MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, Yusuf Hanafiah, mengajak umat Islam untuk menjadikan pergantian tahun sebagai momentum memperbaiki kualitas diri dan keimanan. Hal itu disampaikannya dalam ceramah Ahad pagi di Masjid KH Sudja, Yogyakarta, Ahad (4/1).
Mengawali tausiyahnya, Yusuf Hanafiah menyampaikan refleksi atas sebuah peristiwa tragis tentang seorang remaja yang meninggal dunia akibat tenggelam di rawa saat bermain air.
Peristiwa tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa nikmat hidup dan kesehatan adalah karunia besar dari Allah yang patut disyukuri dan dijaga.
“Usianya masih sangat muda, tapi Allah sudah memanggilnya. Ini mengingatkan kita bahwa nikmat hidup, nikmat sehat, dan kesempatan beribadah tidak boleh disia-siakan,” ujarnya.
Ia mengajak jamaah untuk mensyukuri tiga bentuk kesehatan sekaligus, yakni kesehatan fisik, kesehatan hati, dan kecukupan rezeki. Meski demikian, Yusuf menegaskan bahwa kesehatan materi bukanlah segalanya dan tidak boleh menjadi tujuan utama hidup.
Memasuki tema utama, Yusuf Hanafiah menyoroti makna pergantian waktu dan tahun dalam perspektif Islam. Ia mengingatkan jamaah pada firman Allah dalam Surah Al-‘Ashr, bahwa seluruh manusia berada dalam potensi kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan kesabaran.
“Islam adalah agama yang sangat menekankan penghargaan terhadap waktu. Bahkan Allah sendiri bersumpah demi waktu,” tegasnya.
Menurut Yusuf, pergantian tahun sejatinya adalah momen biasa. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana seseorang mampu menjadi pribadi yang lebih baik tanpa harus menunggu momen tertentu.
“Untuk berubah menjadi lebih baik, tidak perlu menunggu tahun baru. Kalau umur masih diberi kesempatan, perubahan harus dilakukan sekarang,” katanya.
Dalam ceramahnya, Yusuf Hanafiah menyampaikan tiga langkah utama untuk menjaga semangat keimanan agar terus tumbuh. Pertama, muhasabah atau introspeksi diri secara rutin. Ia mengutip pesan Umar bin Khattab agar setiap Muslim menghisab dirinya sebelum kelak dihisab di akhirat.
“Luangkan waktu untuk merenung. Tanyakan pada diri sendiri tentang ibadah, akhlak, hubungan dengan orang tua, tetangga, dan sesama,” ujarnya.
Langkah kedua adalah taubat nasuha, yaitu taubat yang sungguh-sungguh. Yusuf menjelaskan bahwa taubat sejati harus memenuhi tiga unsur: menyesali dosa, berhenti dari perbuatan dosa, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya.
“Taubat itu tidak cukup dengan penyesalan saja. Harus ada komitmen berhenti dan tekad tidak mengulanginya,” jelasnya.
Langkah ketiga adalah membersihkan hati dari penyakit-penyakit batin, seperti iri, dengki, riya, sombong, dan ujub. Ia mengingatkan bahwa penyakit hati dapat merusak seluruh amal seseorang jika dibiarkan.
Untuk menjaga kesehatan hati, Yusuf Hanafiah menekankan pentingnya membiasakan membaca Al-Qur’an. Ia menyebut Al-Qur’an sebagai cahaya dan obat yang mujarab bagi penyakit hati, sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad saw.
“Membaca Al-Qur’an secara konsisten, terutama di pagi dan malam hari, akan membawa ketenangan, semangat, dan memperbaiki suasana rumah tangga,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan besarnya pahala membaca Al-Qur’an, bahkan untuk satu huruf saja bernilai sepuluh kebaikan. Yusuf mengajak jamaah mempraktikkan langsung membaca beberapa ayat sebagai motivasi agar semakin mencintai Al-Qur’an.
Menutup ceramahnya, Yusuf Hanafiah mengajak jamaah untuk meningkatkan amal saleh sebagai cara menaikkan iman dan menghapus kesalahan masa lalu. Ia mengibaratkan amal saleh seperti air bening yang secara perlahan menghapus warna keruh dosa dalam diri manusia.
“Tahun baru seharusnya berarti semangat baru dalam beramal saleh. Semakin hari, semangat itu harus semakin bertambah,” pungkasnya.






