MUHAMMADIYAH.OR.ID, MEDAN — Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Muhammad Sayuti menegaskan pentingnya rasa syukur, amanah kepemimpinan, serta penguatan strategi kelembagaan dalam menjaga keberlanjutan dan keunggulan amal usaha Muhammadiyah, khususnya bagi Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Hal tersebut disampaikan dalam agenda pelantikan Wakil Direktur Pascasarjana dan Wakil Dekan I dan III UMSU periode tahun 2025-2029 pada Jumat (27/12).
Dalam kesempatan itu, Sayuti mengajak seluruh sivitas akademika UMSU untuk meneladani nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah sejak masa awal berdiri. Ia merujuk pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Anfal ayat 26–27 yang mengingatkan umat Islam agar tidak melupakan masa-masa sulit ketika masih kecil dan lemah, sebagai fondasi membangun rasa syukur di tengah berbagai capaian yang diraih saat ini.
Menurut Sayuti, Muhammadiyah dan UMSU saat ini berada pada fase kemajuan yang patut disyukuri. Dari awal perjuangan yang serba terbatas, Muhammadiyah kini mengelola ratusan perguruan tinggi, ribuan sekolah dan madrasah, ratusan pesantren, serta berbagai amal usaha di bidang sosial, kesehatan, dan ekonomi. Capaian tersebut menjadi modal sosial yang sangat berharga untuk terus melangkah maju.
Keunggulan Muhammadiyah juga tercermin dari kiprah internasionalnya, antara lain melalui pendirian sekolah dan perguruan tinggi di luar negeri, termasuk di Australia dan Malaysia. Dalam sejarah pendidikan tinggi Indonesia, Muhammadiyah bahkan tercatat sebagai organisasi masyarakat pertama yang memiliki kampus di luar negeri.
Kepercayaan global ini, kata Sayuti, harus dijawab dengan rasa syukur yang diwujudkan dalam kerja nyata.
“Jika kita bersyukur, Allah akan menambah nikmat. Namun jika tidak, itu justru menjadi peringatan bagi kita,” ujarnya. Ia mengingatkan agar pimpinan dan sivitas akademika tidak terjebak pada sikap pesimis atau sekadar mengeluh.
Dalam pengembangan UMSU ke depan, Sayuti menegaskan bahwa kemajuan institusi tidak dapat dilepaskan dari penguatan ideologi dan tata kelola organisasi yang amanah. Muhammadiyah disebut memiliki “DNA organisasi” yang membuatnya mampu bertahan dan terus melahirkan amal usaha selama lebih dari satu abad.
Nilai-nilai ideologis Muhammadiyah, seperti keikhlasan, profesionalisme, dan integritas, harus menjadi shared values yang menjiwai seluruh unsur pimpinan dan pengelola amal usaha. Penguatan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dipandang sebagai “baterai” yang menjaga keberlanjutan gerakan Muhammadiyah.
“Menjadi pimpinan di Muhammadiyah bukan sarana untuk mencari hidup, tetapi untuk menghidupi persyarikatan,” tegas Sayuti. Amanah jabatan, mulai dari rektor hingga pimpinan fakultas, harus dijalankan secara profesional dan berorientasi pada kemajuan institusi, bukan kepentingan pribadi.
Ia juga menekankan pentingnya tata kelola yang bersih dan transparan. Pengelolaan aset dan keuangan amal usaha harus sepenuhnya diabdikan untuk kepentingan persyarikatan sebagai bentuk tanggung jawab moral dan ideologis.
Menghadapi tantangan internal dan eksternal, Sayuti mendorong UMSU untuk terus melakukan continuous improvement melalui inovasi, penguatan sumber daya manusia, serta peningkatan kualitas riset dan penguasaan sains dan teknologi. Persaingan dengan perguruan tinggi negeri dan swasta menuntut strategi yang adaptif dan kolaboratif.
Bidang riset dan publikasi ilmiah menjadi salah satu fokus utama. Sayuti mengajak para dosen menjadikan riset sebagai bagian dari jihad intelektual dan amal jariyah, yang tidak hanya meningkatkan reputasi institusi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.
Selain itu, peningkatan kapasitas tenaga kependidikan melalui pelatihan dan sertifikasi dinilai penting dalam mendukung mutu layanan dan akreditasi. Seluruh unsur fakultas dan program studi diharapkan bergerak bersama mengikuti roadmap universitas untuk mencapai target-target yang lebih menantang.
Sayuti juga menegaskan bahwa sebagai perguruan tinggi Muhammadiyah unggulan di wilayah barat Indonesia, UMSU harus terus menjaga konsistensi, integritas, dan keunggulannya secara berkelanjutan. Dengan fondasi ideologi yang kuat, kepemimpinan yang amanah, serta strategi yang inovatif, UMSU diyakini mampu melesat lebih jauh dan berkontribusi bagi kejayaan umat.
“Keunggulan itu harus dijaga dengan istiqamah, mulai dari kepemimpinan, sumber daya manusia, hingga budaya organisasi yang terus diperbaiki. Insyaallah, Muhammadiyah dan UMSU akan terus maju,” pungkasnya. (ghulam)






