MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Menguatnya isu wali maupun karomah terjadi pada abad pertengahan Islam (1250-1800), pada masa ini umat Islam mengalami taklid, serta kelompok tasawuf dan tarekat menemukan momen kebangkitannya.
Hal ini disampaikan Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Syafiq Abdul Mughni pada Sabtu (21/2) dalam Materi ke-2 Pengajian Ramadan 1447 H PP Muhammadiyah di Gedung Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Akidah Islam masa pertengahan, kata Syafiq, ahli kalam dan filsafat mengalami kemunduran. Di sisi lain, tasawuf dan tarekat mengalami kebangkitan – khususnya dalam praktis kultus tokoh yang dianggap memiliki karomah atau yang lebih akrab disebut sebagai wali.
“Wali itu sebenarnya sudah ada jauh sejak zaman awal Islam, tapi kemudian diberikan makna berbeda,” kata Syafiq.
Padahal pada masa awal Islam, gelar wali dapat disandang siapa saja asal bertakwa kepada Allah SWT. Gelar wali pada masa awal ini, sambungnya, disandangkan kepada seseorang seperti gelar ulama yang diberikan kepada seorang yang berilmu.
“Namun pada masa ini wali itu sudah menjadi kategori sosial, ada orang yang disebut wali….. maka isu yang muncul ini sekitar kultus. Karena konsep karomah itu berkembang dan terus berkembang,” tuturnya.
Syafiq menjelaskan, pada masa akidah Islam pertengahan, karomah didefinisikan sebagai keanehan atau sesuatu luar biasa yang stratanya di bawa mukjizat. Jika seseorang mendapatkan karomah, status sosialnya naik karena akan dikultuskan oleh umat Islam masa itu.
Situasi ini kemudian direspon oleh Ibnu Taimiyah dengan menulis Kitab “Al-Furqan baina Auliya’ ar-Rahman wa Auliya’ asy-Syaitan”. Kitab ini berusaha menjelaskan perbedaan antara karamah yang diberikan Allah, dengan karamah tipu daya setan.
Beberapa kitab tentang karamah yang ditulis Ibnu Taimiyah, kata Syafiq, diarahkan untuk menyindir maupun mengcounter narasi dan ajaran dari Tarekat Rifa’iyah yang merupakan tarekat sufi, yang memang berkembang begitu pesat pada abad ke 12 di Irak selatan.
Pada titik ekstrim lainnya, Syafiq menjelaskan bahwa menguatkan kelompok tasawuf dan tarekat, menyebabkan syariat seperti salat tidak lagi dijalankan oleh umat Islam. Karena merasa sudah sampai pada tingkat wali, dan itu dianggap capaian tertinggi sebagai muslim dan terlepas dari kewajiban syariat.
Cerita-cerita karamah juga dapat ditemukan Manakib Syaikh Abdul Qadir Jaelani. Meskipun demikian, menguatkan kelompok tasawuf dan tarekat ini mendapat perlawanan sengit dari Syaikh Ahmad Sirhindi.






