MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto menegaskan bahwa ajaran Islam sejak awal hadir sebagai kekuatan pembangun peradaban yang unggul, maju, dan berkeadaban.
Hal itu disampaikannya dalam khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (23/01).
Menurut Agung, Islam bukan sekadar agama ritual, melainkan ajaran yang mendorong umatnya untuk meningkatkan kesejahteraan, menghadirkan kedamaian, serta memuliakan kehidupan manusia. Karena itu, umat Islam dituntut terus melakukan berbagai ikhtiar agar mampu membangun peradaban yang berkemajuan.
Ia mencontohkan transformasi besar yang dilakukan Nabi Muhammad SAW terhadap masyarakat Arab pra-Islam. Pada masa itu, masyarakat hidup dalam kondisi jahiliah, rendah literasi, sering berkonflik antarsuku, serta tidak diperhitungkan secara politik dan ekonomi karena wilayahnya tandus dan tidak produktif.
“Namun dalam waktu kurang dari 50 tahun, Nabi Muhammad berhasil mengubah masyarakat yang terbelakang itu menjadi umat yang bersatu, maju, dan berperadaban tinggi,” ujar Agung.
Transformasi tersebut, lanjutnya, dibangun di atas nilai-nilai tauhid yang melahirkan lima karakter utama yang seharusnya menjiwai pribadi Muslim Indonesia hari ini.
Pertama, integritas dan kejujuran.
Agung menjelaskan bahwa tauhid membentuk pribadi yang selalu berpihak pada kebenaran dan kebaikan. Seorang Muslim dituntut berkata jujur dan bersikap apa adanya, konsisten antara ucapan dan realitas. Integritas inilah yang menjadi fondasi kepercayaan (trust), modal penting dalam kehidupan global yang sarat jejaring dan kerja sama.
Kedua, semangat literasi dan penguasaan ilmu pengetahuan.
Ia menegaskan bahwa perintah membaca dan belajar datang lebih awal dibanding kewajiban salat lima waktu. Ayat pertama yang turun, Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq, menurutnya bukan hanya bermakna membaca Al-Qur’an, tetapi juga membaca realitas, ilmu pengetahuan, serta fenomena alam.
“Umat Islam sejak awal diperintahkan membangun tradisi literasi. Membaca warisan peradaban Yunani, Romawi, Persia, India, sekaligus ayat-ayat kauniyah,” katanya.
Agung juga mengutip hadis Nabi yang menyatakan bahwa mencari ilmu adalah kewajiban setiap Muslim. Karena itu, budaya belajar tidak boleh berhenti di lingkungan kampus saja, tetapi harus digerakkan di tengah masyarakat luas.
Ketiga, persaudaraan universal.
Nabi Muhammad, menurut Agung, menghapus identitas kesukuan dan kelas sosial yang sempit, menggantinya dengan persaudaraan universal. Tidak ada keunggulan Arab atas non-Arab, tidak ada perbedaan berdasarkan warna kulit atau status sosial. Yang membedakan manusia hanyalah ketakwaannya.
Nilai ini, lanjutnya, melahirkan sikap percaya diri sekaligus penghormatan kepada sesama, tanpa rasa minder di hadapan siapa pun.
Keempat, etos kemandirian dan etos kerja.
Agung menekankan pentingnya kemandirian ekonomi dan kerja keras. Ia mengutip hadis Nabi yang menyatakan bahwa memanggul kayu bakar untuk dijual lebih mulia daripada meminta-minta.
“Nabi mendorong umatnya untuk mandiri, tidak mudah bergantung kepada orang lain,” ujarnya.
Selain itu, Islam juga mengajarkan penghargaan terhadap waktu dan profesionalisme dalam bekerja. Allah, katanya, mencintai hamba yang menuntaskan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh dan berkualitas.
Kelima, menegakkan keadilan dan kesetaraan.
Agung menegaskan bahwa Islam meletakkan semua manusia setara di hadapan hukum dan kesempatan hidup. Ia mengingatkan hadis populer Nabi yang menyatakan bahwa sekalipun Fatimah putri Muhammad mencuri, maka hukuman tetap ditegakkan.
Pesan ini, menurutnya, menunjukkan komitmen Islam terhadap keadilan tanpa pandang bulu, sebuah cita-cita yang harus terus diperjuangkan dalam konteks keindonesiaan hari ini.
Dalam bagian penutup khutbahnya, Agung menjelaskan bahwa jargon Muhammadiyah ar-ruju’ ilal Qur’an was-Sunnah bukan sekadar memisahkan antara yang sunnah dan bid’ah atau tauhid dan syirik. Lebih dari itu, Muhammadiyah ingin menghidupkan kembali roh Islam generasi awal—Islam yang mencerahkan, memajukan, dan melahirkan keunggulan peradaban.
“Api semangat itulah yang ingin dibawa Muhammadiyah agar Islam di abad ke-21 tampil sebagai Islam yang berkeadaban dan berkemajuan,” tegasnya.
Ia menambahkan, tujuan Muhammadiyah sebagaimana tercantum dalam Mukadimah Anggaran Dasar adalah mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur—masyarakat yang aman, damai, dan sejahtera—serta mengantarkan umat menuju kebahagiaan akhirat, jannatun na’im.
Agung berharap nilai-nilai tersebut terus dihidupkan dalam kehidupan umat Islam, sehingga Islam benar-benar menjadi agama yang relevan sepanjang zaman dan mampu menghadirkan kebaikan di dunia sekaligus kemuliaan di akhirat.






