Kamis, 24 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Agama, Ilmu, dan Umat: Tiga Pilar Penyangga Semangat Juang Abdul Kahar Mudzakkir

Oleh timredaksi 5 Menit Min
Agama, Ilmu, dan Umat: Tiga Pilar Penyangga Semangat Juang Abdul Kahar Mudzakkir

Sepeninggalan Abdul Kahar Mudzakkir pada tahun 1973, berbagai jejak perjuangan, pemikiran, dan keteladanan hidupnya tidak serta-merta pudar oleh waktu. Warisan nilai yang ia tanamkan justru terus bertumbuh dan membekas haru dalam ingatan banyak orang. Khususnya bagi masyarakat Kotagede dan mereka yang mengenal dekat sosok Kahar semasa hidupnya. Baik sebagai seorang pendakwah, pejuang, pendidik, ayah, maupun masyarakat biasa yang membumi dengan sesamanya.

Dalam sebuah film dokumenter tentang Abdul Kahar Mudzakkir, Budayawan sekaligus Kemenakan dari Kahar Mudzakkir yakni Achmad Charris Zubair mengatakan bahwasanya esensi manusia sesungguhnya itu ada pada diri Kahar Muzakkir

“Melihat manusia itu adalah melihat Pak Kahar Mudzakkir,” ujarnya

Kepribadian dan laku hidup keseharian Kahar Mudzakkir sejatinya telah mencerminkan idealnya seorang manusia bersikap. Sepanjang hidupnya, ia habiskan untuk memperdalam ilmu agama dan ilmu pengetahuan sebagai bekal mencapai tujuan pengabdian untuk menebarkan kemaslahatan umat.

Agama Sebagai Fondasi Hidup

Semasa hidupnya, Kahar dikenal sebagai sosok yang religius dan teguh dalam beragama. Ia menjunjung tinggi ajaran Islam murni dan mengamalkannya secara konsisten ke dalam kehidupan hariannya. Kesalehan dan kepatuhannya yang kuat dalam beragama sejatinya adalah hasil pembentukan karakter dari kecil.

Di tengah situasi masyarakat Kotagede kala itu yang kental dengan paham sinkretisme dan kejawen. Kahar kecil justru tumbuh di tengah keluarga berpondasikan ajaran islam yang kuat. Bahkan keluarga besar Kahar sendiri memegang peranan penting dalam kelahiran dan perkembangan gerakan ijtihad Muhammadiyah di kota perak tersebut. Pamannya, Masyhudi merupakan salah satu pendiri pimpinan cabang Muhammadiyah kotagede. Adapun ayahnya, Kyai Mudzakir, yang seorang guru agama di Masjid Gede Mataram merupakan salah satu donatur pembangunan masjid Perak milik Muhammadiyah.

“Kemudian dari sisi keturunan kan, memang keturunan orang-orang yang fakih ya di dalam Islam,” ujar Trias Setiawati di dalam film dokumenter Kahar

Dari lingkungan keluarga itulah, pendidikan agama islam pertama kali diperkenalkan kepada Kahar. Bermula dari kegiatan mengaji di pendapa rumah kakeknya, ia mulai mengenal dan menghayati ilmu agama. Hingga pada akhirnya, nilai-nilai itu tertanam kuat dalam diri Kahar Mudzakkir. Menjadikannya sebagai jati diri, integritas, dan pedoman moral yang ia pegang teguh hingga akhir hayat.

Lebih lanjut, api semangat keagamaan mendorong Kahar untuk melangkah lebih jauh, memulai pengembaraan panjangnya di dunia keilmuan Islam.

Ilmu Sebagai Jalan Hidup

Kahar mengembara mencari ilmu dari sekolah ke sekolah. Dari pesantren ke pesantren. Menyusuri Pesantren Al Munawwir Krapyak, Pesantren Tremas Pacitan, Pesantren Jamsaren, hingga Madrasah Mambaul Ulum Surakarta.

Pengembaraannya di berbagai pesantren pun menempa Kahar dengan beragam disiplin ilmu keislaman yang menyeluruh. Mulai dari ulumul Qur’an dan tafsir, ulumul hadits, fiqih, aqidah, akhlaq, nahwu, sharaf, ushul fiqh, dan balaghah. 

Meski tumbuh dalam lingkungan Muhammadiyah, Kahar tidak pernah menutup dirinya akan keberagaman. Ia tidak memandang perbedaan aliran, mazhab, atau paham keagamaan tertentu sebagai tembok pemisah. Justru sebaliknya, melalui perbedaan itulah Kahar dapat belajar melihat Islam secara lebih luas. Belajar menghargai perbedaan tradisi dan budaya yang ada di dalamnya.

Meski telah mengembara dan menuntut ilmu di banyak pesantren. Hasrat Kahar terhadap ilmu pengetahuan bagaikan air yang tak pernah berhenti mengalir mencari muara. Kahar merasa tidak puas belajar dari satu tempat dan satu guru saja.

Maka di usianya yang masih muda, Kahar memberanikan diri bertolak ke tanah Mesir untuk memperluas wawasan, baik di bidang agama maupun pengetahuan umum. Tak lupa ia juga membangun relasi sosial dengan para ilmuwan terkenal dan orang-orang terdidik dari luar Indonesia.

Semua proses pengembaraan ilmu agama dan pengetahuan, dilakukannya demi satu impian besar nan mulia, yakni sebagai guru tinggi. Itu semua ia lakukan untuk membangun peradaban pendidikan Indonesia agar lebih berkualitas dan inklusif. Ia percaya bahwa kemajuan umat hanya bisa dicapai melalui pendidikan.

Pada akhirnya, setelah kembali ke tanah air, impian itu mulai ia wujudkan secara bertahap. Satu langkah demi satu langkah. Hingga pada puncaknya ia berhasil menjadi bapak arsitek pendidikan islam di Indonesia, yang mempelopori kelahiran berbagai perguruan tinggi berbasiskan islam.

Kemaslahatan Umat Sebagai Tujuan Hidup

Seluruh perjalanan hidup Abdul Kahar Mudzakkir tertuju pada satu misi pengabdian, memberikan kemaslahatan bagi orang banyak Agama telah membentuk kepribadiannya. Sementara, ilmu telah memperluas wawasan dan kemampuannya. Keduanya telah menjadi paduan bekal kuat bagi Kahar dalam mengabdikan diri seutuhnya kepada umat.

Dalam film dokumenter Abdul Kahar Mudzakkir, Syukriyanto AR selaku Dewan Pakar LSBO Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyebut sejatinya Kahar Mudzakkir sebagai sosok manusia pilihan.

“Jalma pinilih rembesing madu. Ngayahi darmaning gesang,” jelas Syukriyanto

Ungkapan jawa tersebut memiliki arti, manusia terpilih yang hidupnya senantiasa mengalirkan kebaikan dan menjalankan tugas pengabdian kehidupan.

Pengabdian itu tercermin nyata dalam kesehariannya. Kahar dikenal ramah, terbuka, dan dekat dengan masyarakat sekitar. Pintu rumahnya pun nyaris terbuka setiap saat, bagi siapa pun yang hendak bersilaturahmi. Sekedar datang menyapa, berbagi cerita, atau mengadukan persoalan hidup.

Dakwah bagi Kahar tidak mengenal ruang dan waktu. Bahkan saat perjalanan naik andong ke kantor sekalipun, ia tetap menjalankan perannya sebagai pendidik dan pendakwah. Ia dengan sukarela mendengar keluhan dan menjawab pertanyaan para rekan seperjuangannya, yang didominasi oleh ibu-ibu  pedagang sayuran di Pasar Beringharjo.

“Temannya yang se-andong itu ya bakul-bakul, yang kebanyakan kan ibu-ibu. Itu ya ada curhat, ada menyampaikan itu, ada tanya, dan sebagainya sehingga sering seperti lalu pengajian di dalam Andong dan itu setiap saat,” kenang Syukriyanto

Sosok Abdul Kahar Mudzakkir dikenal sangat sederhana. Penampilannya sangatlah bersahaja. Jauh dari kemewahan maupun hingar bingar nama besar yang melekat padanya. Kemeja tanpa dasi, sarung, dan peci menjadi outfit andalan Kahar kemanapun ia pergi.

Sikap zuhud terpancar kuat dalam kepribadiannya. Ia tidak menempatkan dunia sebagai tujuan, melainkan sebagai sarana pengabdian. Hidupnya lebih banyak ia persembahkan untuk kepentingan umat dibanding kepentingan dirinya sendiri.

Dari buku Dari Muhammadiyah Untuk Indonesia dikisahkan, pernah suatu ketika seorang mahasiswa Kahar datang melapor padanya, bahwa ia batal  masuk kuliah sebab kehilangan uang pendaftaran akibat kecopetan. Mendengar hal tersebut, Kahar tanpa ragu segera menyerahkan uang pribadinya kepada mahasiswa tersebut.

“Saudara jadi masuk STI. Ini uang asrama dan uang kuliah,” tutur Kahar, sebagaimana dikutip dari buku tersebut.

Adapun kisah menarik lainnya. Kala masa-masa awal perintisan, Sekolah Tinggi Islam pernah dilanda kesulitan ekonomi. Tanpa ragu, Kahar selaku rektor kala itu, menjual seluruh hasil panen kelapanya untuk membayar gaji dosen.

Abdul Kahar Mudzakkir telah secara nyata menerapkan ajaran-ajaran agama islam dan ilmu yang diperolehnya ke dalam laku keseharian.

Maka, kisah hidupnya patut menjadi refleksi dan renungan bersama bahwa hakikat kehidupan manusia adalah memberi manfaat. Agama dan ilmu menjadi bekal untuk hadir menaburkan kebaikan di tengah masyarakat. Karena tanpa keduanya, hidup bagaikan kehilangan arah dan tujuan.

Referensi. 

Nakamura, Mitsuo. “Prof. H. Abdul Kahar Muzakkir and the development of Islamic reformist movement in Indonesia.” Afkaruna: Indonesian Interdisciplinary Journal of Islamic Studies 15, no. 2 (2019): 203-225.

Muhammadiyah, Pimpinan Pusat. “Dari Muhammadiyah Untuk Indonesia: Pemikiran dan Kiprah Ki Bagus Hadikosumo, Mr. Kasman Singodimedjo, dan K.H. Abdul Kahar Mudzakkir.” Yogyakarta (2013).

Setiawati, Trias. Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakkir: mutiara Nusantara dari Yogyakarta. Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia, 2007.

UII, Program PascaSarjana FIAI. 2020. Prodi MIAI – Launching Film Dokumenter KH. Abdul Kahar Mudzakkir (Studi Tokoh Pendiri UII). Youtube  https://youtu.be/FZwLx8AYwUU?si=U4xZeFeLpydfEI5c  Diakses pada 25 Februari 2026.

Penulis: Fiya

Tinggalkan Balasan