Jumat, 2 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Kepemimpinan Abu Bakar As-Siddiq dan Tantangan Umat Pasca Wafat Rasulullah

Oleh ilham • • 3 Menit Min
Kepemimpinan Abu Bakar As-Siddiq dan Tantangan Umat Pasca Wafat Rasulullah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ghifari Yuristiadhi Masyhari Makhasi, memaparkan dinamika kepemimpinan umat Islam pasca wafatnya Rasulullah SAW dalam sebuah kajian yang digelar di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Senin (19/1).

Ghifari mengawali pemaparannya dengan menggambarkan suasana duka mendalam umat Islam setelah Rasulullah wafat pada tahun 11 Hijriah. Ia menyoroti kesedihan keluarga terdekat Nabi, terutama Fatimah Az-Zahra, putri kesayangan Rasulullah, yang kesehatannya menurun drastis akibat kehilangan sang ayah.

Enam bulan setelah wafatnya Rasulullah, Fatimah Az-Zahra juga meninggal dunia. “Rasulullah pernah bersabda bahwa siapa pun yang menyakiti Fatimah berarti menyakiti beliau. Kedekatan Rasulullah dengan putrinya itu sangat luar biasa,” ungkap Ghifari.

Situasi Madinah kala itu, lanjutnya, benar-benar terguncang. Kaum muslimin kehilangan sosok sentral yang selama ini menjadi rujukan segala persoalan, baik keagamaan maupun sosial. Kota Madinah yang telah berkembang menjadi pusat peradaban tiba-tiba diliputi kebingungan.

Ia menuturkan reaksi emosional Umar bin Khattab yang sempat menolak kabar wafatnya Rasulullah. Sebaliknya, Abu Bakar As-Siddiq tampil lebih tenang dan menenangkan umat dengan membacakan Surah Ali Imran ayat 144, yang menegaskan bahwa Muhammad hanyalah seorang rasul dan bahwa wafatnya Nabi tidak boleh membuat umat berpaling dari ajaran Islam.

“Di momen itulah kematangan Abu Bakar terlihat. Ia menjadi jangkar psikologis umat,” kata Ghifari.

Menurutnya, Abu Bakar memiliki kedekatan panjang dengan Rasulullah, termasuk saat mendampingi hijrah dan bersembunyi di Gua Tsur. Ia juga kerap ditunjuk Rasulullah menjadi imam ketika Nabi sakit, sebuah isyarat kepercayaan yang besar.

Ghifari kemudian mengulas proses penentuan pemimpin umat yang berlangsung dinamis di Saqifah Bani Sa’idah. Perdebatan melibatkan kelompok Muhajirin, Ansar, serta pendukung Ali bin Abi Thalib. Beberapa nama muncul sebagai calon pemimpin, di antaranya Abu Bakar, Ali bin Abi Thalib, dan Sa’ad bin Ubadah.

Dalam suasana yang nyaris memecah persatuan umat, Abu Bakar menunjukkan kebijaksanaan politik dengan mengedepankan maslahat. Umar bin Khattab akhirnya membaiat Abu Bakar, diikuti para sahabat lain. Meski demikian, Ghifari menegaskan bahwa proses penerimaan kepemimpinan Abu Bakar tidak berlangsung instan dan membutuhkan waktu, termasuk dari Ali bin Abi Thalib yang baru memberikan baiat beberapa bulan kemudian.

“Peristiwa ini menunjukkan bahwa sejak awal wafatnya Rasulullah, benih-benih perpecahan sudah muncul. Tantangannya adalah bagaimana menyatukan kembali umat,” ujarnya.

Ghifari juga mengulas gelar As-Siddiq yang disematkan kepada Abu Bakar karena keteguhannya membenarkan peristiwa Isra Mikraj ketika banyak orang meragukannya.

Masa kekhalifahan Abu Bakar yang hanya berlangsung sekitar dua tahun (11–13 H) diwarnai berbagai krisis besar: munculnya nabi palsu, gelombang kemurtadan, penolakan membayar zakat, hingga pemberontakan sejumlah kabilah. Namun dengan ketegasan dan komitmen menjaga ajaran Islam, Abu Bakar berhasil menstabilkan kondisi umat.

Di bidang ekspansi wilayah, Abu Bakar melanjutkan rencana Rasulullah dengan mengirim pasukan ke Syam (Suriah) dan Irak. Khalid bin Walid memimpin ekspansi ke Irak, sementara Amr bin Ash dan beberapa panglima lain bergerak ke Syam. Meski Abu Bakar wafat sebelum menyaksikan sepenuhnya kemenangan di Syam, langkah-langkah strategisnya menjadi fondasi kejayaan Islam berikutnya.

Kontribusi penting lain dari Abu Bakar adalah inisiatif pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an yang sebelumnya tersebar di berbagai media. Atas saran Umar bin Khattab, Abu Bakar menugaskan Zaid bin Tsabit untuk menghimpun wahyu menjadi satu mushaf, demi menjaga keotentikan Al-Qur’an setelah banyak penghafal gugur di medan perang.

Selain itu, Abu Bakar merintis pendirian Baitul Mal sebagai lembaga keuangan negara. Melalui Baitul Mal, ia menyalurkan bantuan kepada masyarakat, bahkan memberikan santunan rutin kepada warga. Kebijakan ini menjadi cikal bakal sistem kesejahteraan dalam pemerintahan Islam.

Ghifari menekankan bahwa kepemimpinan Abu Bakar sarat nilai keteladanan: keteguhan iman, kebijaksanaan politik, serta keberpihakan pada kemaslahatan umat. Ia juga mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan konteks Indonesia hari ini, di mana ajaran Islam dapat dihadirkan secara bertahap melalui kebijakan publik yang inklusif, seperti sertifikasi halal yang bersifat universal dan membawa manfaat bagi seluruh masyarakat.

“Islam adalah agama maslahat. Nilai-nilainya bisa kita tarik perlahan ke ruang publik dengan bahasa yang bisa diterima semua kalangan,” ujarnya.

Menutup pemaparannya, Ghifari mengajak jamaah meneladani kepemimpinan Abu Bakar As-Siddiq sebagai inspirasi dalam menjaga persatuan umat dan menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam.

Tinggalkan Balasan