Senin, 28 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Suasana Pengajian Muhammadiyah Harus Menggembirakan, Jangan Tegang

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
Suasana Pengajian Muhammadiyah Harus Menggembirakan, Jangan Tegang

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SEMARANG – Mubalig Muhammadiyah diminta jangan menghadirkan suasana tegang di tempat pengajian, sehingga jemaah alih-alih menerima materi pengajian justru banyak yang terlupakan.

Pesan itu disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrohman pada Ahad (11/1) dalam Wisudah Sekolah Tabligh Muhammadiyah Jawa Tengah di Unimus, Semarang.

Dia meminta mubalig Muhammadiyah untuk memahami konteks sasaran dakwah atau mad’u. Sehingga bisa membawa dan menciptakan suasana nyaman, serta mad’u bisa menerima materi pengajian dengan baik.

“Saya ingin menyampaikan mubalig Muhammadiyah itu jangan bikin umat ngajinya penuh ketegangan, sehingga ilmunya tidak masuk. Menurut teori capaian memori kita untuk belajar itu berbanding terbalik dengan ketegangan,” katanya.

Ruang-ruang pengajian, imbuhnya, harus dibuat memudahkan dan menggembirakan. Sebab memberikan kemudahan dan menggembirakan kepada jemaah ini sesuai dengan pesan yang disampaikan Nabi Muhammad SAW.

Akan tidak boleh berlaku pada titik ekstrim lain, di mana pengajian isinya hanya lucu-lucuan saja. Antara pengajian dan stand up comedy harus ada perbedaannya.

Pesan kedua untuk mubalig Muhammadiyah dari dr. Agus adalah supaya mubalig Muhammadiyah bisa masuk ke seluruh segmen – dan memahami kebutuhan materi yang akan disampaikan untuk segmen tersebut.

Namun di sisi lain, menurutnya mencari mubalig yang segmented khususnya ke anak-anak muda saat ini sulit. Dia memandang, selain materi yang related, mubalig ke mad’u anak muda juga harus menyesuaikan gaya bahasa dan penampilan.

Bahkan mubalig juga harus mengikuti trend anak muda – dengan tidak hanyut di arus. Misalnya saja lagu-lagu yang sedang trending di kalangan anak muda, termasuk isu-isu yang sedang hangat mereka bicarakan.

Sementara itu, dr. Agus pada kesempatan ini juga berpesan adanya kurikulum ngaji bagi warga Muhammadiyah di ranting maupun cabang. Kurikulum ngaji bagi warga Muhammadiyah ini penting supaya ustaz paham konteks mad’u nya.

Terlebih menghadapi Bulan Ramadan, sering kali mubalig menyampaikan materi yang repetitif – materinya sama disampaikan di seluruh mimbar masjid yang mengundangnya.

Tinggalkan Balasan