Kamis, 24 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Tauhid Bukan Sekadar Hafalan, Tapi Energi Peradaban bagi Muhammadiyah

Oleh aanardianto 2 Menit Min
Tauhid Bukan Sekadar Hafalan, Tapi Energi Peradaban bagi Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MAKASSAR – Tauhid murni bagi warga Muhammadiyah merupakan pijakan untuk bergerak di berbagai bidang – termasuk menjadi alasan pendirian sebuah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di berbagai bidang.

Oleh karena itu, tauhid murni bagi Muhammadiyah menurut Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agung Danarto memiliki sisi keikhlasan untuk memberikan yang terbaik bagi umat.

Tauhid murni menurutnya juga harus mampu melahirkan motivasi untuk berjuang. Tauhid bagi Muhammadiyah diterjemahkan dalam aksi-aksi nyata, bukan sebatas hafalan saja.

“Sehingga tauhid yang dikembagkan oleh Nabi Muhammad yaitu keyakinan, kepercayaan, bukan hanya sekadar menghafalkan Allah wujud, kidam, baqa, dan lain sebagainya. Bukan hanya aspek itu,”  ungkap Agung pada Sabtu  (7/2) di Unismuh Makassar.

Agung menjelaskan, tauhid harus menumbuhkan karakter utama dalam kepribadian seorang muslim. Dalam konteks ini, tauhid yang dikembangkan Nabi Muhammad ini memiliki lima karakter utama.

Pertama adalah melahirkan sifat integritas, kejujuran, serta sifat-sifat yang mendorong manusia untuk cenderung berlaku baik dan adil. Tidak menyimpang dari fakta yang semestinya.

Karakter yang kedua adalah semangat literasi atau dorongan untuk selalu belajar (iqra’). Dalam landskap pembangunan peradaban Islam, imbuhnya, literasi ini merupakan urusan yang fundamental untuk membangun peradaban yang kokoh.

“Sehingga dalam membaca itu ada aspek –dimensi riset dan inovasi di situ itu. Sementara kalau tilawah lebih kepada penghayatan spiritual,”  ungkapnya.

Sementara karakter ketiga yang dibangun di atas nilai tauhid murni adalah persaudaraan universal. Sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad yang menghilangkan sekat stratifikasi sosial pada waktu itu.

Persaudaraan universal ini sudah terlihat jelas dibangun oleh Muhammadiyah. Tidak ada keegoan suku maupun primordialisme lainnya. Selain itu, berbagai pelayanan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) juga diberikan kepada semua.

“Semuanya adalah saudara, tidak perlu kemudian saling mengece, saling mencemooh, tapi saling mendukung untuk maju bersama. Itu arahnya persaudaraan universal,”  tuturnya.

Karakter keempat adalah kerja keras dan kemandirian. Kerja keras dan kemandirian ini menjadi etos yang ditanamkan oleh Nabi Muhammad. Maka etos ini harus dibangun di setiap jiwa warga Muhammadiyah.

selanjutnya atau karakter kelima adalah keadilan atau menciptakan keadilan sosial tanpa terkecuali. Bahkan dengan tegas Allah SWT menyebutkan, jangan sampai kebencian mu terhadap kelompok lain menyebabkan berlaku tidak adil.

Tinggalkan Balasan