MUHAMMADIYAH.OR.ID, ACEH TAMIANG – Di tengah duka yang masih menyelimuti wilayah terdampak bencana, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Salmah Orbayinah, hadir memberikan penguatan kepada masyarakat penyintas di Pos Pelayanan Muhammadiyah, Kota Lintang, Kabupaten Aceh Tamiang, Senin (12/1).
Kehadiran Salmah didampingi Ketua PP ‘Aisyiyah Rohimi Zamzam, Ketua Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB) PP ‘Aisyiyah Rahmawati Husein, Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Aceh Asraf, Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah Sumatera Utara Nur Rahma Amini, serta Ketua Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Aceh Tamiang Radawati. Sebelumnya, rombongan juga meninjau wilayah Kuala Simpang yang mengalami dampak bencana cukup parah.
Sepanjang perjalanan menuju lokasi, tampak rumah-rumah warga tertutup lumpur sisa banjir dengan ketinggian mencapai 8 hingga 10 meter. Jejak bencana masih jelas terlihat, menyisakan keprihatinan mendalam sekaligus tekad bersama untuk bangkit.
Dalam suasana penuh empati, Salmah Orbayinah menyampaikan duka mendalam atas musibah yang menimpa masyarakat Aceh Tamiang. Ia menegaskan bahwa kehadiran Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah merupakan wujud tanggung jawab kemanusiaan yang diharapkan benar-benar memberi manfaat nyata bagi para penyintas.
“Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah hadir di sini, insya Allah bukan sekadar melihat, tetapi benar-benar memberi manfaat dan dirasakan oleh semuanya. Kami bergerak dalam satu komando One Muhammadiyah One Response (OMOR) yang dipimpin oleh MDMC,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perhatian secara khusus diberikan kepada perempuan, anak-anak, lansia, serta kelompok rentan lainnya sebagai bagian dari ikhtiar meringankan beban masyarakat dan memulihkan harapan di tengah keterbatasan.
Memasuki fase pascatanggap darurat, Salmah menegaskan bahwa Muhammadiyah bersama seluruh elemen akan menyusun langkah lanjutan dengan mendengarkan laporan dari berbagai pihak yang terjun langsung di lapangan, termasuk MDMC, Lazismu, serta majelis dan lembaga terkait.
Sementara itu, Ketua LLHPB PP ‘Aisyiyah, Rahmawati Husein, menegaskan bahwa Muhammadiyah tidak pernah berhenti pada fase tanggap darurat semata.
“Pengalaman kami di Palu menunjukkan bahwa pendampingan bisa berlangsung hingga empat tahun. Bukan hanya pemulihan fisik, tetapi juga dukungan ekonomi agar masyarakat benar-benar bangkit,” jelasnya.
Rahmawati menambahkan bahwa Muhammadiyah selalu mengedepankan koordinasi dan pelaporan agar tidak terjadi duplikasi penanganan. Muhammadiyah berperan sebagai pelengkap (complementary) atas upaya pemerintah dan bekerja bersama 109 lembaga yang terdaftar di Desk Relawan BNPB.
“Keunggulan Muhammadiyah adalah bekerja di semua sektor, mulai dari kesehatan, penyediaan air bersih, pendidikan, hingga dukungan psikososial. Bahkan saat ini, respon kebencanaan Muhammadiyah telah dipercepat menjadi enam jam sejak kejadian,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa prinsip Muhammadiyah bukanlah come, hit, and run, melainkan hadir, menguatkan, dan mendampingi masyarakat hingga mampu berdiri kembali.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua PP ‘Aisyiyah yang membidangi PAUD Dasmen, Rohimi Zamzam, menekankan pentingnya koordinasi pendataan yang valid, khususnya terkait anak dan layanan pendidikan.
“Data yang akurat sangat penting untuk disampaikan kepada pemerintah dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, terutama terkait relokasi, renovasi, serta keberlangsungan pembelajaran. Dalam situasi apa pun, anak-anak harus tetap mendapatkan hak belajarnya,” ujarnya.
Rohimi juga menyoroti pentingnya penguatan psikososial dan pembelajaran adaptif bagi anak, orang tua, maupun guru agar proses pemulihan dapat berjalan secara menyeluruh.
Kehadiran para pimpinan ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah di Aceh Tamiang menjadi simbol kebersamaan, kepedulian, serta komitmen untuk terus berjalan bersama masyarakat terdampak hingga kehidupan kembali pulih. (Suri)






