MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Muhammad Ikhwan Ahada, mengingatkan umat Islam agar terus memperbarui ketakwaan dan menjaga keimanan di tengah derasnya arus kemajuan teknologi dan disrupsi sosial.
Pesan tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (02/12).
Ikhwan mengawali khutbah dengan mengajak jemaah mensyukuri nikmat Allah SWT yang tak terhitung jumlahnya. Menurutnya, sikap paling pantas seorang hamba di hadapan Allah adalah rasa syukur yang diwujudkan dalam ketaatan dan kesadaran akan keterbatasan manusia.
Ia juga menegaskan bahwa kehidupan dunia bersifat sementara, sementara kehidupan sejati adalah kehidupan setelah kematian.
“Dunia ini hanyalah fase singkat. Kehidupan yang sesungguhnya adalah setelah kita memasuki pintu gerbang kematian. Karena itu, bekal akhirat harus terus kita perbarui,” ujarnya.
Dalam khutbahnya, Ikhwan menguraikan makna takwa dengan merujuk pada penjelasan Ibrahim As-Sawi dalam kitab Minhaj As-Sawi. Ia menyebut, takwa mencakup empat unsur utama.
Pertama, al-khauf bil jalil, yakni menempatkan rasa takut hanya kepada Allah SWT, rasa takut yang justru melahirkan kedekatan, bukan menjauhkan diri.
Kedua, al-‘amalu bit tanzil, yaitu beramal berdasarkan perintah Allah dan Rasul-Nya sekaligus menjauhi segala larangan, karena seluruh perintah dan larangan Allah mengandung kebaikan bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Ketiga, al-isti‘dadu bi yaumir rakhil, yakni kesiapan menghadapi hari kepulangan dengan cara pandang hidup yang melampaui kepentingan duniawi. Kehidupan dunia dijalani semata sebagai sarana menambah bekal untuk kehidupan akhirat.
Keempat, sikap ridha bil qalil, yakni menerima dengan lapang dada segala ketentuan Allah atas diri, orang-orang tercinta, dan alam semesta.
Ikhwan kemudian mengaitkan konsep ketakwaan tersebut dengan realitas sosial kontemporer. Ia mengutip QS. Al-Qamar ayat 3 yang menggambarkan manusia yang mendustakan kebenaran dan mengikuti hawa nafsu, padahal setiap urusan telah memiliki ketetapan. Menurutnya, fenomena mengikuti hawa nafsu kini semakin nyata, ditandai dengan maraknya kebohongan, kemaksiatan, serta hilangnya rasa malu di ruang publik maupun digital.
“Musibah tidak jarang dijadikan bahan hiburan, bahkan penderitaan sesama menjadi candaan, baik di dunia nyata maupun di media sosial. Ini tanda lunturnya empati dan akal budi,” tegasnya.
Ikhwan juga menyinggung sejumlah pemikir modern. Ia menyebut Herbert Marcuse dengan konsep One Dimensional Man yang menggambarkan manusia modern mengalami reduksi dimensi kemanusiaan akibat dominasi teknologi. Nilai-nilai seperti empati, unggah-ungguh, dan kejernihan akal terhegemoni oleh kemajuan teknis.
Ia juga mengutip Alvin Toffler yang memperingatkan bahwa teknologi tanpa iman dapat menjebak manusia berpikir dan bertindak layaknya mesin, serba tergesa dan miskin pertimbangan, serta Carpenter dengan gagasan technotronic ethnocide, yakni tercerabutnya manusia dari akar komunitas dan nilai komunal akibat modernitas yang tak berpijak pada agama.
Menurut Ikhwan, Rasulullah SAW telah jauh hari mengingatkan umat tentang kondisi tersebut. Ia mengutip hadis riwayat Imam Muslim yang menyeru agar umat bersegera beramal sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap gulita, ketika seseorang bisa beriman di pagi hari namun kafir di sore hari.
Mengakhiri khutbahnya, Ikhwan mengajak umat Islam untuk tidak memusuhi kemajuan teknologi, tetapi menjadikannya sebagai sarana dakwah dan kebaikan, dengan tetap dibentengi iman dan ketakwaan. Ia menekankan pentingnya menyegerakan niat-niat baik dan amal saleh, karena manusia tidak pernah tahu kapan ajal menjemput.
“Besok bukanlah milik kita. Karena itu, setiap niat baik jangan ditunda. Semoga Allah menjaga keimanan kita dan memampukan kita membuktikan iman itu dalam amal yang saleh,” pungkasnya.






