Senin, 28 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Haedar Nashir Beberkan Alasan Muhammadiyah yang Tidak Berpolitik Praktis

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
Haedar Nashir Beberkan Alasan Muhammadiyah yang Tidak Berpolitik Praktis

MUHAMMADIYAH.OR.ID, KLATEN – Kiai Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah meninggalkan jejak, maupun catatan yang kini dijadikan acuan dan haluan ideologi Muhammadiyah baik konteks agama, politik, dan kemanusiaan.

Hal ini dijelaskan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir pada Rabu (7/1) dalam acara Darul Arqam Pimpinan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) di MTs Muhammadiyah Krakitan, Bayat, Kabupaten Klaten.

Lebih-lebih untuk konteks pandangan keagamaan, katanya, Muhammadiyah memiliki rujukan kuat dari kitab-kitab yang ditulis para santri Kiai Dahlan yang merupakan himpunan dari ajaran, sampai pidato-pidato Kiai Dahlan.

Rujukan ideologis yang bersifat keagamaan, imbuhnya, dapat ditemukan dalam pidato Kiai Dahlan yang berjudul Tali Pengikat Hidup. “Di dalam ini mengajarkan bagaimana memahami ajaran agama, apa isinya, bagaimana cara memahaminya, bagaimana maksud ayat, dan seterusnya,” katanya.

Dari berbagai rujukan yang dapat dilacak sanadnya ke Kiai Dahlan, Haedar menyimpulkan ideologi keagamaan Islam yang diajarkan oleh Kiai Dahlan adalah pandangan Islam yang berkemajuan, reformis, atau tajdid.

Beberapa sumber rujukan yang langsung dari Kiai Dahlan untuk digali dan dipelajari oleh warga Muhammadiyah meliputi Tujuh Ajaran Pikiran Pokok, Tujuh Belas Pokok Himpunan Al Qur’an, termasuk pidato Kiai Dahlan yang berjudul Tali Pengikat Hidup.

Sumber-sumber teks tersebut, kata Haedar, ada yang mencakup ketiga konteks ideologi Muhammadiyah yang meliputi keagamaan, politik, dan kemanusiaan. Namun amat sedikit sumber teks yang menerangkan pandangan politik Muhammadiyah.

Terkait dengan pandangan politik meskipun Kiai Dahlan tidak banyak menulis tentang ini, namun sejarah yang dapat dirujuk untuk menemukan posisi ideologi politik Muhammadiyah adalah ketika Rapat Tahunan 1918 di Yogyakarta.

Haedar Nashir menceritakan, dalam rapat tersebut hadir Agus Salim, tokoh Sarekat Islam (SI) diberikan ruang untuk berorasi. Dalam orasinya Agus Salim nyaris berhasil memengaruhi seluruh peserta untuk mengubah haluan Muhammadiyah menjadi organisasi politik.

Tak terkecuali Kiai Hadjid – salah satu santri Kiai Dahlan juga tertarik dengan pandangan tersebut. Meski tidak mendebat secara langsung argumentasi Agus Salim, namun Kiai Dahlan menolak dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis.

“Apakah Islam itu?, apakah hakikat dakwah Islam lewat Muhammadiyah itu?, dan bagaimana kita membawa Islam untuk menjadi pedoman hidup masyarakat, dan Islam dianggap oleh sebanyak mungkin masyarakat,” kata Haedar menirukan Kiai Dahlan.

Kemudian Kiai Dahlan menggunakan otoritasnya sebagai HB Muhammadiyah waktu itu dengan mengetuk palu sidang – dan pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah mewakili sikapnya, bahwa Muhammadiyah tetap berada di luar politik praktis.

Haedar Nashir pada kesempatan ini juga menyampaikan beberapa sumber bacaan bagi warga Muhammadiyah antara lain, Khittah, PHIWM, Dua Belas Langkah, MADM, Kepribadian Muhammadiyah, sampai Risalah Islam Berkemajuan.

Tinggalkan Balasan