Malam itu, seperti biasa, Imron Rivaldi lagi rebahan di kamar rumahnya, memeluk bantal guling sambil mata terpaku ke layar laptop. Serial Drama China yang lagi ditonton sudah masuk episode ke-20 dari 30.
Awalnya cuma iseng, gara-gara iklan TikTok yang muncul setiap lima menit sekali. Tapi entah bagaimana, iseng itu berubah jadi candu berat. Imron rela begadang sampai subuh, mata merah, demi menamatkan satu judul saja.
Plot ceritanya? Klise sekali. Intinya selalu sama di mana ada pemilik perusahaan kaya raya, tajir melintir, yang tiba-tiba memutuskan berpura-pura jadi karyawan biasa. Entah supir, office boy, atau cleaning service di perusahaan miliknya sendiri. Alasannya bisa macam-macam, ada yang mau cari cinta sejati yang nggak matre, mau tes loyalitas karyawan, atau sekadar gabut dengan hidup mewah bergelimang harta bersayap uang kertas.
Karakter utamanya juga template banget, pasti selau ada di mana cewek miskin tapi cantik dan keras kepala yang selalu meremehkan si “karyawan biasa” itu. Konfliknya? Sudah bisa ditebak bahkan dari episode pertama. Tapi anehnya, Imron tetap nonton sampai habis.
Sambil ngemil mi instan dingin, Imron sering geleng-geleng kepala sendiri. “Ini mah bodoh banget,” gumamnya dalam hati. “Kenapa sih CEO kaya raya ini nggak langsung ngaku aja dari awal? Labrak aja langsung. Terlalu buang-buang waktu. Buang-buang energi!”
Tapi justru itu yang bikin penasaran. Ada rasa ingin tahu yang menggerogoti tentang bagaimana ya reaksi orang-orang sombong yang selama ini menghina dia, begitu tahu bahwa si “tukang sapu” itu ternyata bos besar?
Dan ketika momen pengungkapan itu tiba–Bhaaapppp–Imron selalu teriak dalam hati: “Hajar balik! Counter attack!” Rasa lega yang hadir setelah itu terasa aneh sekali. Melihat para penjilat dan penghina berbalik 180 derajat, memuja-muja si CEO sambil minta maaf sambil sujud-sujud, entah kenapa bikin puas banget. Padahal ini cuma fiksi, cerita murahan dari negeri tirai bambu. Tapi emosinya terasa begitu nyata.
Keesokan harinya, Imron masih kebawa suasana Dracin semalam. Malam itu, keluarga lagi makan malam bersama di meja makan kecil. Menu sederhana, ada sayur asem, ikan goreng, dan sambal terasi. Bapaknya, Engkus Sanusi Al-Kuseni, duduk di ujung meja sambil kunyah pelan. Ibunya, Iis Komalasari, sibuk nambahin nasi ke piring Imron.
“Pak,” panggil Imron pelan, suaranya dibuat berat.
“Iya, Mron.”
“Ngaku aja. Sampai kapan mau sandiwara begini?”
“Sandiwara apa tuh, Mron. Waduh, Pak, jujur sama Ibu, kamu punya simpanan ya?” ujar Bu Iis tiba-tiba nyaut.
“Kalian ngomong apa sih?” Pak Engkus kebingungan.
“Bukan itu, Bu! Bapak ini CEO! Direktur di perusahaan besar!” seru Imron semangat. “Coba Bapak ingat-ingat lagi, jangan-jangan Bapak ini sebenarnya pewaris tunggal Al-Kuseni Group yang lagi dibuang ke kampung buat belajar arti kehidupan? Ngaku aja, Pak! Kapan asisten pribadi Bapak jemput pakai mobil Rolls-Royce ke sini?”
Pak Engkus menoleh ke istrinya. “Bu, ini anak kenapa sih?”
Bu Iis mengangkat bahu. “Mungkin kebanyakan micin.”
“Mron, dengerin, Bapak kan sejak dulu emang tukang cukur,” ujar Pak Engkus, klarifikasi. “Mron, nama Bapak itu Engkus Sanusi Al-Kuseni. Kusen itu nama kakekmu, tukang gali sumur. Mana ada Group-Group-an. Ngarang aja kamu!”
Imron nggak mau menyerah. Ia menatap Bapaknya.
“Bapak lihat sendiri kan di TV,” kata Imron, suaranya penuh keyakinan. “CEO yang nyamar itu selalu pake alasan klasik. Belajar arti hidup. Mencari cinta sejati. Tes loyalitas keluarga dan karyawan. Nah, Bapak ini nyamarnya paling total. Bahkan udah nyamar jadi diri sendiri! Pinter banget. Salut,” Imron kemudian angkat tangan sambil bilang “absolute cinema”.
“Bapak sehari-hari emang pake kaos oblong, pake sarung, kayak gini. Ini bukan karena lagi akting, emang begini aja produknya, Mron.”
“Lagian Mron,” sahut Bu Iis, “Kalau Bapak pura-pura sederhana gitu ya, masa pura-puranya kelamaan? Udah dua puluh lima tahun lho ini. Kalau ini ujian kesetiaan buat Ibu, masa harus selama itu ngujinya, padahal kan Ibu juga pengen jalan-jalan ke luar negeri kayak Nagita Slavina,” terang Bu Iis.
Imron tak bergeming. Baginya, penyangkalan Bapak adalah bukti betapa hebatnya pelatihan akting yang diterima para petinggi korporat kelas dunia. Setelah makan malam selesai, alih-alih masuk kamar, Imron mulai membuntuti Pak Engkus dengan tatapan menyelidik.
“Lihat, Bu!” bisik Imron ke ibunya yang lagi bersih-bersih sisa nasi di meja. “Cara Bapak cuci tangan itu presisi banget. Sabun digosok merata, bilasnya pakai gerakan melingkar, dan lihat cara Bapak mematikan keran. Sangat elegan. Pasti kebiasaan dari meeting di hotel bintang lima!”
Pak Engkus keluar, tangan masih dikeringkan dengan handuk lusuh. “Apa lagi kamu, Mron?”
Imron nyengir. “Nggak apa-apa, Pak. Cuma salut aja sama dedikasi aktingnya.”
“Aduh, Gusti…” Pak Engkus memijat pelipisnya. “Bu, tolong kasih anakmu obat cacing atau apa kek. Makin parah ini anak.”
Bukannya bela suaminya itu, Bu Iis malah semakin menjadi-jadi. “Kalau dipikir-pikir, iya juga ya. Bapak itu jalannya nggak pernah sempoyongan. Kayak model atau… kayak orang yang punya gedung. Kamu emang se-CEO itu, Pak!”
“Nah kan, bener kan apa yang kubilang, Bu?”
“Masuk akal sih, Mron.”
“Udah ah, Bapak mau istirahat, mau tidur.”
“Lihat, Bu! Cara ngomongnya aja tegas banget!” bisik Imron ke Ibunya. “Fix, ini aura-aura pemimpin yang lagi menyembunyikan kekuatan.”
Baru saja Imron mau melangkah ke kamar buat lanjutin episode ke-21, pintu kamar orang tuanya kebuka sedikit lagi. Pak Engkus tiba-tiba nyembul dari balik pintu, tapi kali ini mukanya beda–serius banget. Dia pegang ponsel jadulnya, mata menyipit melihat layar yang cahayanya masuk kacamata bacanya.
“Mron, sini bentar,” panggil Pak Engkus.
Jangan-jangan si Bapak mau ngaku, pikir Imron.
Pak Engkus mendekat, langsung tunjukin video di beranda Facebook-nya. Video itu penuh infografis norak tentang anak muda jaman sekarang yang tiba-tiba jadi miliarder cuma gara-gara duduk depan laptop. Naratornya heboh sekali ketika cerita soal keajaiban ekonomi digital sama masa depan uang digital.
“Mron, Bapak baru nonton ini. Katanya banyak anak muda jaman sekarang gayanya kayak kamu–rebahan mulu, peluk guling, jarang mandi, tapi diam-diam punya aset miliaran di internet.”
Imron bengong. “Maksud Bapak?”
“Halah, nggak usah akting lagi. Bapak udah curiga sama kamu,” kata Pak Engkus sambil nunjuk laptop Imron. “Gaya pengangguranmu itu terlalu totalitas. Terlalu mencolok. Pasti itu kedok doang buat nyembunyiin kekayaan digitalmu, kan? Biar Bapak sama Ibu nggak minta jatah lebih? Ngaku aja!”
Pak Engkus tatap mata Imron dengan pandangan penuh balas dendam. “Mron, ngaku aja… Kamu punya berapa Bitcoin? Kapan Lamborghini-mu parkir depan kios cukur Bapak?”
Imron melongo, kehilangan kata-kata. Sementara di sudut dapur, Bu Iis tertawa terpingkal-pingkal sambil memegang perutnya. Skor sekarang satu sama: Imron resmi terkena counter attack oleh “CEO” pilihannya sendiri.
Momen “halu” ini, meski konyol, justru terasa seperti bumbu penyedap dalam hidup mereka yang datar. Ada kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan saham mana pun saat mereka bisa menertawakan kesederhanaan hidup. Imron tahu Bapaknya bukan CEO, dan Ibunya tahu suaminya tidak punya aset di luar negeri.
Namun, lewat candaan ini, mereka seolah sedang membangun benteng kebahagiaan sendiri. Menciptakan kedekatan batin ayah-ibu-anak.






