MUHAMMADIYAH.OR.ID, TUNISIA – Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Tunisia menggelar kajian bertajuk “Dari Surau ke Bangsa: Dialektika Dakwah dan Spirit Amal Shaleh KH. Ahmad Dahlan” yang diselenggarakan secara luring dan diikuti oleh para anggota PCIM Tunisia.
Sebagai tokoh pilar bangsa sekaligus pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan meletakkan dasar gerakan Islam berkemajuan yang bertumpu pada empat pilar utama, yakni pemurnian agama dan akidah, modernisasi pendidikan Islam, personalisasi agama, serta penguatan amal sosial sebagai manifestasi nyata dakwah Islam berkemajuan. Empat pilar inilah yang menjadi fondasi kuat bagi transformasi dakwah dari ruang-ruang ibadah menuju gerakan sosial yang berdampak luas bagi umat dan bangsa.
Ketua PCIM Tunisia, Naufal Sholahuddin, menegaskan relevansi pemikiran KH. Ahmad Dahlan dengan mengutip pandangan pujangga Islam modern, Syaikh Thanthawi Jauhari, dalam karyanya Al-Qur’an wa al-‘Ulum al-‘Ashriyyah:
“Idzā ḍallatil ‘ulamā’u wal umarā’u ‘anis-sawā’is-sabīl, lā yahtadī al-‘ālim al-muta‘allim.”
Menurut Naufal, pernyataan tersebut mengandung makna bahwa apabila ulama dan pemegang kekuasaan menyimpang dari jalan yang benar, maka proses pendidikan dan pembinaan umat pun akan kehilangan arah.
“Hal ini menegaskan bahwa baik dan buruknya masyarakat sangat ditentukan oleh para pendidik dan pemimpin umat,” jelas Naufal dalam rilis yang diterima redaksi pada Selasa (3/2).
Sejalan dengan itu, anggota PCIM Tunisia, Haris Fathurrahman, menambahkan bahwa perjuangan KH. Ahmad Dahlan merupakan visi besar Islam berkemajuan yang dampaknya masih dirasakan hingga hari ini.
“Apa yang diperjuangkan Ahmad Dahlan hingga berdirinya Muhammadiyah adalah perjuangan seorang pemimpin Islam berkemajuan yang selaras dengan kebutuhan umat,” ujarnya.
Haris menjelaskan bahwa ikhtiar panjang tersebut melahirkan dampak nyata melalui pendirian berbagai amal usaha Muhammadiyah, mulai dari rumah sakit, Darul Aytam, PKU, lembaga pendidikan, hingga perguruan tinggi.
“Oleh karena itu, kokohnya Muhammadiyah beserta kontribusinya yang luas bagi dunia harus terus dilanjutkan sebagai estafet perjuangan warga persyarikatan,” ucap Haris.
Melalui kajian ini, PCIM Tunisia menegaskan komitmennya untuk melahirkan kader-kader “Dahlan muda” di seluruh dunia. Serta juga mengupayakan dalam pembentukan kader yang berilmu, beramal, dan berkepribadian Islam sebagai penguatan dakwah Islam berkemajuan dalam konteks nasional maupun internasional. (Bhisma)






