hadist nabi, disebutkan bahwa nabi selalu menghabiskan 10 hari terakhir bulan ramadan dengan i’tikaf,” ujarnya.

Kemudian melanjutkan pemaparannya, Mu’ti memberikan penekanan penting bahwa esensi utama dari i’tikaf adalah upaya mencari ketenangan hidup melalui kedekatan dengan Allah SWT.

“Dengan berzikir, beritikaf, dan melaksanakan ibadah dengan niat semata-mata mengharap ridha Allah, maka kita akan memperoleh ketenangan,” pungkasnya.

Melalui pemaparan ini, umat Islam di ajak untuk menutup bulan Ramadan dengan hati yang bersih dan pikiran yang jernih. Dengan begitu diharapkan di kehidupan bulan-bulan berikutnya, umat muslim dapat menjalaninya dengan semangat spiritual yang lebih kuat. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan