Setiap kali kalender mendekati lembaran akhir, ruang publik sering kali riuh oleh berbagai prediksi masa depan. Fenomena munculnya ramalan-ramalan nasib, mulai dari kondisi ekonomi hingga peruntungan pribadi, seolah menjadi ritual tahunan yang tak terelakkan.
Manusia memang memiliki ketertarikan alami terhadap langit. Ketertarikan manusia terhadap benda-benda langit telah ada sejak ribuan tahun lalu. Bangsa kuno seperti Babilonia, Mesir, China, India, Persia, dan Yunani memiliki catatan panjang mengenai gerak bintang.
Bangsa Babilonia, misalnya, memberikan sumbangan besar bagi ilmu pengetahuan, namun di saat yang sama mereka mewariskan masalah besar berupa astrologi. Pada masa itu, memprediksi kejadian di Bumi dengan mengaitkannya pada posisi benda langit dianggap sebagai rutinitas untuk memaknai pesan dari penguasa alam.
Dalam perspektif modern, astrologi didefinisikan sebagai upaya mengetahui nasib atau karakter seseorang dengan menghubungkannya pada posisi benda-benda langit. Praktik ini sering mewujud dalam bentuk horoskop atau buku petunjuk ramalan yang mencoba menerka masa depan.
Astronomi Versus Astrologi
Penting bagi masyarakat untuk memahami perbedaan tajam antara astronomi dan astrologi. Meskipun keduanya sama-sama memandang langit, menurut pakar ilmu falak Muhammadiyah Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, perspektif yang digunakan sangat bertolak belakang:
- Astronomi mempelajari gerak dan posisi benda langit secara fisik serta matematis demi pengembangan keilmuan dan peradaban.
- Astrologi menganggap benda langit sebagai pertanda magis bagi manusia, yang pada zaman dahulu bahkan dipuja sebagai dewa-dewi sakti.
Islam sendiri memiliki sejarah panjang dengan ilmu falak. Awalnya, astronomi Islam memang bersentuhan dengan astrologi karena pengaruh kebiasaan hidup masyarakat Arab di padang pasir dan keterpengaruhan tradisi bangsa pra-Islam. Namun, risalah yang dibawa Nabi Muhammad secara perlahan mengikis praktik-praktik yang menyimpang tersebut.
Islam secara tegas menyatakan bahwa nasib, baik itu bahagia maupun celaka, mutlak berada di bawah kekuasaan Allah. Mengaitkan konstelasi bintang dengan karakter atau nasib seseorang adalah tindakan terlarang. Al-Qur’an mengecam praktik semacam ini, sebagaimana tercantum dalam ayat berikut:
قُلْ لَّآ اَمْلِكُ لِنَفْسِيْ نَفْعًا وَّلَا ضَرًّا اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗوَلَوْ كُنْتُ اَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِۛ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوْۤءُ ۛاِنْ اَنَا۠ اِلَّا نَذِيْرٌ وَّبَشِيْرٌ لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ࣖ ١٨٨
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat bagi diriku, kecuali apa yang Allah kehendaki. Seandainya aku mengetahui yang gaib, niscaya aku akan berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan bahaya tidak akan menimpaku. Aku hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi kaum yang beriman.” (Q.S. Al-A’raf: 188).
Ayat ini secara prinsip menutup ruang bagi klaim ramalan masa depan, terlebih yang bersandar pada posisi benda langit. Al-Qur’an juga mengecam praktik-praktik pencarian perlindungan dan informasi gaib yang menyesatkan, sebagaimana firman-Nya:
وَّاَنَّهٗ كَانَ رِجَالٌ مِّنَ الْاِنْسِ يَعُوْذُوْنَ بِرِجَالٍ مِّنَ الْجِنِّ فَزَادُوْهُمْ رَهَقًاۖ ٦
“Sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari (kalangan) manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari (kalangan) jin sehingga mereka (jin) menjadikan mereka (manusia) bertambah sesat.” (Q.S. Al-Jinn: 6).
Selain itu, Nabi Muhammad juga memberikan peringatan keras melalui sabda-sabdanya agar umat menjauhi praktik perdukunan berkedok ramalan bintang:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَالْحَسَنِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. (رواه أحمد)
“Dari Abu Hurairah dan Al Hasan dari Nabi saw., beliau bersabda: Barangsiapa mendatangi seorang dukun atau peramal kemudian membenarkan apa yang dikatakan, maka orang tersebut telah kafir terhadap wahyu yang diturunkan kepada Muhammad saw.” (HR. Ahmad).
عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً. (رواه مسلم)
“Dari sebagian istri Nabi saw., dari Nabi saw., beliau bersabda: Barangsiapa mendatangi tukang tenung lalu bertanya tentang suatu hal, maka shalat orang tersebut tidak akan diterima selama empat puluh malam.” (HR. Muslim).
Namun pada saat yang sama, Islam justru mendorong prediksi berbasis ilmu pengetahuan. Penentuan waktu salat melalui gerak semu Matahari, penetapan awal bulan melalui hisab, serta perhitungan kalender hijriah adalah contoh nyata bahwa Islam mengafirmasi prediksi ilmiah. Prediksi dalam konteks ini bukan menebak, melainkan menghitung dan memperkirakan secara rasional.
Inilah yang melahirkan tradisi astronomi Islam yang kuat dan berpengaruh. Tokoh-tokoh seperti al-Biruni, al-Battani, Ibn Yunus, hingga Ibn Syathir tidak menolak prediksi, justru menyempurnakannya dengan matematika, observasi, dan koreksi ilmiah. Prediksi gerak benda langit menjadi semakin presisi, sekaligus terbebas dari klaim magis tentang nasib manusia.
Dengan demikian, maraknya ramalan akhir tahun sesungguhnya menunjukkan kegagalan membedakan antara prediksi ilmiah dan ramalan spekulatif. Islam tidak mengajarkan umatnya untuk pasrah pada bintang, tetapi mendorong perencanaan masa depan berbasis ilmu, ikhtiar, dan etika. Masa depan boleh diprediksi sejauh mana tunduk pada hukum sebab-akibat yang dapat dipelajari, tetapi tetap diserahkan hasil akhirnya kepada kehendak Allah Swt.
Refleksi akhir tahun, karena itu, seharusnya diarahkan pada muhasabah dan perencanaan rasional, bukan pada horoskop dan ramalan-ramalan gaib yang sangat spekulatif. Langit memang layak dikaji, tetapi bukan untuk membaca takdir.
Dengan demikian, astronomi Islam tumbuh menjadi ilmu pasti yang praktis melalui matematika dan fisika, berbeda dengan astrologi yang hanya berputar pada ramalan magis yang tidak berdasar.
Referensi:
Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, “Astrologi vis a vis Astronomi”, https://tarjih.or.id/astrologi-vis-a-vis-astronomi/, diakses pada 31 Desember 2025.
Ruslan Fariadi, “Hukum Mempercayai Ramalan Zodiak dan Praktek Perdukunan Digital”, slide materi pengajian Tarjih, https://tarjih.or.id/wp-content/uploads/2023/01/Ramalan-Zodiak-dan-Praktek-Perdukunan-Digital.pdf, diakses pada 31 Desember 2025.






