MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Akhmad Arif Rifan, menegaskan pentingnya pengkajian sirah Nabi Muhammad Saw sebagai fondasi pemahaman sejarah dan peradaban Islam.
Penegasan tersebut disampaikan dalam kajian di Madrasah Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (05/12).
Dalam ceramahnya, Akhmad Arif Rifan mengajak jemaah menata ulang cara membaca sejarah Islam dengan menggunakan perspektif kalender Hijriah. Menurutnya, kalender Islam bukan hanya penanda waktu ibadah, tetapi juga kunci memahami dinamika peradaban umat Islam secara lebih proporsional.
Ia menjelaskan bahwa inti sejarah Islam terletak pada 23 tahun masa kerasulan Nabi Muhammad saw., yang mencakup 13 tahun fase Makkah dan 10 tahun fase Madinah. Pada periode inilah Rasulullah saw. membangun fondasi akidah, akhlak, dan sistem sosial umat.
Seluruh praktik pemerintahan pada masa Khulafaur Rasyidin, lanjutnya, merujuk pada pola dan nilai yang dibangun dalam 23 tahun tersebut.
“Dari periode yang sangat singkat itulah lahir kader-kader umat yang luar biasa. Dari sekitar 40 orang di awal dakwah, menjadi 124 ribu orang pada Haji Wada’. Inilah fondasi yang membuat Islam berkembang hingga miliaran pemeluk hari ini,” ungkapnya.
Akhmad Arif Rifan juga memaparkan garis besar sejarah kepemimpinan umat Islam setelah wafatnya Rasulullah saw., mulai dari masa Khulafaur Rasyidin, Dinasti Umayyah, Abbasiyah, Turki Utsmani, hingga kekuasaan Islam di Andalusia. Ia menekankan bahwa kejatuhan Turki Utsmani pada 1342 H menandai fase baru sejarah umat Islam, yang hingga kini baru berlangsung sekitar satu abad lebih dalam hitungan Hijriah.
Memasuki tema utama, ia mengulas secara mendalam peristiwa Fathu Makkah dan rangkaian peristiwa yang mendahuluinya, terutama Bai‘at Ridwan dan Perjanjian Hudaibiyah. Ia menegaskan bahwa “kemenangan yang nyata” dalam Surah al-Fath tidak merujuk langsung pada penaklukan Makkah, melainkan pada peristiwa Bai‘at Ridwan, ketika para sahabat menyatakan komitmen penuh di bawah pohon Hudaibiyah dan mendapatkan rida Allah.
“Di situlah titik balik umat Islam. Secara militer belum menang, tetapi secara iman dan visi, kemenangan itu sudah pasti,” jelasnya.
Dalam mengisahkan Fathu Makkah, Akhmad Arif Rifan menyoroti sikap Rasulullah saw. yang menjunjung tinggi keadilan dan amanah. Salah satu contohnya adalah keputusan Nabi mengembalikan kunci Ka‘bah kepada Utsman bin Thalhah dari Bani Abdiddar, meskipun keluarga dekat Rasulullah sendiri memintanya. Tindakan tersebut, menurutnya, menunjukkan bahwa kekuasaan dalam Islam tidak dijalankan dengan nepotisme, melainkan dengan prinsip amanah.
Ia juga menyinggung sikap pemaaf Rasulullah saw. kepada para pembesar Quraisy yang dahulu memusuhi dan menganiaya beliau. Peristiwa pengampunan Abu Sufyan bin al-Harits menjadi contoh nyata bahwa kemenangan Islam tidak dibangun di atas balas dendam, tetapi di atas akhlak dan keluhuran jiwa.
Di akhir kajian, Akhmad Arif Rifan menarik pelajaran kontekstual bagi umat Islam hari ini. Ia mengingatkan agar kaum muslimin tidak berada di barisan kezaliman, serta mampu membaca sejarah sebagai sumber hikmah dan panduan bersikap. Menurutnya, umat yang paling berat ujiannya kerap menjadi cermin keteguhan iman, sebagaimana dialami generasi sahabat.
“Sirah Nabi Ia adalah peta jalan bagi umat dalam menentukan posisi—apakah berada di pihak kebenaran atau justru larut dalam kezaliman,” pungkasnya.






