MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Wisatawan libur Nataru yang melancong ke DI. Yogyakarta diminta waspada, sebab cuaca ekstrem masih terjadi merata di kabupaten/kota se DI.Yogyakarta.
Imbauan itu disampaikan Ketua Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Budi Setiawan pada Selasa (30/12) dalam Dialog Tanggap Bencana yang diselenggarakan RRI Jogja.
Saat ini di beberapa titik di kabupaten/kota se-DI. Yogyakarta dilanda bencana hidrometeorologi yang menyebabkan beberapa pohon tumbang dan merusak bangunan. Maka hujan ekstrem ini tidak boleh disepelekan.
Terlebih Bulan Desember sampai Januari masih menjadi puncak musim hujan, maka kewaspadaan masyarakat dibutuhkan untuk mengantisipasi berbagai potensi ancaman bencana yang bisa datang sewaktu-waktu.
Menurutnya, semua wilayah di Indonesia memiliki potensi bencana masing-masing, termasuk DI. Yogyakarta. Terlebih DI. Yogyakarta sebagai wilayah tujuan utama para wisatawan libur Nataru, maka diminta untuk waspada.
Selain kepada wisatawan, Budi juga menyampaikan pesan kewaspadaan kepada pengelola destinasi wisata supaya proaktif memberikan imbauan dalam pencegahan bencana – khususnya terkait dengan cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir ini.
“Kita mengetahui tempat-tempat destinasi wisata itu punya kecenderungan tingkat risiko yang lebih tinggi. Karena memang kemudian tempat wisata baik Pantai Selatan atau di pegunungan ada resiko yang menimbulkan longsor,” ungkap Budi.
Imbauan Waspada Cuaca ekstrem Bukan Menakuti Wisatawan
Selain tanah longsor, banjir juga menjadi ancaman bencana di kabupaten/kota se-DI. Yogyakarta. Maka kewaspadaan juga harus dimiliki pemandu wisata, dan wisatawan itu sendiri yang sedang berlibur di pantai karena ombak tinggi.
“Rombongan sekolah hendaknya pimpinan sekolah atau pimpinan wisata bisa mencari berita-berita tentang cuaca baik dari BMKG terutama, atau dari instansi yang lain sehingga mengetahui kondisi cuaca destinasi wisata tersebut,” pesannya.
Budi Setiawan menambahkan, imbauan cuaca ekstrem kepada pelaku wisata ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai bentuk kewaspadaan sehingga tidak ada korban maupun pihak-pihak yang dirugikan.
“Kemarin banyak bus yang terjebak, tidak jadi ke Pantai Selatan karena terjebak banjir di Bantul Selatan,” ungkap Budi.
Imbauan peringatan cuaca ekstrem menurut Budi tidak hanya ditujukan kepada wisatawan, tapi lebih-lebih juga untuk keluarga di rumah. Budi meminta melalui grup media sosial keluarga, imbauan kondisi cuaca disebarkan.
Akan tetapi, di sisi lain juga perlu untuk mewaspadai informasi hoax yang sumbernya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, di situasi seperti sekarang info hoax mudah tersebar di ruang publik melalui media sosial.






