Senin, 21 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Sejarah Kenabian Harus Menjadi Sumber Keteguhan Iman, Bukan Ajang Kontroversi

Oleh timredaksi 3 Menit Min
Sejarah Kenabian Harus Menjadi Sumber Keteguhan Iman, Bukan Ajang Kontroversi

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Immawan Wahyudi, mengajak umat Islam untuk tidak larut dalam perdebatan mazhab dan kontroversi peringatan hari-hari besar Islam, tetapi kembali pada makna substantif sejarah kenabian yang seharusnya menguatkan iman dan takwa.

Pesan tersebut disampaikan Immawan dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Jumat (23/01).

Ia menyinggung kebiasaan sebagian umat Islam di Indonesia yang kerap memperdebatkan peringatan Isra Mikraj, Maulid Nabi, dan momentum sejarah Islam lainnya, hingga melupakan esensi spiritual yang terkandung di dalamnya.

“Sering kali yang dibicarakan hanya persoalan perbedaan mazhab. Tidak ada habisnya. Padahal tanpa kekuatan dari Allah, pendapat-pendapat itu tidak mungkin diubah. Akibatnya, kita lupa pada makna substantif sejarah dan justru melemahkan ukhuwah,” ujar Immawan.

Menurutnya, peristiwa Isra Mikraj—khususnya turunnya perintah salat—perlu dipahami sebagai bagian dari sejarah yang hidup, bukan sekadar peristiwa masa lalu. Sejarah, kata dia, harus dimaknai sebagai kredo: memiliki arti bagi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Tujuan utamanya adalah menumbuhkan keyakinan yang semakin kokoh kepada Allah.

Immawan mengutip Surah Hud ayat 120, “Wa naqussu ‘alaika min anba’ir rusuli ma nutabbitu bihi fu’adak,” yang menjelaskan bahwa kisah para rasul disampaikan untuk meneguhkan hati Nabi Muhammad Saw.

Ia menjelaskan, Rasulullah menerima wahyu secara langsung melalui Malaikat Jibril sehingga kepribadian beliau benar-benar dibentuk oleh Al-Qur’an. Hal itu sejalan dengan riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa akhlak Nabi adalah Al-Qur’an.

“Kalau Rasulullah dididik langsung oleh Allah, maka kita untuk memperoleh kekokohan iman harus melalui usaha. Di antaranya dengan banyak membaca kisah para nabi dan rasul dalam Al-Qur’an, hadis Nabi, serta kehidupan para imam mujtahid dan mujahid,” tuturnya.

Ia menyoroti minimnya perhatian umat terhadap perjalanan hidup para imam besar seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal, bahkan Imam Ja’far Ash-Shadiq. Padahal, menurutnya, kehidupan mereka sarat keteladanan dan perjuangan yang dapat memperkuat keyakinan serta membentuk karakter umat.

Dalam khutbahnya, Immawan juga mengingatkan agar umat Islam tidak mengurangi sedikit pun kemuliaan Rasulullah Saw. Ia mengkritik keras pandangan yang menyebut Perjanjian Hudaibiyah sebagai kegagalan diplomasi.

“Apa yang dilakukan Rasulullah pasti yang terbaik. Tidak ada manusia yang paling benar pikiran dan perilakunya selain Rasulullah. Menyebut Perjanjian Hudaibiyah sebagai diplomasi sampah itu sangat berbahaya karena bisa mengikis keteguhan iman,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa kebenaran dalam Islam bersifat mutlak karena bersumber dari Allah dan Rasul-Nya. Jika kebenaran dianggap relatif atau sekadar emosional, maka akan muncul keraguan terhadap keberadaan Tuhan dan kenabian. Karena itu, doktrin kebenaran harus tertanam kuat sebagai bagian dari iman yang akan melahirkan ketakwaan.

Lebih lanjut, Immawan menekankan pentingnya menjadikan sejarah para nabi, ulama, dan pejuang Islam sebagai bacaan sehari-hari. Kisah-kisah tersebut bukan hanya informasi, tetapi peringatan bagi orang-orang beriman agar mampu mengambil hikmah, melakukan refleksi diri, dan memperbaiki akhlak sebelum menilai orang lain.

“Sejarah bukan sekadar peristiwa, tetapi dimensi integral kehidupan manusia dari awal sampai akhir. Dari sana kita mengambil nilai kebaikan dan kebenaran, lalu menjadikannya kritik dan muhasabah untuk diri sendiri,” ujarnya.

Menutup khutbahnya, Immawan berharap agar umat Islam terus menghayati pelajaran sejarah Islam sebagai sarana mengokohkan iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memegangnya teguh hingga akhir zaman.

Tinggalkan Balasan