Jumat, 25 September 2026
ID EN AR
ID EN AR
Home > Berita

Memaknai Musibah sebagai Ujian dan Kasih Sayang Allah

Oleh admin • • 3 Menit Min
Memaknai Musibah sebagai Ujian dan Kasih Sayang Allah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, YOGYAKARTA – Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Fajar Rachmadani, mengajak umat Islam untuk memaknai musibah sebagai bagian dari keniscayaan hidup dan bentuk kasih sayang Allah.

Hal itu ia sampaikan dalam tausyiahnya di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) pada Ahad (30/11), menyikapi rentetan bencana alam yang menimpa sejumlah daerah di Sumatera beberapa hari terakhir.

Dalam pembukaannya, Fajar menyinggung duka mendalam masyarakat di Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan wilayah lain di Sumatera yang dilanda banjir bandang, tanah longsor, dan berbagai bencana lain. Ia menyebut, banyak warga yang kehilangan harta, rumah, bahkan anggota keluarga.

“Kita berdoa semoga saudara-saudara kita diberi kesabaran, ketabahan, dan diganti oleh Allah dengan yang terbaik. Mudah-mudahan mereka diteguhkan imannya,” ujar Fajar.

Ujian Hidup adalah Keniscayaan

Dalam ceramahnya, Fajar menegaskan bahwa Al-Qur’an telah berulang kali menyatakan manusia pasti akan diuji. Ia mengutip Surat Al-Mulk ayat 2, serta Al-Baqarah 155–157 yang menegaskan kepastian ujian seperti ketakutan, kelaparan, berkurangnya harta, jiwa, dan hasil bumi.

“Selama nyawa masih dikandung badan, kita pasti diuji. Tidak ada manusia yang baik-baik saja,” ujarnya.

Menurutnya, yang membedakan orang beriman dan tidak beriman bukan pada ada-tidaknya ujian, melainkan cara pandangnya. Orang beriman melihat ujian sebagai pengangkat derajat dan bentuk cinta Allah terhadap hamba-Nya. Ia mengutip sabda Nabi SAW: “Innallaha idza ahabba qawman ibtalahum”—Allah bila mencintai suatu kaum, maka Dia menguji mereka.

Fajar juga menyinggung hadis populer: “Ajaban li amril mu’min…” bahwa semua urusan orang beriman akan selalu berujung pada kebaikan. Baik saat diuji dengan kesenangan maupun kesusahan, seorang mukmin akan tetap bersyukur atau bersabar.

Bahkan, ujarnya, pahala sabar adalah pahala istimewa yang tidak terhitung: “Innama yuwaffa ash-shabiruna ajrahum bighairi hisab.”

Ia mengingatkan bahwa banyak orang justru goyah ketika diuji dengan nikmat kesenangan, seperti Qarun yang “lupa diri” ketika mendapatkan kelimpahan harta.

Mengutip pemikiran Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin, Fajar menyampaikan bahwa ada tingkatan orang beriman yang tidak hanya bersabar, tetapi juga bersyukur ketika diuji.

Ada beberapa alasan mengapa ujian layak disyukuri:

Pertama, ujian yang kita terima masih lebih ringan daripada yang mungkin Allah tetapkan. “Kalau kita sedang batuk pilek, itu masih ringan. Allah mampu memberi ujian yang jauh lebih berat.”

Kedua, ujian itu tidak menimpa agama, melainkan urusan dunia. Menurut Fajar, musibah terbesar justru ketika seseorang kehilangan sensitivitas beragama—tidak lagi merasa berdosa saat meninggalkan kewajiban atau melakukan kemaksiatan.

Ketiga, ujian dunia bersifat sementara, berbeda dengan azab akhirat yang kekal. Ia mengutip hadis Muslim bahwa setiap penderitaan orang beriman menjadi kafarah, penghapus dosa, bahkan sekadar tertusuk duri.

Keempat, semua sudah tertulis dalam Lauh Mahfuz, dan apa yang Allah takdirkan adalah yang terbaik untuk manusia. “Apa yang terjadi pada diri kita adalah versi terbaik menurut Allah,” tegasnya.

Fajar kemudian menyinggung persoalan sosial psikologis generasi masa kini, khususnya Generasi Z, yang menurut berbagai data memiliki tingkat kecemasan lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya.

Ia menilai pola asuh yang terlalu memanjakan anak menyebabkan mereka tidak siap menghadapi kegagalan kecil.

“Dulu anak nangis minta mainan tidak selalu dituruti. Itu mengajarkan bahwa tidak semua keinginan bisa terwujud. Sekarang, baru satu harapan tak tercapai, rasanya sudah ingin mengakhiri hidup,” ujarnya.

Menutup tausyiahnya, Fajar kembali menegaskan pentingnya membangun cara pandang yang lurus terhadap takdir dan cobaan.

Ia mengingatkan ayat “La yukallifullahu nafsan illa wus’aha” serta “Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal itu baik bagimu…”, sebagai dasar bahwa semua ketetapan Allah mengandung hikmah.

“Orang beriman yakin bahwa apa yang Allah tetapkan untuknya, baik ia suka atau tidak, adalah yang terbaik. Ujian itu bentuk perhatian Allah. Justru ketika Allah tidak lagi menegur, itulah musibah paling besar,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan