Minggu, 27 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

APPTIMA Dorong Kampus Muhammadiyah Lestarikan Literasi untuk Peradaban

Oleh aanardianto • • 2 Menit Min
APPTIMA Dorong Kampus Muhammadiyah Lestarikan Literasi untuk Peradaban

MUHAMMADIYAH.OR.ID, MEDAN – Sebagai wujud komitmen dalam menumbuhkan tradisi literasi dan penerbitan buku, Afiliasi Penerbit Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (APPTIMA) selenggarakan Musyawarah Nasional III di Auditorium Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) pada (16/1).

Munas APPTIMA yang diadakan di dua kota ini, Medan dan Parapat dari 15-17 Januari 2026, mengangkat tema “Melejitkan Gerakan Literasi untuk Peradaban Utama”, sebab di tengah tantangan global literasi budaya—menjadi kunci untuk membangun sumber daya manusia yang unggul, beretika, dan berdaya saing.

Sebagai ketua panitia, sekaligus ketua UMSU Press, Muhammad Arifin menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh peserta Munas dan komitmennya dalam menyelenggarakan Munas kali ini dengan semaksimal mungkin walaupun sempat molor dari jadwal yang seharusnya.

Ketua APPTIMA Budi Nugroho memberikan apresiasi dan terima kasih kepada UMSU Press sebagai tuan rumah yang menyambut dengan baik para peserta munas, dan menuturkan bahwa Munas APPTIMA kali ini sebagai pemanasan bagi Muktamar Muhammadiyah tahun 2027 yang yang akan datang. Ia berharap APPTIMA ke depan lebih maju dan optimal lagi.

Dari pihak pimpinan UMSU dihadiri oleh Wakil Rektor I, Muhammad Arifin mengajak para penerbit yang tergabung dalam APPTIMA untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, dan bersama-sama dalam memajukan PTMA (Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah) dan persyarikatan Muhammadiyah itu sendiri.

Ia juga menceritkan kancah UMSU dan komitmennya dalam memajukan pendidikan, bangsa dan berperan serius di tingkat internasional. Ia mengingatkan, bahwa sudah saatnya para penerbit memiliki “digital mindset”, di mana ada tren peralihan buku fisik ke bentuk digital, termasuk publikasi-publikasi lainnya, seperti jurnal, maka penerbit harus mempersiapkan diri semaksimal mungkin menghadapi tantangan ini.

Sementara itu, Wakil Sekretaris I Diktilitbang PP Muhammadiyah, Moh. Mudzakkir menuturkan, tradisi penerbitan menjadi bagian tidak terlepaskan dari perjalanan Muhammadiyah sejak awal lahirnya, hal ini tercermin dalam Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah.

“Ada 4 bidang kerja persyarikatan Muhammadiyah di awal berdirinya, salah satunya adalah Majelis Pustaka, yang dahulu namanya Bahagian Pustaka. Wujudnya yaitu dengan berdirinya tabloid Suara Muhammadiyah di tahun 1915 dan bertahan hingga saat ini,” katanya.

Sedangkan alasan Medan dipilih tuan karena memiliki rekam jejak dalam tradisi penerbitan, sejak tahun 1920-an yang saat itu dijuluki Paris van Sumatra, Medan menjadi tempat tujuan industrialisasi, sehingga berkembang pula industri penerbitan.

Dalam rekam jejak Muhammadiyah, buya HAMKA juga pernah menerbitkan “Pedoman Masyarakat” di kota ini. Ia menekankan bahwa APPTIMA adalah media untuk belajar, “sharing knowledge”, “ta’awun” (saling menolong). Ia berharap APPTIMA dapat berperan strategis dalam pengembangan keilmuan.

Tinggalkan Balasan