Sabtu, 26 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Ekoteologi sebagai Jalan Tengah Teosentrisme dan Antroposentrisme

Oleh timredaksi • • 2 Menit Min
Ekoteologi sebagai Jalan Tengah Teosentrisme dan Antroposentrisme

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JEMBER – Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syafiq A. Mughni, mengajak umat Islam meninjau kembali cara pandang keagamaan dalam merespons krisis lingkungan global melalui prinsip ekoteologi.

Dalam kajian yang digelar di Universitas Muhammadiyah Jember, Ahad (22/2), Syafiq menjelaskan bahwa sejarah panjang peradaban manusia memperlihatkan dua pola besar dalam cara pandang, yakni teosentrisme dan antroposentrisme.

Teosentrisme menempatkan Tuhan sebagai pusat segala sesuatu sebagaimana diajarkan agama. “Seluruh kehidupan diabdikan kepada Allah. Semua tindakan diarahkan untuk memenuhi kehendak Ilahi,” jelasnya.

Namun, dalam perjalanan sejarah, menurut Syafiq, teosentrisme pernah mengalami distorsi. Ia mencontohkan pada masa dominasi gereja di Barat, ketika otoritas keagamaan turut menentukan berbagai persoalan ilmiah, seperti perdebatan mengenai bentuk bumi dan peredaran matahari. Kondisi tersebut berdampak pada stagnasi perkembangan ilmu pengetahuan.

Sebagai reaksi atas situasi itu, lahirlah antroposentrisme yang menempatkan manusia sebagai pusat segala sesuatu. Akal dan ilmu pengetahuan menjadi ukuran utama dalam menentukan kebenaran.

Syafiq menilai, kedua pendekatan tersebut memiliki sisi penting. Teosentrisme mencerminkan habluminallah (relasi dengan Allah), sedangkan antroposentrisme berkaitan dengan habluminannas (relasi antarmanusia). Akan tetapi, perkembangan zaman menunjukkan bahwa dua relasi itu belum memadai.

“Kita tidak cukup hanya berhubungan baik dengan Allah dan sesama manusia. Kita juga harus berhubungan baik dengan makhluk lain dan dengan lingkungan,” tegasnya.

Kesadaran habluminallah dan habluminannas, lanjut Syafiq, perlu diperluas hingga mencakup relasi dengan lingkungan. Krisis iklim dan perubahan iklim menjadi bukti nyata bahwa kerusakan alam membawa dampak serius bagi seluruh kehidupan di bumi.

“Jika suhu bumi terus meningkat tanpa kendali, manusia, hewan, dan tumbuhan tidak akan mampu bertahan,” ujarnya.

Karena itu, ia memperkenalkan istilah habluminbi’ah (relasi dengan lingkungan) dan habluminhayawan (relasi dengan makhluk hidup lainnya). Menurutnya, relasi keagamaan tidak boleh berhenti pada dimensi vertikal dan sosial semata, tetapi juga harus mencakup tanggung jawab terhadap seluruh ciptaan Allah.

“Menjaga lingkungan bukan sekadar isu sosial atau ilmiah, tetapi bagian dari tanggung jawab keagamaan kita sebagai khalifah di bumi,” pungkasnya.

Dalam konteks inilah ekoteologi berperan sebagai sintesis yang menyeimbangkan dimensi ketuhanan, kemanusiaan, dan kelestarian alam di tengah ancaman krisis lingkungan global. (Bhisma)

Tinggalkan Balasan