MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Nur Kholis, mengingatkan jamaah agar tidak terjebak dalam gemerlap modernitas dan budaya konsumerisme yang kian menguat.
Pesan itu ia sampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Jumat (30/01).
Ia menggambarkan bagaimana kehidupan masa kini dipenuhi oleh promosi gaya hidup mewah melalui media sosial, iklan barang premium, serta tekanan sosial yang menciptakan ukuran baru tentang kesuksesan—mulai dari merek pakaian hingga jenis kendaraan. Dalam kondisi seperti itu, uang menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia, dari urusan pendidikan hingga ibadah, dari kebutuhan sehari-hari hingga mimpi masa depan.
Namun, menurut Nur Kholis, ironinya justru banyak orang terpelajar yang memahami teori investasi, membaca buku keuangan, bahkan mengikuti seminar pengelolaan finansial, tetapi tetap hidup dalam kegelisahan ekonomi.
Tidak sedikit yang akhirnya terlilit utang demi memenuhi gaya hidup yang tidak sebanding dengan penghasilan.
“Hadirin, bagaimana kita sebagai muslim yang beriman dan berakal dapat menyikapi harta dengan bijak. Tidak hanya dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga dengan perilaku yang diridai oleh Allah serta kesadaran akan takdir dan hakikat kekayaan yang sejati,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa harta merupakan ujian sekaligus nikmat dari Allah. Hal itu, katanya, ditegaskan dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 155: “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Ayat tersebut, menurutnya, mengingatkan bahwa harta adalah bagian dari ujian kehidupan. Tidak selamanya hadir dalam jumlah banyak dan tidak selalu bertahan di tangan manusia. Yang terpenting adalah bagaimana cara menyikapinya—apakah dengan sabar, syukur, dan kebijaksanaan.
Nur Kholis kemudian mengutip pandangan penulis kontemporer Morgan Housel dalam buku The Psychology of Money yang menyatakan bahwa keberhasilan mengelola uang sedikit berkaitan dengan kecerdasan, tetapi sangat bergantung pada perilaku sehari-hari.
Ia menilai pandangan ini sejalan dengan sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan Imam Muslim:
“Orang beriman yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang beriman yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah dalam hal yang bermanfaat bagimu. Mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu lemah.”
Menurutnya, kekuatan yang dimaksud tidak hanya fisik, tetapi juga kekuatan mengelola harta dengan bijak, menghindari pemborosan, dan membiasakan hidup sederhana.
Ia mencontohkan banyak orang yang secara intelektual memahami pentingnya menabung dan investasi, tetapi dalam praktiknya sulit mengendalikan keinginan berbelanja, mengikuti tren, bahkan memamerkan kekayaan. Seorang ahli ekonomi pun, katanya, bisa panik dan menjual saham di titik terendah ketika pasar turun jika tidak mampu mengendalikan emosi. Sebaliknya, pedagang sederhana yang disiplin menabung sedikit demi sedikit justru dapat mengumpulkan dana haji atau pendidikan anak setelah bertahun-tahun.
Dalam khutbahnya, Nur Kholis juga menekankan pentingnya memahami konsep takdir. Ia mengutip Al-Qur’an: “Setiap bencana yang menimpa bumi dan yang menimpa dirimu sendiri semuanya telah tertulis dalam kitab sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah.”
Ayat ini, katanya, mengajarkan bahwa hidup tidak sepenuhnya berada dalam kendali manusia. Ada faktor keberuntungan dan risiko yang berada di luar perhitungan. Ia mencontohkan kisah Bill Gates dan Ken Evans yang dikemukakan Morgan Housel—dua sosok sama-sama cerdas, tetapi memiliki nasib berbeda karena faktor keberuntungan dan risiko.
Bill Gates memperoleh akses komputer sejak muda, sementara Ken Evans meninggal lebih awal akibat kecelakaan.
“Sebagai muslim kita menyebut ini sebagai qadarullah. Kita diperintahkan berikhtiar semaksimal mungkin, namun tetap berserah diri kepada Allah atas hasilnya. Jangan sombong ketika sukses dan jangan putus asa ketika gagal,” tegasnya.
Nur Kholis kemudian menguraikan perbedaan antara rich dan wealth. Mengutip Housel, ia menjelaskan bahwa rich adalah kekayaan yang tampak—mobil mewah, rumah besar, jam tangan mahal—sementara wealth adalah kekayaan yang tersimpan seperti tabungan, investasi, dan aset yang tidak dikonsumsi. Dalam Islam, konsep ini sejalan dengan ajaran zuhud dan qanaah.
Ia mengingatkan sabda Rasulullah Saw: “Kekayaan bukanlah dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.”
Sebagai ilustrasi, ia menyebut seorang penjual mi ayam yang setiap hari menyisihkan uang untuk ditabung hingga akhirnya mampu menunaikan ibadah haji. Secara kasat mata ia tidak terlihat kaya, tetapi memiliki kekayaan sejati. Sebaliknya, ada karyawan bergaji besar yang hidup penuh utang karena gemar membeli barang mewah demi pamer di media sosial—tampak kaya, namun miskin ketenangan dan kebebasan finansial.
Ia juga mengingatkan peringatan Al-Qur’an, “Alhākumut takātsur ḥattā zurtumul maqābir,” sebagai teguran keras bagi mereka yang terjebak gaya hidup konsumtif dan gemar pamer harta. Menurutnya, harta yang dipamerkan sejatinya telah hilang, sementara harta yang disimpan dan digunakan untuk kebaikanlah yang akan menjadi penolong di dunia dan akhirat.
Menutup khutbah, Nur Kholis merangkum tiga pesan utama, di antaranya:
Pertama, harta adalah amanat dan ujian yang harus dikelola dengan perilaku baik, bukan sekadar kecerdasan.
Kedua, mensyukuri setiap keberuntungan dan bersabar dalam setiap risiko karena semuanya berada dalam takdir Allah.
Ketiga, mengejar kekayaan sejati berupa ketenangan jiwa, simpanan yang bermanfaat, dan hidup yang penuh berkah—bukan sekadar tampak kaya di mata manusia.
Ia menutup dengan doa Rasulullah Saw agar umat diberi rasa takut kepada Allah yang menghalangi dari maksiat, ketaatan yang mengantarkan ke surga, serta keyakinan yang membuat musibah dunia terasa ringan.
Nur Kholis berharap Allah menjadikan kaum muslimin sebagai hamba-hamba yang pandai bersyukur, bijak mengelola rezeki, dan selalu mengutamakan akhirat daripada gemerlap dunia.






