Senin, 21 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Ingin Mematahkan Rekor Haji Thariq

Oleh ilham 4 Menit Min
Ingin Mematahkan Rekor Haji Thariq

Sore itu rumah Moyo Tantular lagi adem-adem saja. Kipas angin berdengung pelan seperti orang mendengkur, bau tanah yang baru saja dibasahi air hujan menyebar di udara, dan Imron Rivaldi selonjoran di sofa sambil skroll TikTok yang tiada habisnya.

Moyo, sang tuan rumah, adalah sosok yang selalu ingin tampil beda. Selera humornya agak sulit dinalar. Baginya, video beruang ngamuk masuk rumah, anak kecil lari kencang lalu kejedot pintu kaca, kucing yang salah lompat dan nyangkut di gorden, sampai video garapan AI nampilin Barcelona menang UCL lagi (UEFA Champion League) adalah contoh-contoh humor tertinggi.

Pokoknya kalau ada orang atau benda yang apes tapi dramatis, itu masuk playlist humor bagi Moyo.

Parahnya, Moyo selalu mengira selera humornya itu universal, jadi suka kirim-kirim video ke orang lain buat minta tanggapan atau reaksi. Seolah-olah semua orang pasti akan ketawa di titik yang sama dengannya, padahal seringnya cuma dibalas stiker ketawa atau emoji nangis terpaksa.

Imron sudah hafal pola ini. Setiap kali Moyo terlihat terlalu antusias, itu pertanda akan ada video “ajaib” yang menurut Moyo layak dikenang sepanjang masa, entah karena lucu, absurd, atau sekadar bikin geleng-geleng kepala.

“Mron, nih, kamu harus liat. Ini epic banget,” kata Moyo sambil nyodorin hape dengan muka sumringah, jempolnya sudah standby di tombol play.

Imron melirik sekilas. Layar masih gelap.

“Apaan sih? Jangan-jangan video sapi masuk sumur lagi.”

“Bukan! Ini level lain. Ini… Haji Thariq.”

Imron menahan tawa di dalam tenggorokan. Bukan karena lucu, tapi dia tahu persis video mana yang bakal diputar. Ini adalah video yang viral dua tahun lalu. Entah kenapa baru sampai di timeline Moyo. Tapi hari ini, sebagai teman yang baik, Imron memilih jadi penonton polos. Pura-pura belum pernah nonton. Pura-pura masih fresh.

Moyo play.

Di layar muncul Bu Geni Faruk duduk santai, Atta dan Thariq di sebelahnya. Bu Geni mulai ngomong dengan nada bangga yang khas ibu-ibu seleb.

“Ngomong-ngomong soal haji, Thariq ini sebenarnya sudah haji loh. Jadi selesai saya nifas dua bulan dia langsung kita boyong ke Makkah bukan untuk umrah tapi haji,” ungkap Lenggogeni Faruk.

“Tapi itu kan belum bisa disebut haji, Mi,” sahut Atta Halilintar sambil nyengir bingung.

“Iya tapi sudah haji Thariq,” tegas Geni.

Moyo langsung nengok ke Imron, matanya berbinar-binar menanti reaksi.

“Gimana, Mron? Gila kan? Bocah dua bulan udah haji! Kamu bayangin rekornya berapa lama bakal bertahan?”

Imron tarik napas pelan, lalu memaksa bibirnya melengkung jadi senyum. Pura-pura ketawa ngakak, suaranya dibikin agak serak biar kelihatan terkesan. Tubuhnya secara sadar digerakkan untuk menyampaikan sinyal bahwa ini tuh lucu banget. Padahal, idiiih, basi kali.

“Haha… iya ya… gila sih. Dua bulan. Rekor dunia kali.”

Sore itu, setelah Moyo akhirnya capek sendiri sama reaksi datar Imron, Imron pamit pulang. Berjalan kaki pelan di jalan basah sisa hujan, pikirannya malah nggak bisa lepas dari video tadi. “Haji Thariq umur dua bulan,” gumamnya dalam hati sambil geleng-geleng kepala. Bukan iri, tapi overthinking level dewa mulai nyala.

Imron benar-benar pulang dengan kepala yang tidak ikut santai. Saat rebahan di kamar, potongan-potongan kalimat Bu Geni itu berputar-putar di kepalanya seperti video TikTok yang tak bisa di-skip. Dua bulan. Haji. Rekor. Waw.

Imron menatap langit-langit kamar, mencoba menghitung-hitung umur, waktu, dan logika, lalu mendapati dirinya justru makin tenggelam dalam pikiran yang absurd.

Padahal, kalau dipikir-pikir, Imron sendiri sudah pernah “pergi haji”. Sudah lama sekali ia thawaf mengelilingi Ka’bah, berlari kecil antara Shafa dan Marwah, melempar jumrah, bahkan sempat rebutan air zamzam. Semua itu ia lakukan dengan penuh kekhusyukan, pakai kain ihram lengkap dengan tas serut kecil yang digantung di leher.

Ya, itu semua terjadi saat manasik haji waktu TK ABA.

Imron lalu teringat pelajaran yang dulu sering ia dengar di pengajian. Haji itu ada rukunnya, ada syaratnya. Ada ihram dengan niat yang jelas, wukuf di Arafah, thawaf ifadah tujuh putaran, sa’i antara Shafa dan Marwah, tahallul dengan mencukur atau memotong rambut, dan tertib dalam mengerjakannya. Ada pula syarat mampu kayak fisik, mental, dan finansial, plus syarat baligh dan berakal sehat. Semua itu rangkaian yang utuh, bukan potongan yang bisa dipilih-pilih.

Dan rasanya sulit membayangkan bayi dua bulan memahami niat ihram, apalagi menahan diri dari larangan ihram ketika popok saja masih jadi urusan utama seharian. Haji bukan soal pernah singgah ke Mekkah, dan gelar “Haji” pun bukan tradisi yang dulu diumumkan oleh Rasulullah Saw. Itu ibadah, bukan titel buat flexing di caption Instagram.

Imron akhirnya menghela napas panjang sambil menatap langit-langit kamar yang gelap. Pikiran overthinking yang tadi berputar liar perlahan mereda, digantikan oleh kesadaran yang lebih tenang. Bayi dua bulan memang mustahil menunaikan haji secara syar’i.

Tapi di sisi lain, usia muda bukan penghalang mutlak. Banyak orang yang menunaikan haji di usia relatif belia, asal syarat mampu kayak fisik, finansial, mental terpenuhi, dan niatnya ikhlas. Itu yang membuat Imron tersenyum kecil dalam gelap: haji di usia muda bukan hal mustahil.

Selama cita-citanya bukan memecahkan rekor Ballon d’Or Lionel Messi yang sudah delapan kali atau rekor gol penalti Cristiano Ronaldo sepanjang karir yang kini mencapai 181 gol, haji di usia muda bisa dibilang lebih realistis.

Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) pun punya gerakan yang mendorong hal itu, mengajak generasi muda merencanakan dan mendaftar haji sejak dini agar bisa berangkat saat fisik masih prima dan stamina mendukung penuh.

Caranya mudah sekaliiiii. Bisa gunakan tabungan haji di Bank Syariah atau mempertimbangkan investasi syariah. Bisa juga ditopang dengan mencari penghasilan tambahan dan juga mengurangi pengeluaran yang tidak perlu. InsyaAllah bisa menjadi haji di waktu muda dan menginspirasi orang lain.

Imron membalik badan, menarik selimut lebih rapat. Pikirannya kini lebih ringan. Manasik haji waktu TK ABA itu cuma permulaan lucu, tapi suatu hari nanti, kalau umur, rezeki, dan kesehatan mengizinkan, giliran dia menunaikan yang hakiki. InsyaAllah.

Tinggalkan Balasan