Senin, 21 September 2026
ID EN AR
ID EN AR

Abdul Mu’ti: Iman Harus Melahirkan Amal yang Memperbaiki dan Memberi Manfaat

Oleh timredaksi 2 Menit Min
Abdul Mu’ti: Iman Harus Melahirkan Amal yang Memperbaiki dan Memberi Manfaat

MUHAMMADIYAH.OR.ID, LHOKSUMAWE – Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, Abdul Mu’ti, menyampaikan catatan penting tentang makna kehadiran manusia di dunia dan akhirat dalam Kuliah Subuh di Masjid Baiturrahman, Kota Lhokseumawe pada Jum’at (30/1).

Abdul Mu’ti mengajak jamaah membaca Surah Al-‘Ashr sebagai fondasi utama dalam memahami hakikat manusia, kepribadian, serta orientasi hidup dunia dan akhirat. Menurutnya, Surah Al-‘Ashr memberikan gambaran yang sangat jelas tentang siapa manusia yang beruntung dan siapa yang merugi.

Ia menjelaskan bahwa dalam kehidupan ini terdapat empat kelompok manusia yang dapat dilihat dari kualitas iman, kepribadian, dan dampak kehadirannya bagi sesama.

Pertama, Mufsid, yakni manusia yang rusak iman dan kepribadiannya, serta gemar membuat kerusakan di muka bumi. Kelompok ini memiliki ciri-ciri sebagaimana orang munafik: apabila berbicara berdusta, mengingkari janji, dan berkhianat terhadap amanah. Mereka kerap menipu orang lain, padahal sejatinya sedang menipu diri sendiri.

Kedua, Muflis, yaitu orang yang secara lahiriah tampak taat beribadah—shalat, zakat, bahkan berhaji—dan mengaku beriman kepada Allah, namun dalam keseharian justru menyakiti orang lain. Ucapannya kasar, perilakunya merugikan, dan tak jarang terlibat dalam kemaksiatan, seperti korupsi.

“Shalatnya tampak khusyuk, terlihat baik di mata manusia, tetapi di akhirat justru merugi,” ujarnya. Sifat iri, dengki, dan gemar mencari-cari kesalahan orang lain membuat amal ibadahnya menjadi sia-sia.

Ketiga, Muslih, yakni manusia yang senantiasa berbuat baik dan menciptakan kebaikan, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang lain. Inilah kelompok manusia yang disebut beruntung dalam Surah Al-‘Ashr: mereka yang beriman dan beramal shalih. Abdul Mu’ti menegaskan perbedaan antara shalih dan muslih. Orang shalih cukup merasa baik untuk dirinya sendiri, sementara muslih menghadirkan kebaikannya untuk orang lain. Ia mengkritisi fenomena “yang penting saya baik meski tidak beragama”, atau sebaliknya “beragama tetapi tidak mencerminkan kebaikan”. Menurutnya, iman dan amal tidak boleh dipisahkan. Iman memberi makna pada amal, dan amal menjadi bukti dari iman.

Dalam konteks amal shalih, Abdul Mu’ti menegaskan terdapat empat unsur utama yakni Niat yang ikhlas karena Allah (shalihun niyyah), cara yang sesuai dengan syariat, mengandung maslahat dan manfaat bagi orang lain, serta bersifat ishlah, yakni melahirkan perbaikan dan perubahan ke arah yang lebih baik.

Ia menegaskan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesama. Kehadirannya membawa maslahat dan kebaikan bagi lingkungan di sekitarnya.

Keempat, Muhsin, yaitu tingkatan di atas muslih. Jika muslih adalah orang yang berbuat baik, maka muhsin adalah mereka yang berusaha menghadirkan kebaikan dengan cara yang terbaik dan paling sempurna. “Berbuat baik tidak boleh asal-asalan. Harus dilakukan dengan sungguh-sungguh, optimal, dan unggul,” tegasnya.

Menurut Mu’ti, umat Islam tidak cukup hanya menjadi baik, tetapi harus menjadi umat yang unggul—top markotop—dalam kualitas iman, amal, dan kontribusi sosial.

Di akhir tausiyahnya, Mu’ti mengajak seluruh jamaah untuk terus meningkatkan kualitas diri, agar tidak terjebak dalam kelompok manusia yang merugi, melainkan menjadi bagian dari kelompok muslih dan muhsin, yakni manusia beriman yang menghadirkan kebaikan dan keunggulan bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Tinggalkan Balasan