Jumat, 25 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Mubazir Bukan Sekadar Makanan, tetapi Mandek Berinovasi Teknologi

Oleh admin • • 2 Menit Min
Mubazir Bukan Sekadar Makanan, tetapi Mandek Berinovasi Teknologi

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JAKARTA – Larangan berlaku mubazir dalam Surat Al Isra ayat 27 tidak hanya berlaku di meja makan dengan menyia-nyiakan makanan. Tapi Al Isra ayat 27 ini harus dilihat menggunakan ‘kacamata’ yang lebih luas.

Menggunakan pendekatan ‘tafsir berkemajuan’, Ketua Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Bambang Setiaji menyebut, pelaku mubazir yang jadi teman setan itu tidak hanya karena menyia-nyiakan makanan.

Guru Besar Bidang Ekonomi ini mengajak melihat Surat Al Isra ayat 27 yang berisi tentang larangan manusia dan umat Islam untuk berlaku mubazir atau beruat sia-sia ini dengan menggunakan spektrum yang lebih luas.

Sebab menurutnya perilaku mubazir tak sekadar menyia-nyiakan makanan. Akan tetapi mubazir yang lebih besar ialah melakukan pembiaran teknologi yang sudah ada – tidak diperbarui, dan umat Islam sudah merasa puas dengan teknologi tersebut.

“Itu teman setan itu, tidak maju. Harus maju terus. Mengapa, karena penduduk makin banyak,” tuturnya pada (1/12) di Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) Jakarta.

Umat manusia semakin banyak, maka teknologi yang dibutuhkan semakin canggih untuk bisa mencukupi kebutuhan umat manusia. Di antara kebutuhan yang mendesak adalah alat transportasi seperti pesawat yang saat ini terus melakukan inovasi teknologi.

Dia menjelaskan, dengan teknologi yang semakin canggih akan mengurangi penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk pesawat terbang. Melalui inovasi, BBM yang digunakan pesawat terbang lebih sedikit, sehingga tidak mubazir.

“Itu mubazir mempertahankan teknologi lama. Sebagai umat Islam harus teknologi baru, karena BBM menghasilkan polusi kan,” ungkapnya.

Sebagai upaya mengurangi polusi dan dampak lingkungan, Bambang Setiaji mendukung dan mendorong PTMA untuk melakukan inovasi teknologi, salah satunya di bidang transportasi yang tidak lagi menggunakan BBM tapi hidrogen.

“Jadi alat mubazir itu bukan sederhana, itu teknologi yang persaingan di dunia itu masalah efisiensi. Siapa lebih efisien, dialah yang menang,” katanya.

Keberhasilan memproduksi teknologi yang efisien – dan murah, katanya, telah dilakukan oleh Cina. Bahkan menurutnya Cina ini telah berhasil menggali substansi atau kandungan inti dari larangan mubazir dalam Al Qur’an.

Selain itu ledakan jumlah penduduk dunia juga terus membutuhkan teknologi inovatif, lebih-lebih di bidang pangan. Jumlah penduduk bumi yang telah mencapai 8,2 miliar jiwa semuanya butuh makan, dan urusan makan ini menjadi tantangan berat saat ini dan ke depan.

Maka Muhammadiyah sebagai organisasi Islam Berkemajuan diminta untuk menjadi bagian dari inovasi maju tersebut. Tentu dengan berlandaskan pada Al Qur’an dan Sunnah sebagai pijakan gerakan.

“Jadi mempertahankan yang lama itu adalah sikap mubazir. Maka Muhammadiyah itu berkemajuan, harus selalu melihat teknologi baru,” katanya.

Mubazir itu bukan masalah yang sederhana. Bambang Setiaji menjelaskan, konteks mubazir ini juga menjadi bingkai dari terjadinya persaingan dagang global yang saat ini didominasi oleh Amerika Serikat dan Cina.

Tinggalkan Balasan