Minggu, 27 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Standarisasi ISMUBA Penting untuk Menjaga Mutu Pendidikan Muhammadiyah

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
Standarisasi ISMUBA Penting untuk Menjaga Mutu Pendidikan Muhammadiyah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Didik Suhardi, menegaskan pentingnya pengukuran dan standarisasi mata pelajaran Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (ISMUBA) sebagai ciri khas pendidikan Muhammadiyah.

Hal itu disampaikannya Didik Suhardi dalam kegiatan InspirasiMu Chapter 31 “Sosialisasi TKA” yang diikuti ratusan perwakilan sekolah-sekolah Muhammadiyah secara daring yang digelar Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah pada Selasa (7/1).

Didik menjelaskan, pemerintah sejak tahun lalu telah menerapkan Tes Kompetensi Akademik (TKA) sebagai instrumen pemetaan mutu pendidikan, pembinaan, sekaligus salah satu syarat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Menurutnya, TKA menjadi penting karena daerah memerlukan ukuran mutu tertentu yang bisa dijadikan rujukan oleh sekolah.

“TKA itu paling tidak berfungsi untuk tiga hal, yaitu memetakan mutu, melakukan pembinaan, dan menjadi salah satu alat untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi,” ujarnya.

Namun demikian, Didik menekankan bahwa pendidikan Muhammadiyah memiliki kekhususan yang tidak dimiliki oleh sistem pendidikan lain, yakni ISMUBA. Kekhasan ini, menurutnya, harus dijaga melalui pengukuran yang terstandar agar kualitas pembelajarannya tetap terjamin.

“Pendidikan Muhammadiyah punya spesifikasi yang tidak dimiliki sistem pendidikan lain, yaitu ISMUBA. Karena itu, kita perlu melakukan pengukuran sejauh mana ISMUBA diajarkan di sekolah,” tegasnya.

Pengukuran tersebut, lanjut Didik, bukan semata-mata untuk kepentingan ujian, tetapi sebagai bagian dari evaluasi sistem pendidikan. Dari hasil evaluasi itu, sekolah dapat mengetahui letak kekuatan dan kelemahan, sekaligus menentukan langkah perbaikan yang tepat.

“Evaluasi itu penting karena merupakan bagian dari sistem pendidikan. Ada perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Ini siklus yang harus terus dilakukan secara berulang,” jelasnya.

Didik juga menyampaikan bahwa pelatihan guru tidak selalu harus dilakukan secara tatap muka. Saat ini, Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah tengah menyiapkan sebuah platform pembelajaran yang memungkinkan guru meningkatkan kompetensi dan menambah wawasan secara mandiri.

“Pelatihan itu tidak harus selalu dipanggil. Bapak dan Ibu bisa melakukan pelatihan sendiri melalui platform yang sedang kami siapkan,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Didik menyebutkan bahwa Iwan Junaidi bersama tim telah menyusun kisi-kisi dan panduan materi ISMUBA yang akan menjadi acuan bagi sekolah dan madrasah Muhammadiyah. Panduan tersebut diharapkan menjadi guideline dan road map dalam pelaksanaan pengujian ISMUBA.

“Semangatnya sederhana, kita mengujikan apa yang diajarkan. Walaupun belajar tidak hanya untuk ujian, tapi kita tetap perlu alat evaluasi,” tandasnya.

Didik menutup dengan menegaskan bahwa penguatan ISMUBA merupakan modal strategis bagi pendidikan Muhammadiyah dalam membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter dan religius.

“ISMUBA adalah kekuatan pendidikan Muhammadiyah. Di samping ilmu yang kuat, kita juga membangun karakter dan nilai religiusitas, sehingga lulusan Muhammadiyah mampu mengimbaskan nilai-nilai persyarikatan di mana pun mereka berada,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan