Selasa, 22 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Jika Tidak Menginfakkan Harta yang Dicintai, Apakah Allah SWT Benci ?

Oleh aanardianto 2 Menit Min
Jika Tidak Menginfakkan Harta yang Dicintai, Apakah Allah SWT Benci ?

MUHAMMADIYAH.OR.ID, SLEMAN – Merujuk surat Ali Imran ayat 92, disebutkan bahwa tidak akan seorang hamba mencapai kebajikan sempurna jika tidak menginfakkan atau menafkahkan harta yang dicintainya

Mengacu pada surat tersebut maka akan muncul sebuah pertanyaan oleh jemaah pengajian. Kira-kira apakah ketika seorang muslim tidak menginfakkan harta yang dicintainya, maka tidak dicintai atau dibenci oleh Allah SWT ?.

Menjawab keresahan jemaah atas penafsiran surat Ali Imran ayat 92 itu, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais menjawab pertanyaan itu kurang tepat, sebab Allah SWT Maha Segalanya – termasuk mengerti makhluknya.

Selain itu, imbuh Dahlan, dalam konteks berinfak juga ada ayat lain yang berkaitan dengan ibadurrahman. Di antaranya surat Al Furqan ayat 67, yang menerangkan bahwa dalam berinfak tidak boleh keseluruhan namun juga tidak boleh kikir atau pelit.

“Kita tetap menjadi hamba yang dicintai Allah, ketika kita berinfak itu tidak seluruhnya kita berikan, tapi juga tidak sangat pelit,….. yaitu berinfak di antara keduanya,” kata Dahlan Rais pada (10/1) di Sleman.

Kutipan ayat kedua yang diambil oleh Dahlan Rais ini memberikan kesempatan bagi setiap muslim untuk tetap bisa berinfak, meski tidak dengan harta atau barang yang sangat dicintainya – tapi sesuai dengan kemampuan.

Namun demikian, Al Furqan ayat 67 ini tidak boleh dijadikan alasan untuk berinfak dengan harta atau benda yang rendah nilai gunanya. Misalnya, jika seseorang bisa berinfak Rp. 100 ribu, namun karena ada ayat itu, dia berinfak Rp. 2.000.

“Allah Maha Pemurah, jadi kita bisa memilih tapi tetap saja marilah kita mencoba semaksimal mungkin,” imbuhnya.

Maka sebagai warga Muhammadiyah, Dahlan Rais mengajak untuk meneladani simbolnya yaitu matahari yang bersinar – matahari dapat diartikan memiliki semangat berbagi namun tak harap kembali.

“Matahari, apa maknanya?. Memberi. Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Bermuhammadiyah itu memang niatnya memberi,” tutur Dahlan Rais.

Tinggalkan Balasan