MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Wakil Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Zuly Qodir, mengajak jamaah untuk melakukan refleksi mendalam atas kondisi bangsa yang masih dililit persoalan korupsi.
Pesan itu ia sampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (30/01).
Ia mengawali khutbah dengan menggambarkan situasi Indonesia yang kerap menimbulkan rasa miris. Berdasarkan survei International Corruption, dalam lima tahun terakhir Indonesia disebut menempati peringkat tinggi dalam praktik korupsi, baik di tingkat dunia maupun Asia.
Korupsi, menurutnya, dilakukan oleh pejabat negara dari level kelurahan hingga pusat, bahkan sebagian kecil terjadi di lingkungan perguruan tinggi, padahal universitas semestinya menjadi ruang pembentukan etika dan nilai moral.
Zuly Qodir juga menyinggung sejumlah lembaga yang dalam berbagai survei masuk kategori rawan korupsi, mulai dari aparat penegak hukum, lembaga keagamaan yang mengatur praktik ritual, hingga sektor pendidikan. Ia menyebut kondisi ini sebagai ironi besar di tengah klaim pembangunan moral dan spiritual bangsa.
Mengutip pemikiran sosiolog Syed Hussein Alatas dalam buku Sosiologi Korupsi, ia menjelaskan bahwa korupsi bukan hanya terjadi di negara miskin, tetapi juga di negara yang relatif makmur. Bahkan hampir seluruh negara Asia Tenggara disebut memiliki persoalan serupa, dengan Indonesia berada pada level yang tinggi.
Ia juga merujuk pandangan Jeffery Winters tentang oligarki, yakni situasi ketika kekayaan dan kekuasaan hanya berputar pada kelompok tertentu, sehingga sebagian kecil orang mengambil terlalu banyak sumber daya negara.
Menurut Zuly Qodir, Syed Hussein Alatas merumuskan setidaknya empat faktor utama mengapa korupsi terus berlangsung.
Pertama, adanya motivasi atau keinginan untuk korupsi.
Kedua, lingkungan yang mendukung—ketika ke kiri, kanan, depan, dan belakang semuanya melakukan praktik serupa.
Ketiga, adanya kesempatan.
Dan keempat, keberanian. Jika keempat unsur ini bertemu, maka korupsi menjadi sesuatu yang dianggap wajar.
Ia menggambarkan bagaimana seseorang bisa merasa “kurang saleh” jika tidak ikut mengambil, karena hampir semua orang di sekitarnya melakukan hal yang sama. Dalam kondisi seperti itu, orang yang jujur justru dianggap anomali.
Zuly Qodir kemudian mengaitkan fenomena ini dengan persoalan syukur. Ia mengutip pesan Al-Qur’an tentang janji Allah kepada orang-orang yang bersyukur, seraya mengingatkan bahwa bisa jadi praktik korupsi berakar dari kegagalan manusia mensyukuri nikmat yang telah diberikan.
Ia menegaskan bahwa dalam Al-Qur’an, rezeki tidak pernah secara eksplisit disamakan dengan uang. Namun dalam praktik korupsi, yang hampir selalu diambil adalah uang. Padahal, rezeki memiliki makna jauh lebih luas: kesehatan, anggota tubuh yang lengkap, keluarga, keturunan, umur, pekerjaan, hingga kesempatan hidup.
“Bapak-bapak semua ini hidung lengkap, kuping lengkap, mata lengkap, tangan lengkap, kaki lengkap. Kadang-kadang kita lupa bahwa keberkahan Tuhan itu ada di mana-mana,” ujarnya.
Ia mencontohkan kebiasaan mengeluh ketika gaji belum ditransfer, padahal nikmat lain telah lebih dulu diberikan. Menurutnya, sikap semacam itu bisa menjadi tanda kurangnya rasa syukur.
Dalam khutbahnya, Zuly Qodir mengajak jamaah untuk membangun sikap hidup sederhana, zuhud, dan istiqamah, dengan cara mensyukuri apa yang sudah ada. Ia menekankan bahwa keluarga dan anak keturunan juga bagian dari rezeki, demikian pula fakta bahwa seseorang masih diberi kesempatan hidup.
Ia lalu menjelaskan tiga bentuk syukur. Pertama, syukur dengan lisan, yakni mengucapkan terima kasih atas nikmat Allah. Kedua, syukur dengan anggota badan, melalui perbuatan nyata seperti salat, mengaji, dan amal saleh lainnya. Ketiga, syukur dengan hati, yakni menerima dengan lapang dada apa pun yang diberikan Allah—dan ini disebutnya sebagai bentuk syukur yang paling berat, karena hanya diketahui oleh diri sendiri dan Tuhan.
Mengutip pandangan Quraish Shihab, ia menyampaikan bahwa syukur juga bermakna lapang menerima pemberian, meskipun sedikit. Bagi orang yang bersyukur, sedikit pun tetap disambut dengan “alhamdulillah”.
Menutup khutbah, Zuly Qodir mengajak jamaah untuk tidak memaksakan semua keinginan harus terpenuhi, terlebih jika kemampuan tidak mencukupi. Ia menegaskan kembali bahwa rezeki bukan hanya uang, tetapi juga umur, anak cucu, kesempatan, dan pekerjaan.
“Yang terakhir adalah kita supaya bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita dengan lisan, dengan perbuatan yang baik, dengan ucapan yang baik, dan dengan hati yang lapang terhadap apa yang Allah berikan,” pungkasnya.






