Jumat, 25 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Mengapa Muhammadiyah Tetap Kokoh di Usia 113 Tahun?

Oleh admin • • 3 Menit Min
Mengapa Muhammadiyah Tetap Kokoh di Usia 113 Tahun?

MUHAMMADIYAH.OR.ID, JEMBER — Ketua Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Jamaludin Ahmad, menyampaikan ceramah reflektif dalam Resepsi Milad Muhammadiyah ke-113 di Masjid Nurul Huda, Ambulu, Jember, Senin malam (1/12).

Dalam pengajian yang dihadiri ratusan warga Muhammadiyah tersebut, Jamaludin mengajak jamaah mensyukuri perjalanan panjang persyarikatan yang kini memasuki abad kedua.

Mengawali tausiyah, Jamaludin menekankan kemuliaan majelis ilmu. “Majelisnya mulia, tempatnya mulia, niatnya mulia. Insyaallah kita menjadi orang-orang yang dimuliakan Allah,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh suku, jabatan, atau latar belakang, melainkan ketakwaan.

Dalam ceramahnya, Jamaludin juga memperkenalkan diri dan rekam jejak pengabdiannya di Muhammadiyah. Ia pernah berkarier di kepolisian sebagai perwira menengah, menjabat direktur di beberapa rumah sakit Muhammadiyah, serta kini menjadi BPH di Universitas Muhammadiyah Cirebon dan Rumah Sakit Muhammadiyah Bumiayu.

“Identitas saya jelas. Pernah jadi tentara, pernah jadi polisi. Sekarang mengurus cabang, ranting, dan masjid Muhammadiyah,” ujarnya berseloroh.

Di hadapan audiens, ia menyampaikan bahwa profesi seperti polisi, hakim, dan jaksa merupakan pekerjaan mulia ketika dijalankan dengan amanah. “Kalau baik, itu jalan tol ke surga. Tapi kalau sebaliknya, jalan tol ke neraka,” katanya disambut tawa jamaah.

Mengapa Muhammadiyah Tetap Kokoh di Usia 113 Tahun?

Jamaludin menguraikan empat alasan utama yang menurutnya menjadi kunci mengapa Muhammadiyah tetap bertahan lebih dari satu abad dan terus tumbuh:

Pertama, Allah masih sayang kepada Muhammadiyah. “Kalau Allah tidak ridha, mudah saja Muhammadiyah dibubarkan. Tapi Allah masih menjaga persyarikatan ini,” tegasnya.

Kedua, banyak orang ikhlas di Muhammadiyah. Ia menyinggung pengurus ranting yang sering ‘tombok’ dalam menjalankan amanah. “Pengurus Muhammadiyah dari ranting sampai PP tidak ada yang digaji. Yang digaji itu pegawai dan tenaga profesionalnya.”

Ketiga, banyak yang amanah. Jamaludin mencontohkan bantuan pemerintah yang ketika dikelola warga Muhammadiyah sering menghasilkan pembangunan jauh lebih besar dari anggaran awal karena partisipasi masyarakat.

Keempat, banyak yang mau berkorban. Ia menceritakan berbagai kisah nyata wakaf dan infak dari warga biasa hingga dermawan yang menyumbangkan tanah puluhan hektare, rumah sakit, hingga mobil mewah untuk pembangunan masjid dan sekolah.

Salah satu kisah yang menggugah perhatian jamaah adalah cerita seorang tukang servis jam di Muntilan yang menabung bertahun-tahun untuk menginfakkan Rp7 juta bagi renovasi sekolah Muhammadiyah, meskipun ia datang hanya dengan sepeda tua dan pakaian sederhana.

“Selama orang kaya mau berkorban dan orang biasa mau mengumpulkan sedikit demi sedikit untuk Allah, Muhammadiyah akan terus panjang umur,” tegas Jamaludin.

Jamaludin menegaskan bahwa amal usaha Muhammadiyah bukan hanya untuk warga persyarikatan, tetapi untuk seluruh bangsa, bahkan masyarakat nonmuslim. Ia mencontohkan pembangunan rumah sakit tujuh lantai senilai Rp190 miliar oleh PDM Sorong dan Universitas Muhammadiyah Sorong. Banyak warga nonmuslim meminta rumah sakit itu segera dibuka karena ingin dirawat di fasilitas Muhammadiyah.

Ia menambahkan bahwa banyak perguruan tinggi Muhammadiyah di kawasan timur Indonesia memiliki mayoritas mahasiswa nonmuslim. “Paling tidak, mereka tidak salah paham terhadap Muhammadiyah. Bahkan banyak yang simpati,” ujarnya.

Jamaludin menceritakan bahwa Wali Kota Jayapura adalah alumni SMP Muhammadiyah dan secara terbuka membanggakan diri sebagai “matahari yang paling terang dari Indonesia Timur”.

Mengenai keanggotaan, Jamaludin menyebut bahwa ia pernah mengusulkan agar Muhammadiyah membuka ruang bagi simpatisan nonmuslim untuk menjadi relawan resmi. “Anggota tetap harus muslim, tapi simpatisan bisa siapa saja,” katanya.

Di bidang kebencanaan, Jamaludin menegaskan reputasi Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) sebagai lembaga kemanusiaan yang diakui dunia. Ia mengenang ketika terjadi letusan gunung di Sulawesi Utara, MDMC hadir lebih dulu sebelum pemerintah dan pulang paling akhir setelah seluruh evakuasi selesai.

“Para korban di sana semuanya nonmuslim. Tapi ketika mereka sakit, Muhammadiyah yang merawat. Itulah Islam rahmatan lil ‘alamin,” ujarnya.

Ranting Harus Diperkuat

Salah satu poin yang menjadi perhatian adalah rencana perubahan AD/ART agar ranting Muhammadiyah dapat mengelola amal usaha secara formal. Jamaludin menilai banyak ranting sudah membuktikan kemampuan organisasionalnya, seperti Ranting Gunungpring yang memiliki TK, SD unggulan, SMP, hingga SMA Taruna Muhammadiyah.

“Jangan rantingnya yang dilarang punya amal usaha. AD/ART-nya yang harus kita perbaiki,” tegasnya.

Menutup ceramah, Jamaludin mengajak warga Muhammadiyah di Ambulu, Jember untuk terus berjuang dengan ikhlas, amanah, dan pengorbanan.

“Yang kaya ayo berjuang, yang biasa kumpulkan sedikit untuk fisabilillah. Siapa tahu itulah jalan tol kita menuju surga,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan