Senin, 21 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Kultum Ramadan: Ukhuwah di Bulan yang Suci

Oleh timredaksi 3 Menit Min
Kultum Ramadan: Ukhuwah di Bulan yang Suci

Seorang ulama pernah berkata, “Tahukah kalian apakah yang dimaksud dengan persaudaraan itu ?” Persaudaraan adalah satu hati dalam jasad yang berbeda”.

Dalam Islam, persaudaraan adalah nilai utama yang diajarkan dalam banyak ayat dan hadis, yang kemudian lebih populer dengan sebutan “ukhuwah” atau “ikhwah”, yang berkaitan dengan etika dan ajaran luhur hubungan sesama manusia.

Makna Ukhuwah

Ukhuwah dalam bahasa Arab berakar kata dari kata “akhun” yang bermakna saudara. Kemudian berkembang menjadi “ukhuwah” bermakna persaudaraan, dan “ikho’” atau mempersaudarakan. Ikho’ adalah hal pertama yang diajarkan dan dilakukan oleh Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– ketika tiba di Yatsrib (Madinah) ketika hijrah dari Makkah. Ikho’ yang dilakukan Nabi adalah mempersaudarakan dan mempersatukan antara para sahabat Muhajirin (yang hijrah dari Makkah) dan sahabat Anshar (penduduk asli), juga dengan Kaum Yahudi serta beberapa kaum lain yang minoritas kala itu. Ikho’ membentuk sebuah masyarakat majemuk yang memiliki perjanjian untuk saling menjaga dan melindungi layaknya saudara.

Ukhuwah di Bulan Ramadan

Seperti yang telah diketahui, akhir tahun lalu terjadi berbagai bencana di berbagai tempat. Banjir, tanah longsor, gempa, hingga tanah bergerak. Tentu bencana-bencana ini menyebabkan adanya korban jiwa, kerugian harta, dan kehilangan sanak saudara dan kerabat.

Bencana ini tentu menjadi renungan seorang muslim. Bukan hanya terbatas pada kesalehan ritual tetapi juga pada kesalehan sosial. Bulan Ramadan menjadi kesempatan emas yang cukup baik dalam aksi atau perwujudan hasil renungan itu. Kepekaan batin dan sosial seharusnya menjadi bertambah dan terasah.

Setiap muslim perlu menjadikan Ramadan sebagai waktu atau periode kehidupan dalam mengasah hati, sedangkan masjid adalah tempat utama untuk menjadikan kepekaan itu bertambah kuat.

Masjid dan Ramadan adalah ruang dan kesempatan untuk merenung, bermuhasabah diri sekaligus beramal sebagai hasil dari renungan tersebut. Masjid dan Ramadan juga menjadi kesempatan dan ruang untuk mewujudkan amalan Islam yang hakiki, yang mengasah batin sekaligus menebar manfaat secara sosial. Keduanya adalah ruang dan waktu untuk mempraktikkan wujud ukhuwah sebagai ajaran Islam.

Terkhusus tentang ukhuwah, Allah berfirman dalam Al Quran :

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara.” (QS. al-Ḥujurāt: 10)

Kata innamā dalam bahasa Arab adalah alat pembatasan makna (ḥaṣr), yang memunculkan makna yang bisa dipahami bahwa perwujudan identitas keimanan adalah ukhuwah. Mudah bersaudara dengan sesama manusia adalah identitas dan karakter seorang mukmin.

Tentu saja ukhuwah dalam kondisi darurat dimana banyak wilayah di Indonesia sedang mengalami bencana seperti ini tidak terbatas pada persaudaraan antara sesama muslim, justru lebih dari itu, “ukhuwah Islamiyah” adalah persaudaraan bersifat dan berdasar atas nilai-nilai Islam bagi seluruh manusia.

Nabi ﷺ bersabda :

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai dan menyayangi adalah seperti satu tubuh; jika satu anggota sakit, seluruh tubuh ikut merasakan.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan ukhuwah internal sesama muslim, tetapi tidak kemudian disimpulkan bahwa sikap kepada selain muslim tidak berhak mendapat sikap yang sama. Ukhuwah sesama umat Islam yang tepat dan hakiki adalah ketika solidaritas sesama muslim mampu memberikan efek dan kebaikan bagi seluruh manusia.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ

“Siapa yang memberi makan orang yang berpuasa, ia mendapat pahala yang sama.” (HR. Tirmidzi).

Persaudaraan sesama muslim memang menjadi prioritas, tetapi tidak kemudian dimaknai bahwa selain muslim tidak layak mendapat sikap baik dengan nilai persaudaraan.

Adanya musibah di berbagai tempat di tanah air di akhir dan awal tahun adalah momen untuk menguatkan solidaritas moral. Dalam Al-Qur’an diajarkan bahwa adanya musibah sebagai ujian adalah untuk menyaring kualitas iman:

“Apakah manusia mengira mereka dibiarkan berkata ‘kami beriman’ tanpa diuji?”(QS. al-‘Ankabūt: 2).

Al-Qur’an juga mengajarkan bahwa pemisahan antara ibadah dan kepedulian sosial itu adalah kebaikan yang hakiki selain kesalehan ritual :

“Bukan kebajikan itu hanya menghadap ke timur atau barat, tetapi kebajikan adalah… memberi harta kepada kerabat, anak yatim, dan orang miskin.”
(QS. al-Baqarah: 177). (Faruqi)

Tinggalkan Balasan