Minggu, 18 Oktober 2026
ID EN AR
ID EN AR

Menempatkan Bencana sebagai Urusan Kemanusiaan, Bukan Kepentingan Lain

Oleh ilham • • 3 Menit Min
Menempatkan Bencana sebagai Urusan Kemanusiaan, Bukan Kepentingan Lain

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA — Wakil Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mohammad Mas’udi, menegaskan pentingnya sikap keagamaan yang jernih, berorientasi kemanusiaan, dan bebas dari kepentingan non-sosial dalam merespons bencana banjir bandang dan longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra.

Hal itu disampaikannya dalam khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (19/12).

Mas’udi mengawali khutbahnya dengan menjelaskan alasan mengangkat tema bencana Sumatra dalam khutbah tersebut.

Menurutnya, setidaknya ada dua kepentingan utama. Pertama, adanya undangan mendadak dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah kepada seluruh Unit Pembantu Pimpinan (UPP), baik majelis, lembaga, badan, maupun organisasi otonom Muhammadiyah.

Ia menyebutkan bahwa terdapat 39 UPP di lingkungan PP Muhammadiyah yang diwajibkan hadir secara luring di kantor PP Muhammadiyah untuk menyatukan langkah dan pemahaman dalam merespons bencana di Sumatra.

“Undangan itu menegaskan bahwa seluruh potensi Muhammadiyah harus hadir dan bergerak bersama untuk kepentingan kebencanaan,” ujarnya.

Kepentingan kedua, lanjut Mas’udi, berkaitan dengan perannya sebagai pimpinan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Ia merasa perlu menyampaikan secara singkat pandangan Muhammadiyah tentang fikih kebencanaan, sebagaimana dirumuskan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid bersama Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).

Fokus Sosial-Kemanusiaan, Bukan Agenda Lain

Mas’udi menegaskan kembali pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, bahwa Muhammadiyah adalah organisasi sosial keagamaan. Karena itu, seluruh gerak Muhammadiyah dalam merespons bencana Sumatra harus murni diarahkan pada kepentingan kemanusiaan.

“Ketua Umum sangat mewanti-wanti agar bencana ini tidak dimasuki unsur-unsur di luar aktivitas sosial, apalagi yang nyerempet kepentingan politik,” tegasnya.

Menurutnya, Muhammadiyah memilih untuk fokus pada penanganan dan pemulihan bencana yang dampaknya diperkirakan berlangsung cukup lama, terutama di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Ia mengingatkan agar tidak muncul suara-suara yang berseberangan dengan kebijakan Muhammadiyah ketika organisasi ini sedang serius membantu masyarakat yang terdampak bencana.

Dalam perspektif fikih kebencanaan Muhammadiyah, Mas’udi menegaskan bahwa bencana merupakan ketentuan Allah SWT yang harus disikapi dengan sikap keimanan dan kepasrahan.

“Ketika bencana terjadi, maka yang harus kita ucapkan adalah inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Semua milik Allah dan kepada-Nya kita kembali,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa dalam doktrin keagamaan Muhammadiyah, bencana bukanlah kutukan atau laknat, melainkan ujian dan cobaan dari Allah yang bertujuan mengingatkan manusia, menguji keimanan, serta menyimpan kebaikan yang tidak selalu tampak di permukaan.

Mas’udi mencontohkan peristiwa tsunami Aceh, yang selain membawa penderitaan besar, juga menyimpan hikmah tersembunyi berupa terwujudnya perdamaian dan integrasi Aceh secara lebih utuh dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selain sebagai ujian iman, bencana juga harus menjadi momentum muhasabah dan introspeksi diri. Mas’udi menegaskan bahwa sebagai gerakan Islam berkemajuan, Muhammadiyah mendorong penggunaan ilmu pengetahuan untuk memahami dan memitigasi potensi bencana.

Ia membedakan antara bencana alam murni, seperti gempa bumi akibat pergerakan lempeng, dan bencana non-alam atau bencana ekologis yang dipicu oleh ulah manusia. Menurutnya, banjir bandang yang terjadi di beberapa wilayah Sumatra tidak bisa dilepaskan dari adanya kesalahan manusia.

Namun demikian, Mas’udi menegaskan bahwa Muhammadiyah saat ini memilih untuk tidak terjebak dalam perdebatan penyebab, melainkan fokus pada tanggap darurat dan pemulihan pascabencana.

“Biaya pemulihan jauh lebih besar daripada sekadar tanggap bencana. Dan di sinilah Muhammadiyah memiliki pengalaman dan kapasitas yang diakui, bahkan di tingkat dunia,” jelasnya.

Menutup khutbahnya, Mas’udi mengajak seluruh jamaah, khususnya civitas akademika UMY yang merupakan bagian tak terpisahkan dari Muhammadiyah, untuk ikut berkontribusi dalam penanganan bencana Sumatra.

Ia mengimbau jamaah memperbanyak sedekah dan donasi yang dapat disalurkan melalui Lazismu UMY untuk membantu korban bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

“Pesan Pimpinan Pusat Muhammadiyah jelas: fokus menyelesaikan bencana. Setelah itu, persoalan-persoalan lain bisa dibicarakan,” pungkasnya.

Khutbah tersebut menegaskan kembali sikap Muhammadiyah yang memandang bencana sebagai bagian dari sunatullah, sekaligus panggilan moral untuk menghadirkan aksi nyata, solidaritas, dan kepedulian kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan